Rabu, 20 Oktober 21

Dulu Ditampar, Kini Presiden Perancis Dilempari Telur Saat Kunjungan

Dulu Ditampar, Kini Presiden Perancis Dilempari Telur Saat Kunjungan
* Presiden Macron di acara kunjungan saat dilempari telur. (CNN)

Dulu pada bulan Juni lalu, saat kunjungan Presiden Perancis Emmanuel Macron pernah ditampar di pipinya oleh orang. Kini, Presiden Perancis itu dilempari telur oleh orang saat orang nomor satu di Perancis itu kunjungan juga.

Seorang pria melempar Presiden Perancis Emmanuel Macron dengan telur saat berkunjung dalam pameran restoran dan hotel di bagian selatan Kota Lyon, Senin (27/9/2021).

Telur tersebut mengenai pundak Macron, namun hanya memantul dan tidak sampai pecah.

Pria pelempar telur itu pun segera dibekuk dan dikeluarkan dari ruangan. Macron pun mengatakan akan bicara dengan pria tersebut.

“Jika ada sesuatu yang ingin dikatakan kepada saya, biarkan ia menemui saya,” ujar Macron di sela-sela kunjungannya di Pameran Katering, Hotel, dan Makanan di Lyon, dikutip dari AFP.

Pelemparan telur itu jadi gangguan yang cukup mengejutkan di tengah sambutan hangat para pengunjung ekspo atas kedatangan Macron. Padahal, belum selesai saat ia mengumumkan pemberian tips melalui kartu kredit tak dipotong pajak.

Namun, Macron tampaknya bukan pengecualian bagi para pemrotes yang biasa melempar telur kepada para politikus di Prancis.

Pelemparan telur pernah menimpa Macron ketika ia masih menjadi kandidat Presiden Prancis. Ketika itu telur mendarat dan pecah di kepalanya saat kunjungan pada pameran pertanian di Paris.

Sebelumnya, Macron juga pernah ditampar oleh seseorang saat berjabat tangan dengan pendukugnya di kota bagian selatan Prancis, Valence, pada Juni. Pasukan keamanan langsung bergerak cepat untuk menangani pria itu.

Dikutip dari Reuters, Perdana Menteri Prancis Jean Castex menyebut penyerangan itu merupakan penghinaan terhadap demokrasi.

Insiden terjadi ketika Macron tengah dalam kunjungan ke wilayah Drome di Prancis bagian tenggara. Di sana dia bertemu dengan pemilik restoran dan siswa untuk bicara tentang kehidupan normal usai pandemi Covid-19.

Pria penampar Macron, Damien Tarel, akhirnya dijatuhi hukuman kurungan selama empat bulan.

Dalam pembacaan putusan pada 10 Juni, hakim menyatakan menerima rekomendasi dari jaksa untuk membui Tarel selama 18 bulan. Namun menurutnya, empat bulan tahanan juga sudah cukup.

Presiden Perancis Ditampar: Karena Dianggap Tukang Bohong
Damien Tarel (28), pelaku penampar Presiden Prancis Emmanuel Macron, mengungkap alasan melakukan penamparan. Alasan Tarel sederhana, sebab Macron dinilai kesal karena Macron dianggap pembohong.

Ia mengaku tidak merencanakan menampar Macron, emosi Damien Tarel terpicu karena melihat wajah Macron yang “bersahabat” tapi mengandung kebohongan.

“Ketika saya melihat wajah berbohongnya yang bersahabat, yang melihat saya sebagai seorang pemilih, saya merasa jijik,” ujar Tarel seperti dikutip BBC, Minggu (13/6/2021).

“Saya bertindak secara instingtif,” ucapnya.

Tarel juga merupakan bagian dari gilets jaunes (rompi kuning) yang sempat berdemo massal melawan kepresidenan Macron. Kubu politik Macron berhasil melalui dari gelombang protes tersebut.

Presiden Macron sudah angkat bicara mengenai insiden penamparan yang terjadi. Ia berkata masyarakat sudah berbeda.

“Ada momen-momen ketegangan tinggi dan kekerasan di negara kita yang telah saya alamat sebagai presiden selama krisis gilets jaunes, tetapi masyarakat hari ini adalah tempat yang berbeda,” ujar Macron yang menyerahkan kasus ini ke pihak hukum.

Pelaku penamparan Presiden Prancis Emmanuel Macron mendapat hukuman penjara. Ia tidak dipenjara hingga bertahun-tahun, melainkan hanya empat bulan.

Pelaku adalah seorang milenial muda bernama Damien Tarel (28). Ia menampar Presiden Macron ketika sang presiden menyapa pendukungnya di daerah selatan Prancis.

Menurut laporan BBC, Minggu (13/6), jaksa di Prancis awalnya menuntut 18 bulan penjara karena pelaku menyerang pejabat publik.

Tiga hakim akhirnya memutuskan bahwa Tarel mendapat hukuman 18 bulan, akan tetapi ia hanya menjalani 4 bulan saja. Sisa 14 bulan akan diberikan bila ia melakukan kejahatan lagi.

Saat menyerang Presiden Macron, Tarel berteriak “Montjoie Saint-Denis” dan “A bas la macronie” (Lengserkan Macronisme).

Montjoie Saint Denis adalah teriakan perang dari abad pertengahan Prancis.

Ada juga pelaku kedua yang memfilmkan insiden tersebut. Ketika rumahnya digeledah, ia memiliki senjata ilegal. Damien Tarel dan pelaku nomor dua berasal dari kota yang sama. (*/CNN/Red/

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.