Kamis, 6 Oktober 22

Duh, Dampak BBM Subsidi Naik, Inflasi 1,5%

Duh, Dampak BBM Subsidi Naik, Inflasi 1,5%

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan besaran Indeks Harga Konsumen (IHK) November 2014 mengalami inflasi sebesar 1,50 persen. Angka ini terbilang masih cukup terkendali meski terjadi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi.

Kepala BPS Suryamin mengatakan dibandingkan dengan inflasi pada Juni 2013 lalu, di mana pemerintah juga menaikkan harga BBM bersubsidi, inflasi November menunjukkan waktu yang diambil pemerintah tepat.

“November biasanya deflasi, maka inflasi pun sedikit. November belum kena dampak seluruh hari. Harga 12 hari terakhir saja yang harga baru. 18 hari pertama masih harga Rp 6.500 (premium). Ini menunjukkan timing kenaikan harga BBM penting diperhatikan, terbukti inflasi November 2014 rendah,” kata Suryamin dalam paparannya, Senin (1/12/2014).

Sementara itu, untuk Inflasi tahun kalender mencapai 5,75 persen. Secara year on year (YoY) inflasi mencapai 6,23 persen. Sedangkan untuk inflasi komponen inti November sebesar 0,40 persen. Secara YoY, inflasi komponen inti mencapai 4,21 persen.

“Dari 82 kota IHK diamati, 82 kota semuanya mengalami inflasi, karena dampak kenaikan BBM subsidi. Yang tertinggi di Padang sebesar 3,44 persen, terendah di Manokwari 0,7 persen,” bebernya.

Menurut kelompok pengeluaran, inflasi bahan makanan pada November 2014 tercatat cukup tinggi sebesar 2,15 persen. Bahkan lanjut Suryamin, inflasi tahun kalender untuk kelompok bahan makanan tercatat mencapai 7,12 persen, sedangkan inflasi bahan makanan dari tahun ke tahun (YoY) sebesar 7,97 persen.

“Ini walaupun menghasilkan inflasi 1,5 persen (cukup rendah), tapi komoditi bahan makanan harus hati-hati,” lanjut dia.

Inflasi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau pada November 2014 tercatat 0,71 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,49 persen, kelompok kesehatan inflasi 0,43 persen. Sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga inflasi 0,08 persen.

“Kelompok sandang mengalami deflasi 0,08 persen karena harga emas perhiasan (turun). Kelompok tranportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami inflasi 4,29 persen, biaya ATM yang juga sudah berdampak,” pungkas Suryamin.

Related posts