Rabu, 20 November 19

Duet Jokowi-Ma’ruf Amin Pimpin Indonesia Periode 2019-2024

Duet Jokowi-Ma’ruf Amin Pimpin Indonesia Periode 2019-2024
* Foto resmi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2019-2024. (Foto: Setneg)

Jakarta, Obsessionnews.com –Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mengagendakan pelantikan Joko Widodo (Jokowi) dan Ma’ruf Amin sebagai Presiden RI dan Wakil Presiden periode 2019-2024 di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Minggu, 20 Oktober 2019, pukul 14.30 WIB.

Jokowi meraih prestasi cemerlang di pentas politik. Ia pertama kali terpilih sebagai Presiden RI pada Pilpres 2014. Saat itu Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK) mengalahkan duet Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Kemudian pada Pilpres 2019 Jokowi maju lagi sebagai calon presiden (capres). Kali ini ia menggandeng Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden (cawapres). Pada Pilpres 2019 Jokowi-Ma’ruf berhadapan dengan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Jokowi-Ma’ruf bernomor urut 01, sedangkan Prabowo bernomor urut 02.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan hasil Pilpres pada Selasa (21/5/2019) dini hari. Jokowi-Ma’ruf memenangkan pesta demokrasi itu dengan meraih 85.607.362 suara atau 55,5 persen, sementara Prabowo-Sandi memperoleh 68.650.239 suara atau 44,5 persen.

Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) – Ma’ruf Amin menyampaikan pidato kemenangannya di Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/2019). (Foto: Edwin B/OMG)

Namun, hasil tersebut tidak memuaskan Prabowo-Sandi. Mereka menggugat hasil Pilpres itu ke Mahkamah Konstitusi. Sayangnya, upaya Prabowo-Sandi tidak berbuah manis. MK dalam putusannya menolak seluruh permohonan gugatan yang diajukan Prabowo-Sandiaga melalui tim hukumnya.

“Mengadili, menyatakan, dalam eksepsi menolak eksepsi termohon dan pihak terkait untuk seluruhnya. Dalam pokok permohonan: menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya,” ujar Ketua MK Anwar Usman membacakan amar putusan dalam sidang gugatan hasil Pilpres di gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (27/6/2019) malam.

Putusan ini sekaligus menguatkan keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Prestasi Jokowi terpilih untuk kedua kalinya sebagai Presiden menyamai prestasi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pada Pilpres 2004, yang merupakan pemilihan presiden dan wakil presiden yang pertama kali langsung dipilih oleh rakyat, SBY terpilih menjadi Pesiden RI periode 2004-2009. Saat itu SBY berpasangan dengan JK. Kemudian SBY kembali menduduki kursi RI-1 pada Pilpres 2009 untuk periode 2009-2014. Kala itu SBY berduet dengan Boediono.

Jokowi Didukung Ulama

Pengamat politik dari President University Muhammad AS Hikam mengatakan, kemenangan pasangan calon (paslon) 01 sangat ditentukan oleh keberhasilan Jokowi dalam masa bakti satu dalam pembangunan ekonomi, khususnya infrastrukrur.

“Yang kedua adalah karena penantangnya, paslon 02, masih belum mampu memberikan alternatif yang menarik (appealing) bagi pemilih potensial. khususnya kaum milenial yang merupakan mayoritas,” tutur Hikam ketika dihubungi obsessionnews.com, Rabu (19/6/2019).

Ia mengungkapkan, peran ulama khususnya dari Nahdlatul Ulama (NU) cukup signifikan, karena berhasil menyatukan suara nahdliyyin yang solid mendukung Jokowi-Ma’ruf.

“Memang ada kantong-kantong NU yang mendukung 02, tetapi tak terlalu signifikan,” tandas Hikam.

Dari Wali Kota Menjadi Presiden

Jokowi dilahirkan di Solo, 21 Juni 1961. Ia lulusan Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tahun 1985. Ia mengawali kariernya sebagai pengusaha mebel. Di kala bisnis mebelnya bersinar Jokowi kemudian terjun ke dunia politik. Ia memilih bergabung dengan PDI-P.

Partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu menugasi Jokowi berkompetisi pada Pemilihan Wali Kota Solo pada 2005. Peluang itu tak disia-siakannya. Jokowi terpilih menjadi Wali Kota Solo periode 2005-2010.

Warga merasa puas dengan kepemimpinan Jokowi, dan memilihnya kembali untuk jabatan periode kedua, yakni 2010-2015.

Belum selesai jabatannya di periode kedua PDI-P memberi tugas kepada Jokowi sebagai calon gubernur untuk berlaga di Pilkada DKI Jakarta 2012. Saat itu Jokowi yang berpasangan dengan kader Partai Gerindra Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) secara mengejutkan mengalahkan Gubernur petahana DKI Fauzi Bowo yang berduet dengan Ketua DPD Partai Demokrat Nachrowi Romli. Jokowi-Ahok dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI periode 2012-2017.

Belum genap dua tahun menjabat Gubernur DKI, Jokowi diusung PDI-P, PKB, Hanura, dan Nasdem bertarung di Pilpres 2014. Jokowi menggandeng politisi Golkar dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Jokowi-JK berhadapan dengan pendiri Partai Gerindra Prabowo Subianto yang berpasangan dengan Ketua Umum DPP PAN Hatta Rajasa.

Pilpres dilaksanakan pada 9 Juli 2014. Selanjutnya pada 22 Juli 2014 Komisi Pemilihan Umum (KPU mengumumkan Jokowi-JK memenangkan Pilpres dengan meraih suara 70.997.833 suara atau 53,15%, sedangkan Prabowo-Hatta mendapat 62.576.444 suara (46,85%).

Jokowi dan JK dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden masa bakti 2014-2019 di Gedung DPR/MPR, Senin, 20 Oktober 2014.

Piawai Berpolitik

Sejumlah pihak pesimis Jokowi-JK tak akan mampu menyelesaikan tugasnya hingga 2019. Pasalnya mereka mudah digoyang oleh kubu oposisi yang menguasai parlemen. Diprediksi akan dijatuhkan oleh kubu oposisi dan hanya dua tahun menduduki kursi RI-1.

Kubu oposisi tersebut terdiri dari Gerindra, PAN, PKS, PPP, Golkar, dan Demokrat. Gerindra memiliki 71 kursi DPR atau 11,74% dari total 560 kursi DPR, PAN 49 kursi DPR (7,59%), PKS 40 kursi DPR (6,79%), PPP 39 kursi DPR 39 kursi (6,53%), Golkar 91 kursi DPR (14,74%), dan Demokrat 61 (10,19%). Kubu oposisi memiliki 353 kursi DPR (60,03%)

Sementara itu kubu pendukung Jokowi memiliki 207 kursi DPR atau 39,97% dari total 560 kursi DPR. PDI-P memiliki 109 kursi DPR (18,95%), PKB 47 kursi DPR (9,04%), Nasdem 35 kursi DPR (6,72%), dan Hanura 16 (5,26%).

Jokowi membentuk Kabinet Kerja pada Senin, 27 Oktober 2014. Berkat kepiawaiannya berpolitik dalam hitungan satu setengah tahun Jokowi berhasil menaklukkan kubu oposisi. Yang pertama bergabung dengan kubu Jokowi adalah PPP. Kader partai berlambang Kabah ini, Lukman Hakim Saifuddin, mendapat jatah sebagai Menteri Agama pada awal pembentukan Kabinet Kerja.

Selanjutnya Jokowi berhasil merangkul Golkar. Kader partai berlambang pohon beringin ini, Airlangga Hartarto, dilantik sebagai Menteri Perindustrian pada 27 Juli 2016.

Jokowi juga berhasil menggiring PAN masuk ke barisannya. PAN mendapat jatah satu menteri, yakni Asman Abnur, yang dilantik sebagai Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi pada 27 Juli 2016. Namun, pada 2018 Asman mengundurkan diri, karena partainya mendukung Prabowo-Sandi. Kursi menteri yang ditinggalkan Asman kemudian diduduki oleh Komisaris Jenderal Pol Syafruddin.

Manuver lain yang dilakukan Jokowi adalah kembali memberi jatah satu menteri kepada Golkar, pemenang kedua Pemilu 2014. Kader Golkar Idrus Marham ditunjuk sebagai Menteri Sosial pada 17 Januari 2018. Namun, pada  24 Agustus 2018 Idrus mengundurkan diri karena menjadi tersangka dugaan korupsi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau 1. Idrus digantikan kader Golkar Agus Gumiwang Kartasasmita.

Dengan demikian Jokowi berhasil menguasai DPR. Dukungan besar dari parlemen sangat penting bagi Jokowi untuk melaksanakan tugasnya.

Ini menunjukkan Jokowi piawai berpolitik.

Berduet dengan Ulama Karismatik

Jokowi kembali maju sebagai capres pada Pilpres 2019. Kali ini ia berduet dengan ulama karismatik yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin. Jokowi-Ma’ruf diusung PDI-P, Golkar, Nasdem, PPP, PKB, Hanura, dan PKP Indonesia. Jokowi-Ma’ruf mendapat nomor urut 01.

Sementara itu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berpasangan dengan Wakil Ketua Umum Gerindra Sandiaga Uno. Prabowo-Sandi diusung Gerindra, PKS, PAN, dan Partai Demokrat. Prabowo-Sandi bernomor urut 02.

Jokowi-Ma’ruf berhasil memenangkan Pilpres 2019. Mereka mendapat amanah memimpin Indonesia periode 2019-2024. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.