Senin, 4 Juli 22

Dua Pentolan Bertemu, Turki – Saudi Mau Buka Kerja Sama Baru

Dua Pentolan Bertemu, Turki – Saudi Mau Buka Kerja Sama Baru
* Presiden Erdogan menyambut Pangeran Mohammed bin Salman di Ankara. (RTR/BBC)

Dua pentolan negara Turki dan Arab Saudi, Presiden Erdogan dan Pangeran Mohammed bin Salman bertemu, dua negara tersebut segera membuka periode kerja sama baru.

Turki dan Arab Saudi mengatakan kedua negara ingin membuka periode kerja sama baru, setelah ketegangan hubungan selama beberapa tahun, yang disebabkan kasus pembunuhan wartawan Saudi, Jamal Khashoggi.

Pernyataan ini dikeluarkan oleh Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman atau kerap disingkat MBS dan Presiden Recep Tayyip Erdogan dalam pertemuan di Ankara. MBS mengunjungi Turki untuk kali pertama sejak pembunuhan Khashoggi di Konsulat Saudi di Istanbul pada 2018 lalu.

Dalam kunjungan pada Rabu (22/6/2022), MBS berjanji memudahkan perdagangan antara kedua negara.

Presiden Erdogan sempat secara tidak langsung menuduh MBS memerintahkan agen-agen intelijen Saudi membunuh Khashoggi. Namun, MBS membantah terlibat dalam insiden tersebut.

Kunjungan MBS berlangsung ketika Turki sedang berupaya meningkatkan nilai perdagangan, investasi, dan bantuan guna menangani krisis ekonomi yang memburuk.

Dalam upayanya itu, Turki juga tengah memperbaiki hubungan dengan Uni Emirat Arab, Mesir, dan Israel setelah bertahun-tahun mengalami ketegangan.

Bagi MBS, kunjungan ke Turki ditengarai bertujuan mengakhiri keterkungkungan dari hubungan internasional.

Selain ke Turki, MBS juga akan menyambangi Yordania dan Mesir dalam tur Timur Tengah. Bulan depan, dia pun akan bertemu Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, yang pada 2019 bertekad membuat Arab Saudi negara “pariah sebagaimana adanya” setelah wartawan Jamal Khashoggi dibunuh.

Khashoggi, seorang kolumnis harian Washington Post dan pengritik Pangeran Mohammed bin Salman, terakhir kali terlihat memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober 2018 guna memperoleh dokumen-dokumen untuk menikahi tunangannya, Hatice Cengiz.

Seorang penyelidik PBB menyimpulkan Khashoggi “dibantai secara brutal” dan tubuhnya dimutilasi oleh sebuah tim berisi 15 agen Saudi yang dikirim dari Riyadh. Sang penyelidik membuat kesimpulan itu setelah mengumpulkan bukti-bukti, antara lain rekaman audio percakapan di dalam konsulat yang didapatkan intelijen Turki.

Walau Erdogan tidak secara eksplisit menuduh Pangeran Mohammed bin Salman, dia mengklaim mengetahui perintah pembunuhan Khashoggi “datang dari level tertinggi dalam pemerintah Saudi”.

Sejumlah badan intelijen AS menyimpulkan putra mahkota Kerajaan Saudi itu menyetujui operasi penangkapan atau pembunuhan Khashoggi.

Para jaksa Saudi menyalahkan agen-agen “tak jujur” sehingga MBS tidak mengetahui operasi tersebut.

Satu tahun setelah pembunuhan terjadi, pengadilan Saudi menjatuhkan vonis terhadap lima orang yang tidak disebutkan identitasnya. Kelima orang itu diputuskan bersalah dan dihukum mati atas keterlibatan langsung pembunuhan Khashoggi.

Hukuman tersebut kemudian diubah menjadi hukuman penjara selama 20 tahun. Adapun tiga orang lainnya dipenjara selama tujuh hingga 10 tahun karena menutupi kejahatan itu.

Pekan lalu, Presiden Erdogan mengatakan pembicaraannya dengan Pangeran Mohammed di Ankara akan berfokus pada peningkatan hubungan kedua negara “pada taraf lebih tinggi”.

Seorang pejabat senior Turki berkata kepada kantor berita Reuters bahwa kunjungan itu diharapkan mendatangkan “normalisasi sepenuhnya dan restorasi sebelum periode krisis. Kedua pemimpin dijadwalkan menandatangani kerja sama di bidang energi, ekonomi, dan keamanan.

Tunangan Khashoggi, Hatice Cengiz mengecam keputusan Turki menyambut Pangeran MBS seraya berjanji meneruskan perjuangannya mencari keadilan.

“Legitimasi politik yang dia [MBS] dapatkan melalui kunjungan ke negara berbeda setiap hari tidak mengubah fakta bahwa dia adalah pembunuh,” cuit Cengiz.

Akan tetapi, Kemal Kilicdaroglu selaku pimpinan kubu oposisi Partai Rakyat Republik (CHP), mengritik Erdogan karena mengundang Pangeran MBS dan memilih “mendekap pria yang memerintahkan pembunuhan” Khashoggi.

Pada April lalu, Erdogan bertandang ke Arab Saudi dan mendekap Pangeran MBS di hadapan publik. Dalam lawatan itu, Erdogan menyebut kedua negara memasuki “periode baru kerja sama”.

Kunjungan Pangeran MBS dilakukan tiga pekan setelah pengadilan di Istanbul menghentikan persidangan terhadap 26 warga Saudi secara absentia, termasuk dua ajudan Pangeran MBS yang dituduh terkait pembunuhan Khashoggi.

Hakim mengatakan kasus itu akan diserahkan ke aparat yudisial di Arab Saudi, yang menolak mengekstradisi para tersangka ke Turki.

Langkah tersebut dikecam para aktivis HAM yang menyebutnya sebagai pemutihan kasus tersebut. (Red)

Sumber: BBC News

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.