Minggu, 26 Juni 22

Dua Pekan Layani Jemaah Haji Indonesia, Ketepatan Waktu Mendarat Capai 80,08 Persen

Dua Pekan Layani Jemaah Haji Indonesia, Ketepatan Waktu Mendarat Capai 80,08 Persen
* Sejumlah jemaah haji asal Indonesia tiba di Makkah setelah menempuh perjalanan dari Madinah, Rabu (1/8/2018). (Foto: Kemenag)

Makkah  – Rerata waktu kedatangan pesawat yang mengangkut jemaah haji asal Indonesia tak meleset dari waktu yang dijadwalkan. Selama 15 hari kedatangan sejak 17 Juli 2018 hingga Rabu (1/8), dua maskapai yang mengangkut jemaah Indonesia, Garuda Indonesia dan Saudi Arabian Airlines, mayoritas mendarat tepat waktu.

Seperti dilaporkan tim Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja Bandara, hal itu terlihat dari On Time Performance (OTP) yang tercatat Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Daker Bandara.

“Pengukuran OTP menggunakan tiga kategori. Pertama kategori on time, kedua lebih cepat dari satu jam, dan berikutnya lebih lambat. Sedangkan ukuran lebih lambat dibagi lagi ke dalam tiga level. Ada tingkat keterlambatan satu-empat jam, terlambat empat-enam jam, dan delay lebih dari enam jam,” kata Kepala Seksi MCH Daker Bandara Abdul Basir yang juga bertugas menangani data-data tersebut, Kamis (2/8) pagi waktu Saudi.

Ia memaparkan, Garuda Indonesia yang telah memberangkatkan 119 kloter tercatat memiliki ketapatan waktu 94,96 persen (132 penerbangan), mendarat setidaknya satu jam lebih cepat dari jadwal 1,44  persen (dua penerbangan), dan mengalami keterlambatan mendarat antara satu hingga empat  jam sebesar 3,6 persen (lima penerbangan).

Sedangkan Saudi Arabian Airlines membukukan OTP sebesar 62,39 persen (73 penerbangan). Meski begitu, mereka juga mencatat pendaratan lebih cepat dari jadwal 35,9 persen (42 penerbangan), dan keterlambatan hanya 1,71  persen (dua penerbangan). Saudi Arabian Airlines telah melayani 99 kloter dari lima embarkasi.

Bila dihitung secara rata-rata maka dari kedua maskapai tersebut mengalami OTP 80,08 persen atau setara dengan 205 penerbangan. Mendarat lebih cepat dari jadwal 17,19 persen yang sama dengan 44 penerbangan, dan ada 7 penerbangan yang terlambat mendarat atau hanya 2,73 persen.

Kondisi seperti itu tak jarang membuat dua kloter jemaah keluar berbarengan dari dua gerbang kedatangan berbeda. Seperti kloter dari Embarkasi Batam dan Embarkasi Medan yang keluar bersamaan melalui Gerbang B dan Gerbang D Bandara Jeddah, Rabu (1/8) kemarin.

Dalam kejadian seperti itu, petugas bandara biasanya langsung dipecah dalam dua kekuatan. “Petugas kesehatan yang disiapkan menyambut masing-masing kloter biasanya hanya dua saja, satu dokter dan satu perawat,” kata Kordinator Tim Mobile Kesehatan Daker Bandara, Rachmawanti Agustina. (Sumber: Kemenag)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.