Sabtu, 4 Desember 21

DPD RI Apreasi Ketegasan Pemerintah Eksekusi Mati Terpidana Narkoba

DPD RI Apreasi Ketegasan Pemerintah Eksekusi Mati Terpidana Narkoba
* Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Fahira Idris

Jakarta, Obsessionnews – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari daerah pemilihan (dapil) DKI Jakarta Fahira Idris mengapresiasi ketegasan pemerintah mengeksekusi delapan terpidana pengedar narkoba. (Baca: Delapan Terpidana Mati Dieksekusi, Mary Jane Ditunda)

“Ini langkah yang memang harus kita tempuh. Negara kita ini sudah darurat narkoba. Kita bukan lagi negara tujuan narkoba tapi sudah menjadi negara produsen narkoba. Bahkan para mafia narkoba tanpa rasa takut sempat mendirikan pabrik narkoba terbesar di dunia di Indonesia,” kata Fahira ketika dihubungi obsessionnews.com, Rabu (29/4/2015).

Menurut Wakil Ketua Komite III DPD ini, narkoba sudah menjadi mesin pembunuh massal di negeri ini. Tiap hari ada saja orang meregang nyawa akibat narkoba. Narkoba itu kejahatan luar biasa, kejahatan kemanusian, sehingga pemberantasannya juga harus ekstra dan luar biasa juga.

Fahira mengakui, hukuman mati tidak serta merta membuat masalah narkoba selesai di negeri ini.

“Tetapi ini adalah sinyal untuk para mafia narkoba, bahwa jangan lagi berani mengedarkan, apalagi memproduksi narkoba di negeri ini. Hukuman mati sebagai isyarat bahwa bangsa ini perang total dengan narkoba. Coba lihat singapura, dari dulu mereka tidak ada ampun dengan konsumsi apalagi peredaran narkoba. Dan lihat hasilnya sekarang Singapura relatif bersih dari narkoba. Dan saat ini, lewat hukuman mati dan tentunya tindakan preventif lainnya, Indonesia saya yakin bisa menang melawan narkoba,” ujar senator ini.

Terkait tekanan negara yang warganya dieksekusi antara lain Brasil, Australia, dan Perancis, Fahira mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Hak mereka memprotes dan hak kita juga mempertahankan kedaulatan hukum kita. Itu hukum positif kita, negara manapun atau kekuatan besar apapun tidak ada yg bisa mengintervensi. Sudah saatnya kita tunjukkan ke dunia bahwa Indonesia bangsa besar dan punya komitmen tegas melindungi rakyatnya dari kejahatan luar biasa narkoba,” tuturnya.

Fahira menegaskan, tidak ada kompromi buat narkoba di negeri ini. Indonesia tetap akan bisa jadi negara besar dan maju walau sekiranya nanti Australia, Brasil, ataupun Perancis memutuskan hubungan diplomatik.

“Namun menurut hemat saya mereka tidak akan berani memutuskan hubungan diplomatik dengan Indonesia. Ingat, indonesia pangsa pasar terbesar di dunia dan negara lain berlomba-lomba ingin menjalin kemitraan dengan kita,” tandasnya

Seperti diketahui delapan terpidana mati telah dieksekusi mati secara serentak di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2015) pukul 00.25 WIB. Mereka adalah Myuran Sukumaran dan Andrew Chan (Australia), Martin Anderson (Ghana), Raheem A Salami, Sylvester Obiekwe, dan Okwudili Oyatanze (Nigeria), Rodrigo Gularte (Brasil), serta Zainal Abidin (Indonesia).

Sementara itu, Kejaksaan Agung menunda eksekusi terhadap terpidana mati asal Filipina, Mary Jane. Penundaan dilakukan karena Pemerintah Filipina membutuhkan kesaksian Mary Jane setelah tersangka perekrut Mary Jane, Maria Kristina Sergio, menyerahkan diri kepada kepolisian Filipina kemarin, Selasa (28/4). (Arif RH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.