Rabu, 23 September 20

DPD Penentu Kemenangan Zulkifli Hasan

DPD Penentu Kemenangan Zulkifli Hasan

Jakarta – Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang terdiri‎ dari partai pendukung Joko Widodo-Jusuf Kalla harus menerima pil pahit atas kekalahan kedua kalinya merebut kursi pimpinan di parlemen. Mereka seolah tidak berdaya ketika politisi Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan yang diajukan oleh Koalisi Merah Putih (KMP) tampil sebagai pemenang Ketua MPR.

Zulkifli diajukan oleh ‎KMP, bersama empat orang calon wakil ketua MPR, yakni Mahyudin dari Partai Golkar, EE Mangindaan, Partai Demokrat, Hidayat Nur Wahid, Partai PKS dan Oesman Sapta dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD). ‎Mereka tergabung dalam paket B sesuai dengan kesepakatan sidang paripurna MPR.

Sementara itu, KIH ‎mengajukan anggota DPD Oesman Sapta menjadi calon ketua MPR, didampingi empat calon wakil ketua, yakni Ahmad Basarah dari Partai PDI-P, Imam Nachrawi Partai PKB, Patrice Rio Capella, Partai Nasdem dan Hasrul Azwar dari Partai PPP. Mereka tergabung dalam paket A.

Berhubung dalam pemilihan pimpinan MPR ini hanya ada dua paket “A” dan “B”, maka pimpinan sidang sementara paripurna MPR yang diketuai oleh ‎Maimanah Umar memutuskan, agar pemilihan pimpinan MPR dilakukan secara voting bukan musyawarah untuk mufakat. Peserta sidang yang hadir diminta untuk memilih dengan menulis paket mana yang dinginkan.

Jika dihitung secara logika matematis, mestinya paket A yang tergabung dalam barisan Koalisi Indonesia Hebat mampu memenangkan pimpinan MPR. Pasalnya mereka sudah sepakat menyerahkan kursi Ketua MPR kepada Oesman Sapta dari DPD.

Sementara Oesman sendiri adalah calon tunggal dari DPD. Ia mendapatkan 67 suara ‎dari 122 anggota DPD yang hadir saat voting dilakukan. Jika seluruh DPD sepakat mendukung Oesman sebagai Ketua MPR, maka secara hitungan kertas KIH menang. Pasalnya, PPP sudah menyatakan diri untuk bergabung bersama KIH, jika kekuatan itu bisa ditambah lagi dari DPD maka KIH bisa mendapatkan 379 suara. Sedangkan KMP hanya mendapatkan 313 suara.

Namun sayang, logika politik tidak seperti logika matematik, dengan sama-sama dicalonkanya Oesman di dua kubu yang bersaing. Maka secara otomatis suara DPD terpecah. Padahal, suara DPD bisa menjadi kemenangan kedua belah belah pihak dan sekaligus menjadi penentu dari kemenangan Zulkfili Hasan.

Ini lah yang menjadi alasan kenapa paket A yang diajukan KIH kalah. Anggota Fraksi PDI Perjuangan Trimedya Panjaitan mengatakan, kekalahan Koalisi Indonesia Hebat disebabkan karena dalam pemilihan tersebut DPD tidak Solid untuk mendukung‎ anggotanya Oesman Sapta sebagai ketua MPR.

“Dari DPD yang tidak solid. Padahal sebelumnya kami sudah hitung perkiraan,”‎ ujarnya, Rabu (8/10/2014).

Menurutnya, anggota DPD lebih senang memilih paket B yang diajukan oleh kubu KMP, meski Oesman mendapatkan posisi nomor dua yakni wakil ketua. ‎Ia membantah kekalahannya akibat tidak adanya komitmen dari PPP, atau karena ketidakmampuan KIH membangun komunikasi dengan semua anggota DPD.

“Bisa saja anggota DPD yang berasal dari partai politik KMP lebih mementingkan KMP yang menang, daripada anggota DPD menjadi pimpinan MPR,” terangnya.

Oesman sendiri juga menyebutkan, suara DPD menjadi faktor penentu dalam voting pemilihan pimpinan MPR periode 2014-2019. Ia menduga, terbelahnya suara DPD karena banyaknya anggota DPD yang berlatar belakang sebagai pengurus atau kader partai politik.

“Memang sulit menjaganya karena banyak yang pernah di partai. Tapi prosesnya sudah bagus dan tidak perlu kecewa,” katanya.

Diketahui, berdasarkan hasil voting, paket Koalisi Merah Putih mendapatkan 347 suara. Ada pun, paket yang diusung KIH mendapat 330 suara. Kekalahan KIH dari KMP hanya selisih 17 suara.

Dengan demikian, Koalisi Merah Putih kembali tampil sebagai pemenangnya. Usai sidang paripurna mereka langsung dilantik sebagai pimpinan MPR periode 2014-2019 oleh Mahkamah Agung (MA). (Abn)

 

Related posts