Selasa, 30 November 21

Dosen Unsoed Puasa 19 Jam di Belanda

Dosen Unsoed Puasa 19 Jam di Belanda
* Suasana buka bersama di Masjid Komunitas Maroko di Enschede.

Purwokerto, Obsessionnews.com – Ramadan 1437 H merupakan Ramadan pertama Dhadhang Wahyu Kurniawan di negeri Belanda, di salah satu negeri di benua Eropa yang memiliki empat musim dan cuacanya dikenal cukup fluktuatif. Di negeri van Oranje ini pula dosen Universitas Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, ini merasakan betapa bumi Allah memang bundar dan betapa Allah sangat luar biasa dalam menciptakan makhluk-makhluknya.

“Suasana Ramadan di Belanda sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan suasana Ramadan di tanah air tercinta, Indonesia. Tidak ada suara-suara orang-orang yang membangunkan jamaah tatkala waktu sahur, tidak ada gelombang manusia yang mendatangi masjid, mushola, langgar, dan surau untuk melaksanakan sholat tarawih, tidak ada kumpulan jamaah di masjid yang dengan sabar menunggu datangnya waktu berbuka. Tidak ada pasar kaget yang sering muncul menjelang berbuka,” paparnya, Rabu (22/6/2016).

Di kota Enshcede, Belanda hanya ada dua masjid, itu pun yang satu tidak terlalu besar dan orang sering menyebutnya sebagai Masjid komunitas Turki. Yang satunya lagi masjidnya lumayan besar, orang menyebutnya Masjid komunitas Maroko.

“Suasana Ramadan agak bisa kita jumpai di Masjid komunitas Maroko ini, yang paling khas bagi orang Indonesia dengan suasana Ramadan di masjid ini adalah ketika berbuka puasa (ifthar jama’i). Suasana ifthar jama’i di sini sangat terbuka bagi siapa saja jamaah yang berminat, terdiri dari kakek-nenek, bapak-bapak, ibu-ibu, mahasiswa, mahasiswi, dan anak-anak,” ungkap Wahyu.

“Jamaahnya sangat multinasional, ada yang berasal dari Maroko, Libanon, Indonesia, Pakistan, Somalia, Ethiopia, Suriah, dan lain-lain. Menu berbukanya juga sangat khas buat orang Indonesia, terutama masakan dan makanannya yang sangat kental suasana Arab-nya, yang terkadang rasanya agak terasa asing buat lidah orang Indonesia,” tambahnya.

Dhadhang-2 Foto Kultum pada buka bersama IMEA (Indonesian Moslem Enschede Association) di Enshcede
Suasana kultum pada buka bersama IMEA (Indonesian Moslem Enschede Association) di Enshcede.

Ia menegaskan, 1 Ramadhan 1437 H bertepatan dengan tanggal 6 Juni 2016, yang masuk dalam musim panas, musim di mana di negeri ini memiliki waktu siang lebih panjang dibandingkan waktu malamnya. “Konsekuensinya waktu untuk menjalani ibadah puasa akan lebih dari 12 jam, jam normal jika 24 jam dibagi dua, siang dan malam,” terangnya.

Untuk daerah yang ditempati Wahyu , yaitu Enschede, yang terletak di bagian timur Belanda waktu maghrib selama bulan Ramadhan 1437 H ini pada kisaran jam 21.50 hingga 22.00 dan waktu shubuh pada kisaran jam 03.15 hingga 03.25. “Durasi total puasa sekitar 19 jam ini merupakan tantangan tersendiri buat saya,”” jelasnya.

Selain harus mampu menahan lapar dan dahaga di siang hari, kisah dia, pada malam hari dirinya harus pintar membagi waktu antara berbuka, sholat maghrib, sholat isya, sholat tarawih, sahur, dan sholat shubuh. Bagaimanapun Wahyu tidak ingin momentum dan keberkahan bulan Ramadhan tahun ini berlalu begitu saja.

Selama hari kerja, Senin sampai Jumat, dengan jam kerja mulai pukul 9.00 – 17.00 Wahyu tetap beraktivitas seperti biasa di kampus, sepulang dari kampus, biasanya setelah sholat ashar dia sempatkan untuk tidur terlebih dahulu hingga menjelang berbuka.

Setelah berbuka, ia pun lanjutkan dengan sholat maghrib, sambil menunggu waktu Sholat Isya (pukul 23.30) istirahat sejenak. Setelah Sholat Isya, Wahyu tidur dulu sampai sekitar jam 01.45, ia lanjutkan Sholat Tarawih, Sahur, dan Sholat Shubuh pada pukul 03.30. “Sesudah menjalankan sholat Shubuh dan Tilawah kami lanjutkan dengan tidur hingga jam 7.00 supaya kami tetap bugar beraktivitas pada siang hari,” ujarnya.

Dhadhang-3 Foto Kultum pada buka bersama IMEA (Indonesian Moslem Enschede Association) di Enshcede
Kultum pada buka bersama IMEA (Indonesian Moslem Enschede Association) di Enshcede

Selain lamanya waktu berpuasa, menurut Wahyu, tantangan lain menjalankan ibadah puasa di Enschede (Belanda) pada tahun ini adalah kondisi cuaca yang relatif sangat fluktuatif. “Dalam satu hari, kita bisa mengalami pergantian cuaca selama 4 (empat) kali, yaitu panas, hujan, sejuk, dan dingin. Terkadang dalam satu hari memiliki rentang suhu sangat lebar, yaitu antara 7 hingga 27°C. Alhamdulillah hingga saat ini dibuat, suhu belum pernah mencapai lebih dari 30°C,” tandasnya.

Untuk dapat menikmati dan mendapatkan suasana Ramadan seperti di tanah air, Wahyu yang menghimpun diri dalam IMEA (Indonesian Moslem Enschede Association) mengadakan kegiatan buka bersama setiap pekan satu kali, biasanya diadakan pada hari Sabtu. Pada acara ini, diisi dengan pembacaan Al-Qur’an, ceramah singkat, buka bersama, dan sholat maghrib berjamaah.

Meski demikian, tegas dia, Allah tidak akan membebani makhluk-Nya di luar batas kemampuannya (QS. Al-Baqarah ayat 286) dan setiap perintah Allah pasti bermanfaat dan memiliki banyak kebaikan buat hamba-hamba-Nya (QS Al-Baqarah ayat 183).

“Kita sebagai umat Islam harus dan selalu bersyukur disediakan satu bulan khusus buat kita (Ramadhan) untuk mengasah dan memperbaiki keimanan dan ketakwaan kita, supaya kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa, karena sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa (QS. Al-Hujurat ayat 13),” tuturnya. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.