Minggu, 3 Maret 24

Dosen UI: Maraknya Penggunaan Bahasa Gaul Tak Perlu Dikhawatirkan

Dosen UI: Maraknya Penggunaan Bahasa Gaul Tak Perlu Dikhawatirkan
* Dosen FiB UI Dr Untung Yuwono (Foto: ANTARA/HO-Humas UI)

Obsessionnews.com – Dosen di Departemen Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) Dr. Untung Yuwono telah memberikan pandangan positif terkait dengan maraknya penggunaan bahasa gaul. Menurutnya, penggunaan bahasa gaul tidak perlu dikhawatirkan.

Untung berpendapat bahwa bahasa gaul atau bahasa slang adalah bagian alami dari perkembangan bahasa dalam masyarakat. Bahasa ini sering kali mencerminkan tren, budaya, dan perubahan sosial yang sedang terjadi. Penggunaan bahasa gaul juga dapat menjadi bentuk ekspresi diri dan identitas budaya.

“Bahasa gaul merupakan register bahasa kaum muda yang wajar digunakan karena menunjukkan kreativitas anak muda dalam berbahasa,” kata Untung Yowono di Kampus UI Depok, Senin (6/11/2023).

Umumnya, kata Untung, anak muda juga selalu memperhatikan situasi yang tepat untuk menggunakan bahasa gaul, misalnya terbatas untuk berkomunikasi dalam pergaulan dengan teman sebaya saja.

“Yang umum dikhawatirkan adalah jika anak muda hantam kromo dalam menggunakan bahasa gaul. Kapan pun ia berkomunikasi, yang digunakan adalah bahasa yang dipenuhi bentuk-bentuk bahasa gaul, termasuk ketika ia menulis teks yang bergenre formal,” katanya.

Ia mencontohkan karya ilmiah atau ketika berpresentasi lisan dalam situasi formal. Tidak jarang guru mengeluh, siswa menggunakan sapaan guys, misalnya, secara spontan ketika ditugaskan berpresentasi lisan.

“Faktor terbesar munculnya tren-tren bahasa yang baru, termasuk pada bahasa gaul, adalah kebutuhan orang muda untuk bergaul dengan sesama,” katanya.

Mengikuti perkembangan karakter kaum muda yang dinamis, lincah, dan terus berkembang dalam upaya beraktualisasi diri, kata dia, bentuk-bentuk kebahasaan dalam bahasa gaul juga memperlihatkan kreativitas kaum muda dengan perubahan pada bahasa gaul itu.

“Misalnya, kata bestie sebagai sapaan muncul karena kebutuhan untuk mendekatkan diri dengan teman atau menunjukkan kedekatan dengan teman baik,” katanya.

Ia menambahkan, singkatan MLYT dari meleyot, yang baru saja trendi itu, juga muncul karena diperlukannya pengungkapan perasaan yang mungkin menurut kaum muda kurang cukup jika diekspresikan dengan kata yang sudah ada seperti kata kagum, yang mungkin dirasakan tidak secara lengkap merujuk pada perasaan yang sangat terpana sehingga seluruh tubuh menjadi lemas, tidak bisa bergerak.

Bahkan, bahasa gaul dapat memperkaya kosakata Bahasa Indonesia. Meskipun masih digolongkan ke dalam bahasa register percakapan, kata gaul seperti mager, lebai, dan cogan saat ini sudah masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

“Anak muda juga dapat mempopulerkan kata dalam kamus yang sudah jarang dipakai, seperti kata cuak atau cuaks yang saat ini trendi untuk merujuk perasaan takut atau gentar, yang sebenarnya sudah ada di dalam KBBI,” kata Untung yang juga Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan FIB UI.

Seiring dengan perkembangan media sosial yang diakomodasi melalui sarana teknologi dan informasi, menurut Untung, ciri-ciri bahasa gaul saat ini juga mengikuti karakteristik sarana komunikasi tulis yang menghendaki keringkasan berbahasa.

Akibat keterbatasan ruang tampilan gawai, muncul banyak bentuk bahasa gaul yang berupa singkatan atau akronim, seperti baper (bawa perasaan), bucin (budak cinta), gaje (gak jelas), gercep (gerak cepat), dan japri (jaringan pribadi).

Ciri khas dari tren bahasa gaul saat ini yang tidak pernah muncul pada masa lalu adalah adanya perpaduan moda komunikasi. Artinya, bahasa gaul tidak hanya menggunakan huruf saja, tetapi juga dapat dikombinasikan dengan angka, emoji, gambar, dan stiker.

Dengan terjadinya globalisasi, generasi muda Indonesia juga kerap menyerap bahasa gaul dari bahasa-bahasa asing lainnya, umumnya Bahasa Inggris, saat berkomunikasi secara nonformal dalam media tulis, misalnya ASAP (As Soon As Possible), btw (by the way), otw (on the way), dan lain-lain.

Walaupun bahasa gaul berperan penting dalam interaksi sosial, Untung mengatakan bahwa bahasa gaul membawa pengaruh negatif terhadap keterampilan generasi muda dalam berbahasa Indonesia secara baik dan benar.

Namun, ia percaya bahwa anak muda akan terus mempelajari bahasa seiring dengan pertambahan usia, perkembangan psikologis, dan pelanjutan pendidikan sehingga pada akhirnya mampu memilih bentuk-bentuk kebahasaan yang tepat sesuai konteksnya.

“Pendidikan dasar dan menengah menjadi kunci untuk mengembangkan kualitas berbahasa. Tantangan terbesar pembelajaran Bahasa Indonesia saat ini, terkait pemakaian bahasa gaul yang mungkin meresahkan sebagian masyarakat Indonesia, adalah secara aktif menanamkan pengetahuan dan kebiasaan berbahasa siswa untuk mengetahui dalam situasi apa ia menggunakan bentuk-bentuk kebahasaan yang tepat. Hal ini mendorong pemakaian bahasa Indonesia yang baik,” ujar Untung. (Antara/Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.