Senin, 20 September 21

Dorong Konsumsi Protein dari Ikan, TNI AL dan KKP Gelar Festival Gemarikan

Dorong Konsumsi Protein dari Ikan, TNI AL dan KKP Gelar Festival Gemarikan

Press Release

JAKARTA (23/5) – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) melalui Dinas Potensi Maritim (Dispotmar) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), kemarin, Senin (22/5), menggelar Festival Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di Markas Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Tanjung Priok, Jakarta Utara. Festival tersebut bertujuan untuk mendukung pencapaian konsumsi protein hewani khususnya ikan.

Acara tersebut dihadiri dan dibuka oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dan Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Achmad Taufiqoerrochman. Turut hadir beberapa pejabat dari Badan Keamanan Laut (Bakamla) dan Polisi Perairan (Polair).

Wakasal Achmad Taufiqoerrachman mengatakan, festival ini merupakan wujud peran serta Angkatan Laut dalam rangka mendukung perikanan nasional gerakan memasyarakatkan memakan ikan atau Gemarikan. Menurutnya, TNI AL akan ikut melakukan sosialisasi sekaligus memperkenalkan kuliner ikan nusantara sebagai salah satu aset pariwisata bahari. Hal ini juga sejalan dengan salah satu tugas pokok TNI AL dalam pemberdayaan wilayah pertahanan laut dengan melaksanakan pembinan potensi maritim.

“TNI Angkatan Laut juga akan bertekad secara terus menerus menyosialisasikan dan memelopori gerakan makan ikan ini dengan memanfaatkan seluruh jajaran Angkatan Laut di seluruh wilayah Indonesia melalui pangkalan-pangkalan TNI AL yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia,” ungkap Achmad dalam sambutannya saat membuka Festival Gemarikan di Markas Kolinlamil, Senin (22/5).

Adapun Menteri Susi, dalam sambutannya menyampaikan, generasi muda Indonesia yang akan datang harus menjadi generasi yang hebat dan sehat. Namun sayangnya, menurut Menteri Susi saat ini konsumsi ikan masyarakat Indonesia masih rendah. Untuk itulah, pemerintah tengah gencar melakukan kampanye gemar makan ikan.

“Kalau dilihat dari statistik dibandingkan dengan negara-negara lain, Jepang misalnya sekarang sudah makan 86 kg per kapita/tahun. Indonesia baru pertama kali menginjak di atas 40 kg per kapita tahun 2016, sebelumnya tahun 2014 konsumsi di Indonesia hanya 36 kg per kapita, tahun 2015 naik menjadi 41 kg per kapita,” papar Menteri Susi.

Menurut Menteri Susi, kenaikan tersebut sudah luar biasa tetapi tetap harus ditingkatkan mengingat saat ini stok ikan di Indonesia telah mengalami peningkatan. Ketersediaan ikan saat ini diakuinya sebagai buah dari kerja keras berbagai instansi di Indonesia misalnya jajaran TNI, khususnya TNI AL, Polair, dan Kejaksaan yang turut memerangi praktik illegal, unreported and unregulated fishing (IUUF).

“(Pemerangan IUUF) telah memberikan 7 kg tambahan konsumsi ikan dalam 2 tahun ini kepada masyarakat. Kalau dihitung (kenaikan 7 kg dikali dengan) 250 juta (penduduk Indonesia) itu adalah 1.750 ton (ikan) telah dikonsumsi oleh bangsa Indonesia. Kalau dinilai Rp10 ribu (per kg), itu (bernilai) Rp175 triliun, dan itu nilai ekonomi yang luar biasa yang telah kita nikmati dari hasil perang melawan illegal fishing,” terang Menteri Susi.

Menteri Susi menghimbau masyarakat Indonesia lebih menggemari ikan agar dapat tumbuh sehat dan cerdas. “MEA sudah datang, persaingan kompetisi antar-negara untuk sumber daya manusia makin kencang dan makin terbuka juga direct head to head. Kita perlu otak tumbuh besar, kita juga perlu badan juga yang besar dan sehat,” tukas Menteri Susi.

Hal ini senada dengan yang diungkapkan Achmad. Menurut dia, manfaat nyata memakan ikan ini akan langsung dirasakan dalam 3 hingga 5 tahun ke depan, di mana akan hadir generasi-generasi yang cerdas dan pintar.

Menteri Susi mengingatkan, anak-anak Indonesia usia umur 1-10 tahun harus mendapat asupan protein yang cukup demi pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasannya. Menurutnya, ikan dapat memenuhi kebutuhan asupan protein tersebut. Menteri Susi mengaku gemas dengan kebiasaan konsumsi ikan masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah.

“Kita harus paksa makan ikan, kita harus segerakan kampanye nasional, kalau tidak, orang lain tambah besar tambah tinggi, orang Indonesia makin mengecil. Dan nanti untuk kompetisi bersaing di bidang pekerjaan dengan orang-orang dari negara lain. Nanti bisa saja tukang becak dari orang Filipina. Nah, repot kalo sudah begini, karena bangsa Indonesia sudah tidak punya kemampuan lagi. Jadi makan ikan sangat sehat, dan ikan ini akan menjadi sumber daya yang diperebutkan di berbagai negara,” ungkap Menteri Susi.

Selain menyehatkan masyarakat,menurut Menteri Susi gemar mengkonsumsi ikan juga akan menghemat belanja negara dengan beralih dari konsumsi daging impor kepada ikan yang banyak tersedia di lautan Indonesia. Ini juga akan membantu rumah tangga karena harga ikan jauh lebih murah daripada harga daging.

Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan ini juga akan mendatangkan manfaat bagi pelaku usaha perikanan. Ikan Indonesia dapat diekspor dan menyumbang pada peningkatan devisa negara.

Menteri Susi menilai, memang sudah seharusnya masyarakat melakukan pergantian konsumsi daging dan ayam kepada ikan. Terlebih menurutnya, peternak daging dan ayam kadang nakal menyuntikkan hormon pertumbuhan kepada ternak mereka agar tumbuh besar dan berat, di mana jika dikonsumsi hormon tersebut tidak baik untuk kesehatan.

Ketersediaan ikan di lautan Indonesia memang banyak. Akan tetapi, Menteri Susi menyadari, jika tidak dijaga dan dikelola dengan baik, stok ikan di Indonesia dapat berkurang dan habis. Untuk itu, Ia mengimbau masyarakat untuk menjaga keberlanjutan stok ikan di lautan Indonesia.

“Kita jaga Laut Banda, kalau induknya yang dipasangi rumpon ditengah laut tidak bisa pulang ke Laut Banda, siapa yang akan beranak? Bibit tuna atau yang saya bilang bayi-bayi tuna tidak muncul dari buih laut, ombak laut, tapi dari induk yang bertelur. Kalau induknya kalian habiskan di laut, tidak ada yang pulang ke rumahnya, ya tidak ada yang beranak,” tandas Menteri Susi.

Lilly Aprilya Pregiwati
Kepala Biro Kerja Sama dan Humas KKP

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.