Rabu, 25 November 20

Donald Trump, Presiden AS Berlagak ‘Preman’

Donald Trump, Presiden AS Berlagak ‘Preman’

Donald Trump dikenal sebagai sosok kontoversial. Presiden Amerika Serikat (AS) ini, sering bertindak layaknya seorang ‘preman’. Lihat saja saat pertemuan dengan para petinggi Partai Demokrat, Rabu (9/1/2019), Trump meninggalkan ruangan sambil menggebrak meja begitu perwakilan Demokrat tidak menyetujui anggaran pembangunan tembok perbatasan. Trump bersikap gegabah, memukul meja sebelum minggat dari ruang rapat Gedung Putih setelah tidak sepakat pembicaraan dengan Ketua DPR Demokrat, Nancy Pelosi.

“Trump bertanya kepada Pelosi, ‘Apakah engkau setuju dengan tembok saya?’ Dia berkata tidak. Trump langsung berdiri dan berkata, ‘Kalau begitu kita tidak punya apa-apa untuk didiskusikan’, dan dia berjalan keluar. Sekali lagi, kami melihat amarah karena dia tidak bisa mendapatkan jalannya,” ungkap Ketua Fraksi Demokrat di Senat, Chuck Schumer.

Ada kejadian yang menggelikan terkait kelakuan Trump, ketika para pemimpin dunia berkumpul di Buenos Aires, Argentina untuk berpartisipasi dalam KTT G20 2018. Presiden AS ini melemparkan headset ke lantai setelah mendengarkan sambutan dari Presiden Argentina, Mauricio Macri pada Jumat (30/11/2018). Yakni, ketika Macri memberikan sambutan dalam bahasa Spanyol, Trump mencopot headset terjemahannya dari telinga dan berkata, “Saya pikir saya mengerti Anda lebih baik dalam bahasa Anda daripada melalui penerjemah”. Presiden AS berjambul bak burung itu pun kemudian menjatuhkan headsetnya ke lantai karena kesal dengan terjemahan.

Oleh karena itu, tak salah apabila mantan Menteri luar Negeri AS, John Kerry mengkritik pedas Presiden Trump, dengan menyebut perilaku Presiden AS itu kekanak-kanakan dan ulah seorang anak nakal. “AS tidak dapat menerima seorang presiden yang berperilaku seperti anak nakal,” kata Kerry yang berada di Inggris, Kamis (15/11), saat mengkritik kebijakan Presiden Donald Trump dan dilaporkan The Guardian.

Pencemaran Nama Baik
Mantan kontestan dalam acara televisi The Apprentice yang sebelumnya menuduh presiden terpilih AS Donald Trump akan pelecehan seksual sudah mengajukan tuntutan pencemaran nama baik terhadap Trump. Summer Zervos, yang menuduh Trump melecehkannya pada 2007, mengatakan bahwa Trump berbohong pada warga Amerika Serikat akan perilakunya.

Zervos adalah satu dari beberapa perempuan yang tampil dan menuduh Trump melakukan kekerasan seksual terhadap mereka beberapa pekan sebelum pemilihan presiden. Mantan kontestan acara televisi reality show berusia 41 tahun tersebut mengatakan bahwa Trump melakukan penyerangan seksual saat bertemu dengannya untuk membicarakan kesempatan kerja di hotel di Beverly Hills.

Zervos mengatakan bahwa Trump “mulai mendorong-dorongkan alat kelaminnya” saat dia berusaha menolak rayuan Trump. Presiden terpilih AS itu sudah membantah klaim tersebut, dan menyatakan bahwa itu ‘tuduhan palsu dan konyol’ dan berjanji untuk menuntut si penuduh. Anehnya, Trump belum mengajukan tuntutan terhadap satupun perempuan yang menuduhnya.

Sebut ‘Anjing’ dan ‘Sinting’
Presiden AS Donald Trump menyebut seorang perempuan mantan penasihatnya yang baru dipecat sebagai ‘anjing’, ‘sinting’, dan ‘manusia rendah’. Kata-kata itu muncul ketika Trump merilis cuitan merujuk Omarosa Manigault Newman, perempuan kulit hitam yang pernah menjadi penasihatnya di Gedung Putih.

“Ketika Anda memberikan manusia rendah yang sinting dan menangis sebuah kesempatan dan memberikannya pekerjaan di Gedung Putih, saya kira itu tidak berhasil. Kerja bagus Jenderal (John) Kelly karena cepat memecat anjing itu!”

Yang jadi perkara adalah buku bertajuk Unhinged karya Omarosa yang mengungkap berbagai hal semasa ia bekerja untuk Trump di Gedung Putih. Dalam buku tersebut Omarosa menulis bahwa Trump mengalami kemunduran mental. Dia juga mengklaim punya rekaman bahwa Trump pernah memakinya dengan kata ‘Negro’ sewaktu tampil dalam acara televisi The Apprentice.

Uang Tutup Mulut
Presiden Trump mengukuhkan bahwa ia mengganti uang yang digunakan pengacaranya, Michael Cohen, untuk membayar ‘uang tutup mulut’ kepada seorang bintang film dewasa tentang dugaan perselingkuhan. Trump mengaku, pembayaran sebesar US$130.000 (Rp1,8 miliar) itu dimaksudkan untuk mencegah Stormy Daniels mengungkap dugaan perselingkuhan. Namun demikian, Trump menegaskan, uang itu tidak diambil dari dana kampanye.

Daniels, yang bernama asli Stephanie Clifford, mengaku pernah berhubungan seks dengan Trump pada 2006. Daniels juga mengklaim bahwa dirinya telah menandatangani kesepakatan untuk bungkam mengenai hubungan seks dengan Trump beberapa hari sebelum Pilpres AS. Sebagai imbalan, Daniels dibayar US$130.000. Bagaimanapun, ini untuk pertama kalinya Trump mengakui pembayaran uang bungkam tersebut, meskipun dia tetap bersikukuh tidak berselingkuh dengan Daniels.

Pembohong dan Penipu
Bernie Sanders, senator dari negara bagian Vermont hari Jumat (28/12/2018), menyebut Presiden AS, Donald Trump sebagai pembohong dan penipu, arogan dan suka menggertak. IRIB melaporkan, Bernie Sanders seraya menekankan bahwa rakyat Amerika telah lelah terhadap presiden pembohong, penipu, arogan dan suka menggertak menjelaskan, rakyat Amerika menghendaki sosok presiden yang menyatukan mereka, bukannya membuat masyarakat Amerika bercerai berai.

Senada pula, The Washington Post melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump dalam 700 hari pemerintahannya telah melakukan lebih dari 7000 kebohongan dan klaim. Surat kabar itu mengutip data “Pusat Informasi Pemantauan Kinerja” atau database pemeriksa fakta (Fact Checker’s database) dan menyebutkan, Trump hingga tanggal 20 Desember 2018, yaitu di 700 hari pemerintahannya, telah melakukan 7.546 klaim atau pernyataan bohong dan meragukan.

Menurut The Washington Post, jumlah kebohongan dan pernyatan menyesatkan Trump itu terus meningkat secara aneh, di mana dia di delapan awal pemerintahannya, dia telah melakukan 1.137 kebohongan atau klaim menyesatkan. Ini berarti rata-rata lima hari perhari.

Jumlah tersebut pada bulan Oktober, yaitu menjelang pemilu sela bertambah menjadi 1.205 kasus. Artinya, ada 39 kasus kebohongan atau klaim menyesatkan setiap harinya. Sejumlah data juga menyebutkan bahwa dalam satu pidato Trump saja, ada 45 kebohongan atau klaim dan pernyataan yang meragukan.

Laman Koran Washington Post menulis, Presiden AS Donald Trump di tahun 2018 rata-rata setiap hari 15 kali berbohong. Kebohongan dan klaim menyesatkan Trump di tahun 2018 dimulai hari kedua bulan Januari dengan merilis sejumlah tweet pagi hari. Turmp hanya beberapa jam sibuk menebar klaim bohong terkait tiga isu favoritnya yakni Iran, New York Times dan Hillary Clinton.

Laman ini menambahkan, perilisan tweet ini permulaan dari tahun penuh penipuan dan kebohongan di mana Trump semakin jauh dari realita. Situs Fact Checker juga menyatakan, Trump sejak awal tahun 2018 hingga kini merilis 1989 klaim palsu dan menyesatkan. Menurut sumber ini, Trump sejak awal periode kepresidenannya hinga akhir tahun 2018 menebar lebih dari 7600 kebohongan, yakni rata-rata setiap hari ia 15 kali berbohong.

Bertengkar dengan Wartawan
Presiden AS Donald Trump sempat bersitegang dengan wartawan CNN. Akibat cekcok sengit dengan wartawan itu dalam jumpa pers Presiden Trum, Rabu (7/11/2018, sang wartawan pun dilarang masuk gedung putih. Dalam jumpa pers itu, Donald Trump menyebut wartawan CNN Jim Acosta sebagai ‘orang yang kasar dan mengerikan’. Saat itu, seorang staf Gedung Putih berusaha mengambil mikrofon yang sedang digunakan oleh Jim Acosta, wartawan CNN itu.

Dalam jumpa pers tersebut, si wartawan mempertanyakan pernyataan Trump sebelumnya tentang karavan kaum migran dari Amerika Tengah yang menuju ke AS. Seorang staf perempuan sesudah itu berusaha mengambil mikrofon dari Acosta. “Sudah. Itu sudah cukup,” kata Presiden Trump kepada Acosta, sebelum menyuruhnya duduk dan meletakkan mikrofonnya.

Pada kasus lain, lebih dari 300 media di AS akan melancarkan kampanye kebebasan pers untuk menanggapi rangkaian serangan Presiden Trump. Kampanye itu bermula dari seruan harian the Boston Globe pekan lalu untuk mengecam ‘perang kotor’ presiden terhadap media dengan menggunakan tanda pagar #EnemyOfNone atau #BukanMusuhSiapapun.

Harian itu berikrar akan menulis editorial bertema “bahaya serangan pemerintah kepada pers” pada 16 Agustus dan menyeru kepada media-media lain untuk menempuh langkah serupa. Sejak menjabat presiden, Trump berulang kali menyebut laporan media sebagai “berita palsu” dan menyebut wartawan sebagai “musuh rakyat”.

Beberapa pakar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menilai pernyataan Trump telah meningkatkan risiko aksi kekerasan terhadap para wartawan. Dalam sebuah pawai di Florida pada Juli lalu, CNN merekam para pendukung Trump meneriakkan makian dan kata-kata hinaan kepada para wartawan yang meliput acara itu.

Seruan the Boston Globe rupanya mendapat respons dari berbagai surat kabar nasional AS dan media asing, seperti harian Inggris, the Guardian. Editorial surat kabar yang berbasis di London itu menyebut Trump sebagai presiden pertama “yang tampaknya punya kebijakan konsisten dan penuh perhitungan untuk mengabaikan, mendelegitimasi, bahkan membahayakan kerja pers”.

Kemudian harian the New York Times merilis editorial berjudul “Pers yang bebas memerlukan Anda”. Isinya, antara lain menyebut serangan-serangan Trump “berbahaya bagi keberlangsungan demokrasi”. Adapun the Boston Globe menulis editorial bertajuk “Wartawan bukanlah musuh”. Harian itu mengingatkan bahwa kebebasan pers merupakan inti dari prinsip Amerika Serikat selama lebih dari 200 tahun.

Trump Pernah Berbuat Cabul
Tiga perempuan yang menuduh Presiden AS Donald Trump telah melakukan perbuatan seksual paksa terhadap mereka, menyerukan Kongres melakukan penyelidikan resmi. Dalam jumnpa pers New York City, ketiganya menuduh Trump meraba-raba, menggerayangi, mencium paksa, mempermalukan atau melecehkan mereka.

Ketiganya – Jessica Leeds, Samantha Holvey, dan Rachel Crooks – sudah memapar secara rinci tuduhan mereka sebelumnya dalam acara televisi. Meski pernyataan ketiganya dibantah Gedung Putih. Leeds, Holvey dan Crooks awalnya mengungkapkan pengakuan mereka secara terpisah sebulan sebelum pemilihan presiden AS tahun lalu.

Pada NBC News pada hari Senin, Samantha Holvey mengatakan bahwa Trump memelototinya dan para peserta kontes kecantikan Miss USA lain dengan cara tertentu. Trump adalah pemilik penyelenggaraan kontes itu. Mantan Miss North Carolina, yang saat itu berusia 20 tahun, mengatakan “dia menjajarkan kami semua” dan “menatap saya seakan saya hanyalah sepotong daging”.

Lain lagi Jessica Leeds, sekarang berusia 70-an, mengatakan bahwa saat berusia 38, dia duduk di samping Trump di kabin kelas satu dalam penerbangan pesawat ke New York dan Trump secara seksual menyerangnya. Leeds berkata: “Trump menerjang saya.” Dia bilang dia mengungkapkan hal itu karena: “Saya ingin orang tahu, manusia seperti apa Trump sebenarnya, betapa dia adalah seorang cabul.”

Adapun Rachel Crooks mengatakan bahwa Trump memaksa mencium bibirnya di depan lift di Trump Tower saat dia berusia 22 tahun. Saat itu ia bekerja sebagai resepsionis di sebuah perusahaan real estat yang berkantor di sana. “Saya terguncang,” katanya. “Hati saya tercabik-cabik.”(RED/BBC/PARS)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.