Jumat, 29 Oktober 21

Dokumentasi Lewat Radio Buku

Dokumentasi Lewat Radio Buku
* Suasana diskusi buku di komunitas Iboekoe. (Foto-foto: Nissa/obsessionnews.com)

Yogyakarta, Obsessionnews – Ternyata buku itu tidak hanya dibaca saja, tetapi juga bisa dilakukan dokumentasi atau peliputan. Bahkan mengembangkan proses penulisan pun bisa tentunya. Ya, seperti yang dilakukan oleh salah satu komunitas kreatif Yogyakarta ini, Iboekoe, keberadaan buku sudah seperti makanan sehari-harinya.

Pendirian Iboekoe pertama kali di Yogyakarta dipelopori oleh orang-orang yang pada dasarnya berlatar belakang literasi. Mereka adalah Taufik Rahzen, Galam Zulkifli, Dipo Andy Muttaqien, dan Muhidin M. Dahlan. Keempat pendiri Iboekoe ini memang semua pekerja buku maupun literasi. Dipo Andy yang tadinya berada di bidang seni rupa. Serta Faiz Ahsol yang awalnya memang sebagai penggerak literasi.

Perpustakaan kecil
Perpustakaan kecil

Iboekoe merupakan sebuah komunitas kreatif yang mengembangkan sayapnya dari gelaran budaya. Kemudian terbentuklah Ibokoe pada 23 April 2006. “Disebut Iboekoe karena (ibuku) bisa menjadi persamaan dari my mother. Bertepatan pula dengan hari buku pada saat pertama kali didirikan. Bisa juga bermakan aku dan ibuku,” terang Fairus Zul Mumtaz, penyiar Radio Buku, kepada obsessionnews.com baru-baru ini.

Muhidin M. Dahlan, kata Fairus, salah seorang sastrawan. Pada tahun 2002-an bukunya pernah menjadi buku yang kontroversial. Buku yang berjudul Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur sempat menggemparkan masyarakat. Dari situlah terinspirasi untuk membentuk komunitas ini.

“Di dalam Iboekoe ini terdapat beberapa program seperti perpustakaan (taman bacaan masyarakat), radio buku, obrolan senja, belanja buku bersama, angkringan buku, cine book club (membaca film dan menonton buku) dan Iboekoe mengundang. Biasanya dari beberapa agenda tersebut memiliki fungsinya masing-masing,” kata Fairus.

Perpustakaan, misalnya, yang menjadi taman bacaan masyarakat masih termasuk dalam wilayah Iboekoe. Tepatnya tanggal 23 April 2009, gelaran Iboekoe resmi dibuka dan bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar jika ada yang ingin belajar dan hobi membaca.

Berawal banyak mahasiswa atau dari kalangan lain yang melakukan riset di Iboekoe, terutama lewat perpustakaan. Mereka mendaftar di perpustakaan dan mendapat kartu anggota. Book lovers, sebutan unik bagi pecinta buku di Iboekoe ini.

Fairus menuturkan perpustakaan di Iboekoe memiliki ribuan judul buku yang pada umumnya bertema sejarah, biografi, kawasan, seni sastra, pers, dan referensi. Ada pula beberapa keranjang khusus untuk menampung buku-buku bacaan anak. Khususnya lebih memfasilitasi anak-anak yang ingin membaca buku bacaan di tempat ini.

“Selain buku-buku tadi, Iboekoe juga menyediakan ribuan koleksi surat kabar nasional. Anggotanya pun sekarang sudah ratusan dari berbagai kalangan. Wifi juga tersedia di sini dan angkringan buku bisa menjadi salah satu fasilitas yang melengkapinya,” ujarnya.

Tak hanya orang umum saja, di Iboekoe juga terdapat program Belanja Buku Bersama. Biasanya rutin setiap tahunnya yang diikuti berbagai kalangan sekitar. Belanja Buku Bersama memenuhi kebutuhan masyarakat yang gemar membaca buku tapi tidak punya biaya untuk membelinya.

Terutama anak-anak, kata Fairus, biasanya belanja buku bersama anak-anak di sebuah toko atau pameran yang nantinya akan ditanyai tentang buku yang mereka beli. Apa isi buku tersebut dan bagi yang sudah bisa menulis, akan diminta untuk meresensi buku tersebut menurut sudut pandang anak-anak.

Jika ada acara juga biasanya akan dishare ke teman-teman yang suka membaca buku. Lanjut dia, mempromosikannya lewat situs jejaring sosial atau kontak langsung. Agenda Iboekoe mengundang yang bergerak di sini. Jika ada kalangan yang ingin bekerja sama dengan Iboekoe untuk mengadakan acara.

“Bekerja dokumentasi itu sangatlah penting dalam bidang apapun. Bagaimana jika masing-masing tak memiliki arsip atau dokumentasi? Berarti sebuah negara juga bisa dikatakan tak punya sejarah,” paparnya.

Menyinggung soal bincang-bincang, komunitas ini juga punya program yang namanya Obrolan Senja. Di dalamnya melakukan kegiatan membedah draf naskah. Sebuah tulisan sebelum menjadi novel biasanya dibedah terlebih dahulu. Biasa disebut Yantra, yang fokusnya terhadap kajian Jawa baik budayanya maupun teks-teks bahasa Jawa.

Kemudian adanya warung arsip yang menguak benda-benda pusaka apa saja di sekeliling benteng Kraton yang masih dimiliki sebagian warga sekitar. Beberapa ada yang masih tersimpan di rumah warga yang bisa bercerita pada saat ini. “Cakupan kita memang baru wilayah sekitar Kraton,” imbuh Fairus.

Lanjut ke Radio Buku, yang namanya mungkin masih terdengar asing di telinga. Ini merupakan radio satu-satunya di dunia yang khusus membahas soal literasi. Awal tahun 2011, Radio Buku diresmikan. Bersifat live streaming di mana kegiatannya adalah mendokumentasikan sastra secara audio. Memang tidak semua isi buku dibahas, namun tugas utamanya adalah mendokumentasikan buku.

Iboekoe kebetulan mendapat hibah buku yang sangat banyak. “Kami saat itu fokus pada buku-buku milik seseorang yang sedang sakit. Dokumentasi bukunya memang sangat banyak. Bahkan kemungkinan ruangan di sini kurang untuk menampungnya,” katanya.

Harapannya, jika ada yang ingin membaca puisi, cerpen, atau buku karangan sendiri bisa dibacakan di radio online ini. (Nissa)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.