Rabu, 22 Mei 19

Dokter Bedah Kanker Payudara, Terkena Kanker Payudara

Dokter Bedah Kanker Payudara, Terkena Kanker Payudara
* Dr O'Riordan, menjadi pembicara profesional yang membahas tentang perawatan pasien kanker di Stuttgart, Jerman. (BBC)

Baru pertama kali terjadi, seorang wanita yang berprofesi dokter bedah kanker payudara, ternyata terkena kanker payudara di tubuhnya sendiri.

Liz O’Riordan terpaksa harus berhenti dari profesinya sebagai dokter bedah kanker payudara, karena ia sendiri terserang kanker yang sama. Bagaimana ia mengatasinya?

“Seperti kebanyakan perempuan, saya tidak pernah memeriksakan payudara saya. Saya pikir, ‘saya tidak akan terserang kanker, toh saya juga seorang ahli bedah kanker payudara’.”

Namun pada akhirnya Liz O’Riordan melepaskan pekerjaan yang telah ia geluti selama 20 tahun, setelah ia sendiri didiagnosis menderita kanker payudara.

Pada tahun 2015, saat usianya 40 tahun, ia melakukan masektomi dan pada bulan Mei lalu penyakitnya muncul lagi.

Dokter O’Riordan sempat berpikir ia akan tetap bekerja sebagai ahli bedah kanker payudara paling tidak selama 20 tahun, namun kenyataannya ia hanya mampu mengoperasi pasien sekali saja dalam dua tahun.

Serangan kanker kedua ini mengharuskannya menjalani pengobatan radioterapi yang membuat bahunya tidak bisa digerakkan.

Akibatnya ia harus mengambil keputusan untuk berhenti menjadi dokter bedah, meski menurutnya itu “sangat sulit secara emosional”.

Liz O’Riordan pertama kali didiagnosis kanker payudara pada tahun 2015. (BBC)

Sebelum didiagnosis kanker, Dr O’Riordan menemukan adanya benjolan-benjolan yang ternyata hanya berupa kista, meski enam bulan sebelumnya payudaranya dinyatakan sehat lewat pemeriksaan mamografi.

Namun ada benjolan lain yang semakin membesar dan sang ibu mendesaknya untuk memeriksakan diri. Dokter bedah, yang tinggal di dekat Bury St Edmunds di Suffolk, Inggris, langsung mengetahui diagnosis penyakitnya.

“Kebanyakan pasien mendapat informasi yang minim. Saya melihat hasil pemindaian dan saya tahu saya perlu melakukan masektomi, saya juga mungkin harus menjalani kemoterapi karena saya waktu itu masih muda.”

“Saya bisa memperkirakan dengan baik tentang peluang hidup saya untuk 10 tahun ke depan, semua dalam sepersekian detik,” katanya.

Dr O’Riordan, 43 tahun, mengatakan tak banyak dokter yang terserang penyakit sesuai dengan profesinya; tentu saja, tidak ada seorang pun di departemennya di Rumah Sakit Ipswich.

Awalnya ia merasa “ketakutan”, dan berbagai pertanyaan muncul di benaknya.

“Bagaimana saya bisa menceritakan semuanya kepada suami dan orang tua saya? Bagaimana saya bisa berhenti sebagai dokter bedah dan hanya menjadi seorang pasien?”

Liz O’Riordan tidak mampu menggerakkan bahunya setelah kanker menjalar ke bagian ketiaknya. (BBC)

Meski mengetahui apa yang terjadi dengan fisiknya, ia tidak tahu bagaimana rasanya terserang penyakit itu.

“Saya tahu bagaimana rasanya memberitahu seseorang bahwa mereka menderita kanker payudara.”

“Saya tidak tahu bagaimana rasanya ketika lidahmu kelu, air matamu kering, meninggalkan klinik, pergi ke ruang tunggu, melewati koridor rumah sakit untuk sampai ke tempat parkir dan mulai menjerit.”

Setelah berdiskusi dengan suaminya, Dermot, ia memutuskan untuk mengumumkan penyakitnya kepada 1.500 pengikut Twitternya.

Kebanyakan dari mereka mengenalnya sebagai orang yang mencintai profesinya sebagai dokter, pencinta olahraga triathlon, dan hobi membuat kue.

Media sosial, menurutnya, menjadi pijakan hidupnya karena ia mendapat “begitu banyak dukungan”.

“Pasien-pasien sayalah yang membantu saya untuk berdamai dengan keadaan. Selalu ada seseorang yang bangun pada jam tiga pagi untuk berbicara denganmu ketika kamu sedang dalam tekanan,” katanya.

Media sosial juga menghubungkannya dengan rekan seprofesinya yang terkena kanker, dan sejak itu ia membentuk grup WhatsApp yang berisi para dokter yang menderita kanker,

Setelah menjalani pengobatan pertamanya, Dr O’Riordan kembali bekerja sebagai ahli bedah di Rumah Sakit Ipswich. Tapi, ia mengatakan tidak menyadari betapa “menantangnya” pekerjaan itu.

Awalnya ia berpikir bisa membantu orang-orang dengan cara berbeda setelah dirinya didignosis kanker. “Namun ternyata itu adalah salah satu hal tersulit yang pernah saya lakukan.”

“Ketika Anda menyampaikan berita buruk dan memberi tahu seorang perempuan bahwa mereka menderita kanker, itu benar-benar sulit, namun saya menyelaminya, dan saya bisa melihat diri saya dan suami saya dan bagaimana jadinya kami, ketika kami terjatuh dan mendengar berita itu.”

“Anda begitu putus asa untuk berhubungan dengan seseorang yang memiliki pengalaman yang sama, tetapi saya tidak bisa — mereka adalah pasien-pasien saya.”

“Saya masih merasa kesakitan setelah mastektomi dan tiba-tiba harus menjalani operasi — saya sangat sadar bahwa saya mungkin memberi mereka rasa sakit yang saya miliki, dan saya tidak ingin melakukan itu, dan itu sangat, sangat sulit,” tambahnya.

Mencuci tangan sebelum melakukan mengoperasi pasien. (BBC)

Ia mengatakan berjuang untuk bisa duduk jika menghadiri rapat-rapat yang membahas prognosis para pasien.

“Saat membaca laporan diagnosis ada seorang pasien yang memiliki jenis kanker yang sama dengan saya. Umur serta jenis kankernya pun sama — saya rasa dia mewakili sosok saya dalam laporan diagnosis tersebut.”

“Saya mendengar semua rekan kerja saya mengatakan ‘itu benar-benar buruk’.”

Pada tahun 2018, dokter menemukan adanya benjolan di ketiak Dr O’Riordan.

Benjolan itu terdeteksi lewat alat pemindaian sebelum ia melakukan operasi pengangkatan benjolan payudara, yang membuatnya sangat kesakitan.

Oleh karenanya dokter meningkatkan dosis radioterapi di area yang sama, “sesuatu yang jarang dilakukan”.

Ia diperingatkan bahwa dirinya mungkin tidak bisa menggerakkan lengannya dengan benar setelah itu tetapi, jika dia tidak menjalani operasi, pandangan matanya akan suram.

Hasilnya meninggalkan banyak bekas luka, fibrosis, dan terhambatnya jaringan lunak, yang memang menurunkan kemampuan bergerak di bagian bahunya dan mengurangi kemampuannya untuk menggerakkan lengan.

Ia mengatakan rumah sakit tempat ia bekerja melakukan yang terbaik dengan memberinya kesempatan untuk kembali menjadi dokter bedah.

“Saya menjalani fisioterapi, saya berkonsultasi dengan ahli bedah ortopedi — karena itu adalah hal yang sangat besar untuk disampaikan, ‘saya menghabiskan waktu 20 tahun dalam hidup saya, untuk mencapai berbagai gelar, ujian dan berbagai pelatihan untuk menjadi seorang ahli dalam bidang yang saya cintai, saya tidak bisa melakukannya lagi ‘.

“Saya bisa menjalani kehidupan sehari-hari, namun saya tidak mampu lagi untuk melakukan tindakan bedah terhadap para pasien, itu tidak akan pernah terjadi,” katanya.

Saat ini, Dr. O’Riordan juga membutuhkan waktu “untuk tidak memikirkan tentang kanker”, mengingat kembali bekerja sebelum penyakitnya kambuh menimbulkan trauma.

Selain itu, risiko terkena kanker untuk yang kesekian kali lebih tinggi daripada sebelumnya, dan bisa merembet ke anggota tubuh lainnya.

Setelah sekitar empat bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri karirnya sebagai dokter bedah.

“Itu pahit, dan benar-benar, sangat sulit untuk mengucapkan selamat tinggal.”

Ironisnya, ia kini menganjurkan orang-orang kembali bekerja setelah terkena kanker.

Dr O’Riordan, yang bersuamikan seorang konsultan bedah, mengatakan ia “beruntung” memperoleh pendapatan meski tidak bekerja.

Baru-baru ini ia menjadi tenaga sukarelawan sebagai duta lembaga sosial, Working with Cancer, yang memberitahu soal hak-haknya setelah ia memutuskan untuk kembali bekerja pada tahun 2017, usai menjalani perawatan kanker pertamanya.

Salah seorang direktur pengganti di rumah sakit mengatakan kepadanya bahwa pada saat ini ia diharapkan kembali bekerja secara bertahap selama empat minggu.

“Saya masih kelelahan dan mencoba membuat otak saya bekerja lagi,” kata Dr. O’Riordan.

“Saya tidak menyadari bahwa jika Anda menderita kanker, Anda tergolong sebagai penyandang disabilitas berdasarkan UU Kesetaraan dan atasan Anda harus membuat penyesuaian agar Anda bisa kembali bekerja.

Liz O’Riordan bersama suaminya Dermot turut serta dalam ajang sepeda RideLondon 100 tahun 2017. (BBC)

“Banyak orang yang menginginkan kehidupannya normal kembali setelah terserang kanker, tetapi bisa sangat sulit untuk menemukan jalan Anda dan banyak atasan di perusahaan tidak tahu bagaimana cara membantu pasien kanker atau bagaimana seharusnya mereka diperlakukan.”

Dr O’Riordan mengatakan sebagian besar tenaga pembimbing yang tergabung dalam badan sosial Working with Cancer terkena penyakit yang sama dan mereka “mendapatkan haknya.”

Selain mendapat informasi tentang hak-haknya, mereka juga menyiapkan perencanaan bagi para staf dan atasannya masing-masing.

Akibat kemoterapi yang dijalaninya, Dr O’Riordan memiliki rambut keriting yang pendek.

Salah seorang pembimbingnya bertanya, “Apa yang akan Anda lakukan ketika orang tidak mengenali Anda?”

Ia tak mempedulikannya, sampai suatu hari ia menyadari salah seorang temannya tidak mengenalinya.

Badan sosial Working with Cancer telah membantunya mengatasi berbagai kecanggungan.

Sebelum kembali ke tempat kerjanya, ia mengirim email kepada salah seorang manajernya dan menjelaskan bahwa ia senang membahas penyakitnya dengan rekan-rekan kerja, tetapi tidak selama jam kerja.

“Anda berhak untuk meminta hal-hal yang memudahkanmu. Mereka tidak bisa memecatmu karena itu akan menjadi diskriminasi.”

Mantan ahli bedah tersebut mengatakan tugasnya sebagai duta dari badan sosial itu telah membantunya terhubung kembali dengan tujuan hidupnya.

“Sebagai konsultan ahli bedah, saya telah membantu 70, mungkin 100 perempuan penderita kanker payudara selama setahun.”

“Tetapi melalui buku saya, blog, diskusi dan menjadi duta bagi Working with Cancer, saya dapat membantu ratusan, ribuan perempuan,” kata O’Riordan. (BBC/RED)

Sumber: bbc.com

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.