Selasa, 24 November 20

Jenderal (Purn) Djoko Santoso : 2025 Indonesia Akan Jadi Negara Adidaya

Jenderal (Purn) Djoko Santoso : 2025 Indonesia Akan Jadi Negara Adidaya

 Jendral (Purn) Djoko Santoso pendiri Lembaga Indonesia ASA Menyerahkan Pataka  kepada Direktur Lembaga Indonesia ASA, Usamah-Hisyam. (Anto)

A.Rapiudin
Jakarta– Mantan Panglima TNI  Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso mendeklrasikan Gerakan  Indonesia  ASA (Adil, Sejahtera, Aman) di Balai Kartini, Jakarta, Senin (20/5).  Deklarasi Gerakan Indonesia ASA bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) pada 20 Mei 2013.

Pemilihan tanggal deklarasi yang bertepatan dengan Harkitnas tersebut bukan tanpa alasan.  Sebab, Hari Kebangkitan Nasional adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia yang dimulai sejak berdirinya perkumpulan Boedi Oetomo pada 1908 yang dipimpin Dr Wahidin Sudiro Husodo.

Menurut Djoko,  pendahulu bangsa Indonesia, yakni Kerajaan Sriwijaya pada abad ketujuh dan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 telah mengalami masa kejayaan.
Kebesaran dua kerajaan yang pernah berjaya di bumi Nusantara dan di kawasan Asia Tenggara itu, janganlah sekadar menjadi catatan sejarah.

“Kehebatan dan keadiluhungan para leluhur dan nenek moyang kita, seharusnya mampu memompa semangat kita, bahwa bangsa ini, pernah menjadi bangsa yang besar dan adiluhung, dan mampu kembali menjadi bangsa adi daya,” tegas Djoko.

Berikut pidato lengkap Jenderal TNI (Purn) H. Djoko Santoso saat mendeklarasikan Gerakan Indonesia ASA:

Mengawali pidato ini, perkenankan saya untuk sejenak kembali ke masa silam, ketika bangsa ini dikenal dunia sebagai sebuah bangsa yang besar. Saudara-saudara tentu pernah menerima pelajaran sejarah di bangku sekolah dulu, tentang kejayaan kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.

Majapahit di bawah pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dan patihnya yang gagah perkasa, Gajah mada, pada abad ke-14 mampu memerintah daerah kekuasaan meliputi Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. Termasuk Tumasik, yang kini kita kenal dengan nama Singapura, semenanjung Malaya termasuk Malaysia sekarang, hingga kepulauan di Filipina.

Berdasarkan kitab atau kakawin Nagara kretagama karya Empu Prapanca tahun 1365, Majapahit mampu menjadi besar dan kuat berkat budaya Keraton yang adiluhung, anggun, canggih pada masanya, taat pada agama, serta penuh cita rasa seni dan sastra yang halus dan tinggi. Majapahit digambarkan sebagai pusat mandala raksasa yang membentang dari Sumatera ke Papua, mencakup Semenanjung Malaya dan Maluku.

Jauh sebelum Majapahit, Kemaharajaan Sriwijaya sejak tahun 671 telah menguasai wilayah yang tak kalah luas, termasuk menguasai kerajaan Malayu dan Kedah. Kerajaaan bahari ini tumbuh besar dan berhasil mengendalikan jalur perdagangan maritim di Selat Malaka, Selat Sunda, Laut China Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata. Sriwijaya berhasil mengendalikan dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara.

Ketika bangsa-bangsa asing masih sibuk merancang kapal untuk mengarungi samudra, pelaut-pelaut Bugis sudah berlayar jauh sampai ke Madagaskar di Afrika. Ketika Amerika Serikat masih berjuang untuk kemerdekaannya dari penjajahan Inggris, Sriwijaya dan Majapahit sudah menjadi kerajaan adidaya.

Kebesaran dua kerajaan yang pernah berjaya di bumi Nusantara dan di kawasan Asia Tenggara itu, janganlah sekedar menjadi catatan sejarah. Kehebatan dan keadiluhungan para leluhur dan nenek moyang kita, seharusnya mampu memompa semangat kita, bahwa bangsa ini, pernah menjadi bangsa yang besar dan adiluhung, dan mampu kembali menjadi bangsa adi daya.

Sebagai generasi penerus bangsa, kita harus mau belajar dari perjalanan sejarah, serta harus berani melakukan introspeksi terhadap perjalanan bangsa saat ini sebagai suatu pengalaman yang berharga, untuk kemudian kita membidik target untuk mencapai cita-cita perjalanan bangsa ke depan.

Saudara-saudara sekalian,
Marilah kita melakuka refleksi sejenak terhadap perjalanan bangsa ke masa kini.
Kita harus patut bersyukur kehadirat Allah Subhanahu wata’ala, Tuhan Yang Maha Kuasa,
serta berterima kasih kepada seluruh pemimpin bangsa –  sejak proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia hingga hari ini –, termasuk kepada para mahasiswa yang menjadi motor penggerak reformasi pada tahun 1998, karena bangsa Indonesia menjelang 105 Tahun Kebangkitan Nasional serta 15 Tahun Reformasi, masih dalam keadaan bersatu dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), dan telah mencapai berbagai kemajuan pembangunan yang telah kita saksikan bersama-sama.

Posisi Indonesia saat ini di tengah percaturan bangsa-bangsa di dunia, khususnya dalam bidang ekonomi, harus diakui cukup berhasil.Pertumbuhan ekonomi kita sebesar 6,3%, hanya kalah dari China yang mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 7,7% pada tahun ini.

Akan tetapi saudara-saudara sekalian, kemajuan bangsa tentu tak bisa hanya diukur dari sisi pertumbuhan ekonomi.Bangsa ini baru bisa dibilang maju dan berhasil, jika keseluruhan rakyatnya bisa merasakan keadilan, kesejahteraan, serta rasa aman.

Kenyataan yang kita lihat dan rasakan hari ini adalah, keadilan belum dirasakan di mana-mana, baik dalam bidang hukum, ekonomi, dan kesejahteraan rakyat. Kita juga menyaksikan, semakin lebarnya kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin. Ironinya, semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, kesenjangan justru semakin dalam dan lebar. Selain itu dari hari ke hari rasa aman terus terusik.

Lantas siapa sesungguhnya yang menikmati pertumbuhan ekonomi ini? Siapa sesugguhnya yang menikmati kekayaan alam Bumi Indonesia? Siapa yang sesugguhnya yang menikmati freedom of poverty! Siapa yang sesungguhnya menikmati kemerdekaan?

Pada kesempatan ini, perkenankan saya mengutip dan mengingatkan kita kembali pada konsepsi Bapak Bangsa Ir. H. Soekarno tentang kemerdekaan, yakni Trisakti. Bung Karno, dalam pledoi “Indonesia Menggugat” yang sangat terkenal itu menegaskan: sebuah bangsa baru bisa dinyatakan merdeka sepenuhnya ketika mampu melaksanakan tiga syarat. Pertama, berdaulat di bidang politik. Kedua, berdikari dalam bidang ekonomi. Dan ketiga, berkepribadian dalam budaya sesuai jati diri bangsa.

Saudara-saudara sekalian, mari kita jujur pada hati nurani masing-masing. Apakah selama ini kita sudah berdaulat dalam mengambil segala keputusan, terutama mengenai arah kebijakan pembangunan dengan mengedepankan kepentingan nasional?

Apakah kita sudah berkeadilan dalam kebijakan pembangunan di pusat dan daerah?
Sebagai gambaran kita bersama, akhir pekan lalu saya menemui rakyat di Ujung Kulon, Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, yang jarak tempuhnya hanya sekitar tujuh jam atau 240 kilometer dengan perjalanan darat dari Jakarta. Seorang tokoh masyarakat di sana menggugat : mengapa hampir 68 Tahun Republik ini meredeka, desa mereka belum pernah menikmati jalan beraspal? Saya sangat meyakini, pertanyaan serupa juga dirasakan oleh saudara-saudara kita di pelosok daerah-daerah lainnya.

Pertanyaan mendasar berikutnya adalah, apakah kita sudah berdikari di bidang ekonomi, tanpa bergantung kepada bangsa lain dalam membangun ekonomi kita? Dan apakah kita sudah berkepribadian dalam bidang kebudayaan, bukan sebaliknya, berkarakter sebagai bangsa terjajah? Apakah kita juga sudah merasakan rasa aman dan nyaman dalam mengembangkan investasi usaha, dalam bekerja dan beraktifitas sehari-hari?

Saudara Saudara sekalian,
Para founding fathers sudah memproklamirkan negara ini pada tahun 1945, dengan menetapkan cita-cita Proklamasi NKRI, yakni membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur, yang juga menjadi cita-cita konstitusi Negara kita saat ini.

Pada tanggal 17 Agustus tahun 2015 nanti, NKRI sudah menginjak usia 70 tahun. Hari ini, tanggal 20 Mei 2013, kita memperingati 105 tahun Kebangkitan Nasional, sebuah peristiwa sangat bersejarah ketika bangsa ini mulai bangkit untuk memperjuangkan jati diri kebangsaannya, yang dipelopori oleh para pemuda dari berbagai daerah Nusantara. Dan besok, tanggal 21 Mei, kita menginjak masa 15 tahun era reformasi.

Momentum-momentum bersejarah dalam mozaik perjalanan kehidupan bangsa tercinta ini, hendaklah tidak berlangsung sekadar seremonial belaka. Momentum-momentum itu, seharusnya membangunkan kita dari tidur lena, ketika bangsa-bangsa lain justru berlari kencang.

Sekali lagi saya tekankan, kita harus berterima kasih, bukan hanya kepada para perintis kebangkitan nasional, pelopor perjuangan kemerdekaan, hingga para tokoh proklamator. Kepada seluruh pemimpin-pemimpin bangsa di era modern, para Presiden RI yang pernah memimpin negeri ini, juga harus kita sampaikan ucapan terima kasih yang besar, atas segala keberhasilan yang sudah dicapai sejauh ini.

Akan tetapi saudara-saudara sekalian, semua pencapaian itu belumlah cukup untuk memenuhi cita-cita proklamasi NKRI, yakni kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Sebuah hasil survey nasional di 33 Provinsi yang dilaksanakan oleh Indonesian Research and Survey (IRES) pada tanggal 17 sampai 27 April 2013 yang dirilis kepada pers tanggal 5 Mei 2013 lalu menyebutkan, dalam pembangunan nasional mendatang, dari 2.380 responden, sebanyak  74,9% menghendaki : Rakyat Sejahtera, Negara Aman.

Saudara Saudara sekalian,
Perkenankan saya menyampaikan sekelumit perjalanan spiritual saya dalam menunaikan ibadah umroh bersama keluarga pada Februari 2013 lalu. Dalam pandangan saya pribadi, yang saya simpulkan dari hasil istikharoh saya di hadapan Multazam,  serta berdasarkan pengamatan saya langsung di lapangan, terutama pada saat saya masih menjabat Pangdam VI Cenderawasih di Maluku, Pangdam Jaya, Kepala Staf TNI Angkatan Darat, serta Panglima TNI, maka yang harus diperjuangkan secara konstitusional untuk mencapai cita-cita Proklamasi 1945 adalah tuntutan Rakyat : yakni Indonesia Adil,  Sejahtera, dan Aman.

Untuk itulah kita tidak boleh berhenti berjuang dan harus bersatu bersama-sama dalam memenuhi cita-cita luhur itu. Sebagai seorang prajurit, tiga tahun lalu saya sudah memasuki masa pensiun atau purna tugas. Tetapi jiwa dan cita-cita pengabdian saya sebagai seorang prajurit tetap mengalir di dalam tubuh saya.

Oleh sebab itu, pidato saya malam ini saya beri judul : Rakyat Menuntut Indonesia Adil, Sejahtera, Aman, yang saya singkat dengan Gerakan Indonesia ASA. Saya akan memimpin langsung gerakan ini. Insya Allah, saya sudah selesai dan telah berdamai dengan diri dan keluarga saya sendiri.

Oleh sebab itulah,Gerakan Indonesia ASA ini lahir untuk mewujudkan Indonesia yang ADIL, SEJAHTERA, dan AMAN! Tetapi, tanpa dukungan dan kebersamaan dari saudara-saudara sekalian serta seluruh komponen masyarakat, maka gerakan yang saya canangkan malam ini tidak akan berarti apa-apa. Mari kita bersatu, bangkitlah bangsaku, bersama Gerakan Indonesia ASA.

Saya tegaskan kembali, Program Nasional Gerakan Indonesia ASA mengemban misi konstitusional, yakni untuk mempercepat terwujudnya kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, yang Adil, Sejahtera, dan Aman, melalui visi tegas: Rakyat Sejahtera, Negara Aman! Mudah-mudahan usaha kita bersama ini akan mendapatkan ridho Allah Subhana wata’ala, Tuhan Yang mahaka Kuasa.

Sebagai anak bangsa yang pernah memperoleh kesempatan untuk memimpin Tentara Nasional Indonesia,  saya yakin teramat yakin, bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang lemah. Bangsa ini adalah bangsa yang kuat, dan terbukti mampu bertahan dalam segala situasi.Yang kita butuhkan saat ini adalah moralitas, semangat, dan komitmen kerja keras bersama-sama untuk kembali bangkit. Kelak, di usia 100 tahun Indonesia pada tahun 2025, insya Allah Indonesia akan menjadi sebuah negara adidaya.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.