Rabu, 3 Juni 20

Diunggah: Demo ‘Anti China’ di Hong Kong, Wartawan Indonesia Ditembak Polisi

Diunggah: Demo ‘Anti China’ di Hong Kong, Wartawan Indonesia Ditembak Polisi
* Veby Mega Indah saat matanya ketembak polisi China Hong Kong

Dibantah, klaim pengawas polisi atas penembakan jurnalis Indonesia di Hong Kong, Veby Mega Indah oleh polisi saat meliput aksi demo ‘anti China’ di Hong Kong yang menolak RUU Ekstradisi pro rezim Tiongkok daratan.

Wartawan Hong Kong, Mimi Lau, menolak laporan pengawas polisi tentang kronologis penembakan terhadap wartawan Indonesia, Veby Mega Indah, saat meliput unjuk rasa ‘anti China’ di Hong Kong pada akhir September 2019.

Mimi Lau, yang bekerja untuk The South China Morning Post, mengatakan deskripsi Dewan Pengaduan Polisi Independen Hong Kong soal insiden penembakan terhadap Veby Mega “tidak akurat”.

Melalui unggahan di Twitter, hari Jumat (15/5/2020), Mimi Lau mengatakan, “Veby bukan terkena ‘sesuatu’, ia terkena tembakan polisi.”

Sebelumnya, Dewan Pengaduan Polisi Independen Hong Kong merilis laporan dengan menyebutkan bahwa “pengunjuk rasa dan wartawan tidak mengindahkan peringatan polisi … tiba-tiba, seorang reporter Indonesia terkena sesuatu di mata kanannya dan jatuh ke tanah”.

Namun laporan yang dikeluarkan itu tidak menjawab tuduhan pelanggaran yang dilakukan sejumlah polisi.

Laporan ini disusun untuk menilai kinerja polisi Hong Kong dalam menangani gelombang unjuk rasa, menyusul rencana pemerintah membolehkan warga Hong Kong diadili di Cina daratan pada Juni 2019.

Laporan dewan pengawas polisi menyebutkan secara umum tindakan polisi sudah sesuai prosedur, namun meminta polisi mengkaji ulang penggunaan gas air mata.

Dalam laporan itu, aksi demonstran dikecam, sementara “brutalitas polisi diabaikan”.

Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, menyambut baik isi laporan, namun oposisi dan para pegiat HAM menggambarkannya sebagai “upaya menutupi kesalahan polisi”.

Menurut laporan ini, “polisi Hong Kong meremehkan risiko serangan oleh kerumunan di kawasan Yuen Long pada 21 Juli dan gagal membantah rumor kerja sama dengan geng-geng penjahat”.

Situasi ini, menurut laporan tersebut, menjadi “katalis” protes yang berkepanjangan. Laporan ini tidak menemukan bukti kerja sama antara polisi dan geng penjahat.

Hal lain yang diangkat adalah, polisi diminta melakukan kajian tentang definisi “kerusuhan”, hukuman maksimal 10 tahun penjara, dan apakah intensitas tindakan yang diambil dalam menangani puluhan ribu pengunjuk rasa yang berkumpul di luar gedung dewan perwakilan pada 12 Juli tahun lalu, bisa dikurangi skalanya.

Pengunjuk rasa dan pegiat HAM mengatakan tindakan polisi berlebihan, sementara polisi mengatakan selama ini mereka telah menahan diri.

Demonstran dan sejumlah politisi mengkritik dewan pengawas polisi sebagai “lembaga yang tidak bergigi” dan mendesak agar penyelidikan dipimpin oleh hakim.

Panel pakar internasional mundur sebagai penasehat dari dewan pengawas, dengan alasan dewan tak punya kapasitas untuk melakukan investigasi secara semestinya.

Insiden penembakan versi wartawan
Mimi Lau mengatakan, dirinya dan sesama wartawan The South China Morning Post, Sarah Zheng, adalah saksi mata langsung insiden yang menimpa Veby Mega dan berada hanya beberapa meter dari posisi Veby.

Mimi Lau mengatakan bahwa ketika itu “polisi tidak memerintahkan demonstran atau reporter untuk meninggalkan tempat”. Juga, “tidak ada peringatan dari polisi sebelum penembakan”.

Ia menyertakan video rekaman dan video Facebook Live ketika insiden terjadi. Mimi Lau mengatakan, video menunjukkan “polisi mengangkat senjata dan mundur melalui tangga, kemudian pemrotes maju ke depan”.

“Polisi mengeluarkan tembakan dan mengenai Veby. Ia jatuh ke tanah,” kata Mimi Lau.

Insiden penembakan terjadi pada 29 September 2019 ketika Veby melakukan Facebook live untuk media tempat ia bekerja, Suara Hong Kong News.

Pelaporan langsung melalui Facebook ini ia lakukan di jembatan penyeberangan di Wan Chai, yang terhubung dengan gedung Immigration Tower. Tembakan dengan peluru karet ini menyebabkan mata kanan Veby kini tidak bisa melihat.

Dalam wawancara dengan The South China Morning Post pada Desember 2019, Veby mengatakan ia tadinya mengira tembakan ini akan mengakhiri hidupnya. “Mereka menenangkan saya dan meminta saya untuk tidak tertidur,” kata Veby.

Jurnalis Indonesia di Hong Kong ini menuturkan setelah terkena tembakan dan tersungkur, ada tim pertolongan pertama pada kecelakaan yang membantu dirinya, termasuk meminta ia adar tetap tersadar.

Ia menjalani perawatan di rumah sakit dan dokter mengatakan mata kanannya tak bisa lagi difungsikan dan ia harus tergantung dengan mata kirinya.

Sehari setelah insiden, kepolisian Hong Kong menggelar keterangan pers dan mengatakan bahwa polisi bisa melihat ada wartawan di jembatan penyeberangan.

“Namun ada pula demonstran beringas yang menyerang polisi … rekan-rekan polisi ketika itu tak punya pilihan [dan] menggunakan kekuatan untuk mengatasi keadaan,” kata Tse Chun-chung, pejabat kepolisian Hong Kong.

“Saya yakin ia tidak menembak wartawan dengan sengaja,” katanya.

Veby mengungkapkan insiden ini meninggalkan trauma, yang membuatnya kadang terbangun di malam hari.

Atas kejadian ini, Veby menggugat polisi Hong Kong, gugatan yang ia gambarkan sebagai “selain untuk menegakkan keadilan, juga demi para korban unjuk rasa di Hong Kong”.

Ia juga mengatakan mestinya anggota polisi yang menembak dirinya ditindak.

Hong Kong dilanda gelombang unjuk rasa setelah pemerintah mengeluarkan rancangan aturan yang memungkinkan warga Hong Kong diadili di China daratan.

Aksi antipemerintah kemudian berkembang menjadi gerakan yang ditujukan untuk memastikan Hong Kong tetap menghormati prinsip-prinsip demokrasi. Protes tahun lalu sering diwarnai kerusuhan dan lebih dari 8.000 pengunjuk rasa ditahan. (BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.