Rabu, 3 Juni 20

Ditekan Mundur, Presiden Maduro Malah Usul Pemilu Dipercepat

Ditekan Mundur, Presiden Maduro Malah Usul Pemilu Dipercepat
* , Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Menyedihkan! Venezuela, negara penghasil minyak yang kaya raya tiba-tiba menjadi negara ‘termiskin’ alias bangkrut. Penyebab bangkrutnya Venezuela antara lain karena turunnya ekspor minyak, terlilit utang, salah kebijakan ekonomi, inflasi naik tajam, terpuruk dalam bisnis dan industri. Kini, akibat munculnya kelompok oposisi di Venezuela semakin menjadikan negara kaya minyak di Amerika Latin itu semakin carut marut.

Ditambah lagi dengan adanya intervensi dari pihak Amerika Serikat (AS) membuat negara ini silang sengkarut. Lebih edan lagi, Wakil Presiden AS Mike Pence mengklaim bahwa seluruh opsi untuk Presiden Venezuela tersedia di atas meja dan ia kembali menginginkan kudeta dan penggulingannya. Fars News (2/2/2019) melaporkan, Wapres AS di hadapan belasan warga Venezuela di Florida (1/2/2019), menegaskan bahwa sekarang sudah waktunya untuk mengambil tindakan guna mengakhiri rezim sosialis Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Langkah-langkah oposisi Venezuela yang mendapat dukungan luas dari pihak asing, terutama AS dan setelah mereka mengambil kendali atas Forum Nasional Venezuela sejak pemilihan parlemen 2016, telah memperumit situasi politik di Venezuela. Sepanjang protes dan demonstrasi, oposisi terus melakukan upaya terorganisir dengan dukungan dan bantuan langsung AS yang bertujuan untuk melengserkan Presiden Maduro dan menggulingkan pemerintah sayap kiri negara ini.

Dalam hal ini, Juan Guaido, pemimpin oposisi Venezuela menyebut dirinya presiden Venezuela pada 23 Januari 2019, dengan dukungan nyata dari AS dan sekutunya. Aksi ini merupakan sebuah tindakan yang oleh pemerintah dan bangsa Venezuela disebut sebagai kudeta terhadap presiden terpilih, Maduro. Menurut Abuzar Gohari, ahli urusan Amerika, “Apa yang terjadi di Venezuela agak mirip dengan revolusi warna di Eropa Timur dan Asia Tengah yang mencoba melegitimasi oposisi.”

AS dan sekutunya mendukung kudeta Venezuela demi mendukung Juan Guaido dan menggulingkan pemerintah sayap kiri. Para pejabat senior AS juga secara terbuka membicarakan hal ini. Mike Pence, Wakil Presiden AS dengan mendukung oposisi pemerintah Maduro, telah mengklaim bahwa Amerika berdiri di sisi para penuntut kebebasan Venezuela, saatnya telah tiba untuk berunding dan sekarang Maduro harus pergi, karena AS memiliki semua opsi di atas meja.

Terlepas dari niat jahat dari oposisi, khususnya Guaido yang menyebut dirinya Presiden Venezuela dalam proses ilegal, Maduro yang telah berulang kali menyatakan penentangannya terhadap intervensi asing dalam urusan internal Venezuela, dalam aksi damai ia menyerukan pemilihan parlemen dini di negara itu. Pada 2 Februari 2019, Maduro menyarankan agar pemilu “Kongres Nasional” Venezuela yang berada di bawah kendali oposisi yang didukung Barat segera diselenggarakan.

Presiden Venezuela di depan para pendukungnya di Caracas mengingatkan bahwa Dewan Pendiri segera membahas penyelenggaraan pemilu dini Kongres Nasional. Pemilu “Kongres Nasional Venezuela” dijadwalkan akan diselenggarakan tahun 2020. Pemilihan parlemen Venezuela terbaru diadakan pada tahun 2016. Dalam tiga tahun terakhir, Kongres Nasional Venezuela telah dipimpin oleh pemimpin oposisi Juan Guaido. Sementara Mahkamah Agung Venezuela pada 19 Januari memberhentikan “Juan Guaido” setelah kudeta gagal sekelompok militer untuk melengserkan Maduro.

Meskipun Maduro menawarkan bantuan untuk menyelesaikan krisis politik saat ini dan memungkinan bagi rakyat Venezuela untuk mengekspresikan pandangannya melalui kotak suara dan praktik demokrasi, tapi kemungkinannya sedikit sekali dari kubu oposisi yang puas, terutama pemimpinnya Juan Guaido yang sekarang berpikir dirinya mendapat dukungan penuh dari Barat, terutama Amerika Serikat.

Guaido yang sekarang telah mendapat wewenang sumber-sumber finansial dari Amerika telah mengambil langkah-langkah seperti menunjuk duta besar dan bahkan mengklaim telah bernegosiasi dengan beberapa pemimpin militer untuk mendapatkan loyalitas mereka. Ia sekarang melihat dirinya di jalan menuju kemenangan di bidang perjuangan politik dengan Maduro dan tidak bersedia berkompromi dengannya.

Sekalipun demikian, bertentangan dengan ilusinya, rakyat dan militer Venezuela telah menunjukkan kesetiaan mereka kepada Maduro. Itulah mengapa, terlepas dari konspirasi Amerika Serikat dan para mitranya, ia tetap menjadi pendukung pemerintah Venezuela dan presiden sah negara itu.

Dua minggu sejak dilantiknya kembali Nicolas Maduro sebagai presiden Venezuela, upaya kubu oposisi untuk menggulingkan pemerintahan negara itu terus berlanjut. Hari Senin (21/1/2019) oposisi kembali mencoba melancarkan aksi kudeta untuk menjatuhkan Maduro dan merebut kekuasaan, namun upaya ini digagalkan aparat keamanan. Aksi kudeta itu dilakukan oleh sejumlah personel keamanan yang dipimpin komandan polisi Macarao, Gerson Soto Martinez. Namun, para pengkudeta tidak berhasil meraih tujuan dan akhirnya menyerah kepada aparat keamanan.

Tidak Menyerah pada AS
Presiden Venezuela di hadapan ribuan pendukung pemerintah negara itu mengatakan, orang-orang haus perang di Gedung Putih bekerja untuk Presiden Amerika Serikat, namun Venezuela tidak akan pernah menyerah dan mematuhi Amerika.

Kantor berita Perancis (2/2/2019) melaporkan, Presiden Venezuela Nicolas Maduro di hadapan para pendukungnya menuturkan, Presiden Amerika Donald Trump adalah seorang yang tertipu mentah-mentah karena ia mempekerjakan orang-orang yang haus perang dan punya masalah dengan Venezuela.

Maduro kepada Donald Trump mengatakan, anda pikir anda siapa, penguasa dunia ? Anda pikir kami akan menyerah dan mematuhi perintah anda ? Kami tidak akan pernah menyerah.

Para pendukung Maduro memadati jalan-jalan di beberapa kota negara itu pada hari Sabtu (2/2) untuk menegaskan kesetiaan mereka kepada Presiden Venezuela itu dan pemerintahan anti-imperialisnya.

Venezuela telah menderita banyak kerusuhan selama beberapa tahun terakhir akibat penurunan harga minyak. Gejolak telah meningkat karena kurangnya pemulihan dan perubahan struktur minyak, inflasi yang tidak terkendali, kemiskinan, masalah ekonomi dan mata pencaharian lainnya serta krisis pangan. Kini, memang dibutuhkan Venezuela bersatu agar tidak mempan diintervensi pihak asing yang berkeinginan negara tersebut hancur.

Militer Venezuela segera menggelar latihan militer besar-besaran untuk bersiap-siap membela negara dari potensi intervensi asing. Presiden Maduro menyerukan penyelenggaraan manuver militer dalam menanggapi ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap kemungkinan aksi militer.

Beberapa hari lalu, AS menjanjikan dukungan penuh kepada pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido yang telah memplokamirkan diri sebagai presiden sementara dan menegaskan untuk tidak mengesampingkan intervensi militer. Mengenai hal itu, Maduro mengatakan, Angkatan Bersenjata Nasional Venezuela harus siap untuk membela negara “dalam skenario apa pun” dan mengumumkan latihan besar-besaran pada 10-15 Februari 2019. (ParsToday/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.