Senin, 25 Oktober 21

Disebut Cabuli Santrinya, Seorang Ustadz Diminta Lapor Balik

Disebut Cabuli Santrinya, Seorang Ustadz Diminta Lapor Balik

Medan, Obsessionnews – Puluhan masyarakat dan pemuda Desa Paya Geli Kecamatan Sunggal, mendadak mendatangi rumah Kepala Lingkungan Desa Paya Geli, Sulaiman, peristiwa ini terkait terbongkarnya kasus ditangkapnya salah seorang Ustad Drs H Marasonang Srg, oleh unit reskrim Polda Sumatera Utara (Sumut) terkait dugaan perbuatan asusila terhadap mantan muridnya di tempat Marasonang mengajar di sebuah Yayasan pendidikan Swasta di Sei Sikambing Medan.

Di depan puluhan masyarakat dan pemuda Desa Paya Geli Marasonang Srg, menceritakan kronologis kasus yang menimpanya, sehingga dirinya dijemput paksa ke Polda Sumatera Utara.

“Tahun yang lalu sekitar bulan 5 (Mei 2015) saya di laporkan seorang orang tua ke Polda (Sumut), dengan satu masalah keterkaitan putri beliau,” ujar Marasonang di rumah Kepala lingkungan Desa PayaGeli, Selasa (15/3/2016) malam.

Dijelaskannya lebih lanjut, bahwa setelah 1 bulan dari tanggal laporan tersebut dirinya akhirnya dijeput paksa oleh polisi, satu hari sebelum hari raya haji (Idul Adha) 2015.

Sulaiman memohon agar Marasonang Srg jangan dahulu dibawa pada malam itu, dimana bertepatan dengan hari Raya Qurban dan Marasonang merupakan Ketua Panitia Korban di Desa Paya Geli.

Setelah itu satu penyidik Polri, yang sudah berada di rumah Kepala Dusun, menelpon atasanya agar penjemputan paksa ditunda dan akhirnya di lakukan esok hari.

“Besok nya sekitar jam 9 pagi oleh pihak Polda menemui saya di Gang Banteng, (Sei Sikambing) Brigadir Arfan membisikan, Ustad, saya orang muslim, dan saya di tugaskan dari Polda untuk membawa Ustad ke Polda, saya bilang siap, tapi tunggu dulu Boss saya, sekitar 10 menit bosnya (Brigadir Arfan) datang, bagai mana? Saya jawab siap,” jelas Marasonang.

Masih Menurut pengakuan Marasonang, bahwa oleh kepolisian Polda Sumut, setelah melakukan serangkaian pemeriksaan (BAP) terhadap dirinya di Polda sebagai tersangka, penyidik Polda menyerahkan kasus asusila itu kepada kedua belah pihak, baik pelapor dan tersangka untuk dapat di selesaikan secara kekeluargaan dengan jalan berdamai.

“Sesama muslim kami saling bermaaafkan, Tapi kata polisi ini belum selesai, sampailah, 3 Minggu kedepan, kemudian keluar SP3 (surat perintah penghentian penyidikan) keluar setelah ada kesepakatan antara penuntut (pelapor) dengan saya,” ujar Marasonang lagi.

Mendapat penjelasan tersebut, warga yang mendengar jawaban Ustad Marasonang, merasa tidak puas, selanjutnya mereka tetap meminta agar Marasonang tidak lagi melakukan aktifitasnya menjadi Iman dan pengurus Masjid Al-Rohani Desa PayaGeli karna secara moral sudah tidak disukai warga.

“Kami meminta untuk tidak lagi menjadi iman dan beraktifias di Masjid Al-Rohani,” ujar Jamel dengan tegas.

Mendapat, permintaan dan keberatan warga itu Marasonang Srg, tidak terlalu menghiraukannya. “Kalau saya tidak disukai menjadi imam, saya tidak masalah, kalau saya menjadi imam yang di benci hanna masalah,” ujar Marasonang.

Salah seorang warga yang hadir coba memberikan solusi terhadap kasus yang menimpa Marasonang agar tidak terus menimbulkan fitnah dan tanda tanya di warga masyarakat, jika memang Marasonang Srg tidak terbukti bersalah dan Polisi tidak memiliki bukti terhadap kasus asusila anak di bawah umur yang dituduhkan terhadapnya, maka warga mendorong agar Marasonang untuk kembali mengambil langkah hukum melaporkan saudara Marzuki yang telah melaporkan Marasonang Srg ke Polda sebagai bukti bahwa dirinya benar-benar tidak bersalah sebagai mana laporan ayah korban Marzuki.

“Sesuai dengan Pasal 109 Ayat 2 KUHAP, maka jika benar tuduhan itu tidak terbukti, maka mari sama-sama kita dukung Ustad Marasonang melaporkan balik saudara Marzuki, karena telah melakukan fitnah mencemarkan nama baik terhadap Ustad Marasonang ,” ujar Putra Darus.

Namun yang anehnya permintaan salah seorang warga tersebut tidak mau dipenuhi Ustad Marasonang dengan alasan mereka sudah saling memaafkan.

Diakhir perdebatan itu, salah seorang warga lainya, Amir (25) mempertanyakan, benarkah nantinya Ustad Marasonang akan menikah dengan korban anak pak Marzuki sebagai mana yang di ketahui warga dari Kepala Lingkungan. “Bentul ustad akan menikah setelah anak itu selesai sekolah,” ujar Amir.

Mendapat pertanyaan tersebut, Marasonang seperti terpojok dan mendadak marah.‎ “Apa urusan kau,” jawabnya dengan penuh amarah.

Masyarakat yang hadir pada malam itu merasa tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, namun mereka akhirnya sepakat membubarkan diri dengan tertib dan hingga 3 hari berlalu sejak malam itu rumah Ustad Marasonang di Paya Geli Dusun 1 selalu tutup dan sepi.

Seperti diketahui dalam menghentikan suatu penyidikan, maka penyidik akan mengkaji syarat-syarat penghentian penyidikan yang sudah ditentukan dalam Pasal 109 ayat (2) KUHAP, yaitu dalam hal ini.

1. Tidak terdapat cukup bukti

2. Peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana

3. Penyidikan dihentikan demi hukum:

a. Terdakwa meninggal dunia (Pasal 77 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau KUHP)

b. Perkaranya nebis in idem (Pasal 76 KUHP)

c. Perkaranya kedaluwarsa/verjaring (Pasal 78 KUHP)

d. Pencabutan perkara yang sifatnya delik aduan (Pasal 75 KUHP, Pasal 284 ayat 4 KUHP). (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.