Jumat, 29 Mei 20

Dirjen Migas Disebut Terlibat dalam Penggrebegan Gudang Oli

Dirjen Migas Disebut Terlibat dalam Penggrebegan Gudang Oli

Jakarta – Sekelompok massa aksi yang mengatasnamakan dirinya Aliansi Masyarakat Peduli Migas (AMPM), menuding Dirjen Migas berada di balik aksi penggerebekan gudang CV Case Trading (distributor PT Fuchs Indonesia) di Surabaya yang merupakan gudang penyimpanan oli. Tudingan itu mereka sampaikan saat berunjuk rasa di depan kantor Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Jakarta, senin (8/12/2014).

Selain itu, massa aksi juga mencurigai ada permainan label NPT yang dilakukan oleh Dirjen Migas ‎di dalam produk oli PT. Fuchs. Pasalnya, mereka mengaku pemberian label itu sebelumnya tidak ada, namun kemudian ada setelah CV Case Trading (distributor PT Fuchs Indonesia)  digerebek oleh Polda Jatim.

Karena itu, mereka menduga ada permainan, oknum berwenang di Dirjen Migas yang melakukan kejahatan dari sebuah produsen kepada distributor, permainan tentang label NPT yang bisa dalam sekejap ada, padahal setahun sebelumnya saat masih beroperasi label tersebut tidak ada.

Hal itu bisa pemberian label tersebut dianggap merugikan negara atas ulah oknum yang bukannya menutup produsen atas dasar kesalahannya, namun justru menerbitkan label NPT untuk bisa terus beredar seolah itu bukan persoalan serius yang merugikan banyak pihak termasuk negara.‎

“AMPM menuntut ‎agar pemerintah mencabut Cabut izin Fuchs. Pulihkan nama baik distributor yang telah di cemarkannya. Dan juga menuntut PT Fuchs harus diusut secara pidana,” ujar koordinator aksi, Rahmad.

Sementara itu, kuasa hukum CV. Case Trading, Bambang Rusdyanto, mengatakan pihaknya keberatan atas penggrebegan yang dilakukan Polda Jatim di perusahaan kleinya. Ia sudah mengirimkan surat kepada Dirjen Migas tapi tidak pernah ditanggapi. Untuk itu, ia berencana menaikkan status ke jalur hukum yang lebih tinggi. Kemudian, Bambang juga mengaku sudah melayangkan surat ke  Presiden Republik Indonesia, Mentri ESDM, Pimpinan MPR-DPR RI, KPK, Ombudsman, Komnasham, dan Lembaga Kajian Hukum Universitas Erlangga di Surabaya, Jawa Timur.

Diketahui, Gudang CV Case Trading (distributor PT Fuchs Indonesia) di Jalan Kalianak Barat 73/A-22 telah digerebek oleh Polda Jatim pada Oktober lalu. Kasus ini kemudian berbuntut panjang. Bambang menjelaskan, pengusaha yang bergerak di bidang usaha minyak pelumas selama setahun itu menyoal maksud PT Fuchs Indonesia yang tiba-tiba mengirimkan surat dan label NPT (ijin edar) pasca kliennya harus berurusan dengan penyidik Unit Indagsi Ditrereskrimsus Polda Jatim.

“Pertanyaan kita, kenapa setelah setahun berjalan baru digerebek? Lalu dikirimi surat dan label NPT, maksud perusahaan mengirim itu apa?,” ujarnya Minggu (9/11) lalu.

Padahal menurutnya, kliennya ditunjuk sebagai distributor resmi sejak 1 Oktober 2013 oleh PT Fuchs Indonesia. Namun, atas laporan dari LPPKN terkait tindak pidana perlindungan konsumen itu banyak kerugian yang diderita kliennya.

“Sampai saat ini, kami belum mengaudit soal kerugian yang diderita klien baik itu material atau pribadi (investasi, red.). Itu termasuk disegelnya gudang sehingga tidak bisa beroperasi, dan biaya promosi untuk memasarkan produk oli fuchs dengan mobil milik CV Case Trading,” jelasnya.

Untuk itu, secara terbuka menyampaikan permintaan maaf kepada konsumen yang selama ini menggunakan produk yang didistribusikan CV Case Trading dan memutuskan kerjasama dengan PT Fuchs Indonesia.

“Mohon maaf atas kerugian selama pendistribusian dari kami. Mulai hari ini (kemarin, red.) klien kami memutuskan hubungan kerjasama. Harusnya yang bertanggungjawab PT Fuchs Indonesia sebagai importir, klien kami hanya distributor saja,” tegas Bambang. (Abn)

 

Related posts