Senin, 26 Oktober 20

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) – Tito Sulistio

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) – Tito Sulistio
* Tito Sulistio.

Bursa Efek Indonesia (BEI) di bawah kepemimpinan Tito Sulistio semakin bagus. Hal tersebut terlihat dari kinerjanya yang langsung merespon keinginan Presiden Joko Widodo agar perusahaan sektor pertambangan dan perkebunan yang beroperasi di Indonesia segera melantai di bursa efek Tanah Air.


Untuk mendorong perusahaan sektor tersebut, Tito mengaku akan segera mendatangi dua perusahaan tambang besar seperti PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PT AMNT). Sebelumnya PT Newmont Nusa Tenggara, untuk segera melantai di Bursa Efek Indonesia.

Selain kedua perusahaan itu, pihaknya juga akan melakukan pendekatan ke 52 perusahaan lainnya. Sebab, nilai dari suatu perusahaan tersebut (market cap) di atas Rp 400 triliun. Dari 52 perusahaan itu, ada dua perusahaan yang sulit dilakukan pendekatan. Meski demikian, pihaknya tetap berusaha agar perusahaan tersebut tercatat di bursa efek Indonesia, salah satunya dengan cara paksa (force delisting). Menurut Tito, cara tersebut bisa dilakukan otoritas bursa jika perusahaan tidak ikut aturan seperti laporan keuangan dan di-suspend 2 tahun. Sehingga, cara force delisting bisa diterapkan.

Jumlah perusahaan yang listing di pasar modal mulai ramai seiring dengan peringkat investment grade yang diraih Indonesia. Hal inilah yang menjadi keyakinan BEI bila target emiten baru yang listing atau IPO akan mencapai target.

Berdasarkan daftar bursa, sudah ada 24 perusahaan yang berniat IPO. Makanya, BEI yakin target bursa sebanyak 35 emiten bisa tercapai di tahun 2017 ini. Ternyata memang pengaruh Tito di dunia bisnis di Indonesia cukup besar. Hal itu dapat terlihat dari caranya bekerja yang akan meminta dua perusahaan raksasa seperti PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PT AMNT) untuk melantai di Bursa Efek Indonesia.

Pada satu pertemuannya dengan Bapak Presiden Joko Widodo, Presiden Jokowi meminta Tito bekerja lebih keras untuk menambah lebih banyak jumlah emiten di pasar modal. Sebab semakin banyak produk maka semakin besar industri pasar modal. Pada dasarnya disuruh kerja lebih keras supaya buat produk lebih banyak. Supaya dana asing bisa lebih banyak masuk. Tito mengatakan, memang jumlah emiten menentukan sejumlah indeks seperti MSCI memperbanyak bobot saham-saham Indonesia di dalamnya. MSCI sendiri merupakan indeks global yang menjadi acuan seluruh investor saham menempatkan portofolionya di seluruh dunia. Kalau produk banyak bobot MSCI (Indonesia) bisa naik. Bobot MSCI hanya bisa naik kalau produk lebih banyak dan pasar lebih besar. Indeks MSCI memang sangat penting bagi Indonesia. Apa lagi ada sekira USD 11.000 triliun dana investasi yang mengikuti indeks MSCI.

Selain itu, satu hal yang menjadi kebanggaan Bursa Efek Indonesia di bawah kepemimpinannya, adalah peran Bursa Efek Indonesia yang sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini tercermin dari pertumbuhan return IHSG hingga semester I 2017 melesat 10,06% ke angka tertingginya sepanjang sejarah berdirinya Pasar Modal Indonesia di level 5.829,708 dari posisi 30 Desember 2016. Dan juga sepanjang 2016, BEI mencatatkan laba bersih sebesar Rp344,8 miliar atau naik 192,37% dibandingkan dengan laba bersih pada 2015 sebesar Rp118,78 miliar. (Poy)

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Men’s Obsession edisi Agustus 2017.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.