Sabtu, 4 Desember 21

Direktur Utama BPJS Kesehatan – Fachmi Idris

Direktur Utama BPJS Kesehatan – Fachmi Idris
* Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di bawah pimpinan Prof. Dr. dr. Fachmi Idris, M.Kes telah memberikan peran banyak bagi masyarakat dalam dunia kesehatan. Hal tersebut terlihat dari pencapaian pada 2017 kepesertaan BPJS Kesehatan sudah mencapai 180 juta jiwa. Yang membanggakan, pencapaian tersebut diraih hanya dalam waktu 3,5 tahun. Ya, bagi Fachmi itu sebuah angka yang sangat fantastis.

 


Selain itu, Fachmi sangat memahami apa yang dibutuhkan oleh masyarakat tidak mampu. Melalui BPJS Kesehatan, masyarakat sudah tidak perlu khawatir mengunjungi ke rumah sakit karena alasan tidak memiliki biaya karena dapat difasilitasi oleh BPJS Kesehatan. Tentu selama peserta JKN-KIS mengikuti prosedur dan ketentuan yang berlaku, serta membayar iuran tepat waktu. Untuk itu Fachmi menginginkan masyarakat peduli terhadap kesehatannya dan proteksi finansial dengan mengikuti BPJS Kesehatan agar ketika sakit tak perlu kesulitan lagi mencari dana untuk biaya pengobatan di Rumah Sakit.

 

Tidak hanya itu, BPJS Kesehatan juga memastikan selalu berupaya memberikan pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien bagi peserta JKN-KIS, tanpa menomorduakan aspek kualitas pelayanan kesehatan. Untuk memberikan pelayanan yang maksimal BPJS Kesehatan juga selalu berkoordinasi dengan seluruh mitra fasilitas kesehatan, koordinasi tersebut berupa peningkatan kualitas informasi, sistem prosedur, serta penyamaan persepsi, yang dilakukan dengan melibatkan para pemangku kepentingan.

Hingga 28 Juli 2017, terdapat total 20.952 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang bermitra dengan BPJS Kesehatan, yang terdiri atas 9.839 Puskesmas, 4.542 Dokter Praktik Perorangan, 1.156 Dokter Praktik Gigi Perorangan, 5.402 Klinik Pratama, dan 13 RS D Pratama. Selain itu, BPJS Kesehatan juga telah bekerja sama dengan 5.504 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) yang terdiri atas 2.203 Rumah Sakit (termasuk di dalamnya 189 Klinik Utama), 2.299 Apotek, serta 1.002 Optik.

Selain untuk memberikan pelayanan kesehatan, lembaga milik negara ini, terbukti telah membawa kontribusi besar. Pada tahun 2016, secara umum JKN-KIS telah menyumbang sebesar Rp 152,2 triliun terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Artinya program ini bukan hanya menggerakan rumah sakit tapi juga industri obat, industri makanan dan minuman, hingga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat,” terang Fachmi.

Fachmi mengungkapkan bahwa Pemerintah telah memberikan kontribusi besar bagi keberlangsungan program JKN-KIS. Dari sisi kepesertaan, pemerintah juga telah mendaftarkan masyarakat yang tidak mampu menjadi peserta JKN-KIS kategori PBI APBN, serta membiayai iuran mereka. Kemudian untuk mengimbangi jumlah peserta JKN-KIS yang terus meningkat dari waktu ke waktu, pemerintah juga telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana yang menunjang pelayanan kesehatan kepada masyarakat, seperti jumlah fasilitas kesehatan, ketersediaan obat, tenaga medis, alat-alat penunjang medis, dan sebagainya. (Bal)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.