Sabtu, 20 Agustus 22

Dipimpin Faida Angka Kemiskinan di Jember Turun

Dipimpin Faida Angka Kemiskinan di Jember Turun
* Bupati Jember Faida. (Foto: jemberkab.go.id)

 Salah satu indikator kesuksesan seorang kepala daerah adalah mengentaskan kemiskinan. Bupati Jember Faida salah seorang kepala daerah yang berhasil menurunkan angka kemiskinan.

 

Jember, Obsessionnews.com – Semula Faida dikenal sebagai seorang dokter. Ia menduduki kursi Direktur Utama (Dirut) RS Bina Sehat di Kabupaten Jember, Jawa Timur (Jatim). Faida juga mengepalai Bina Sehat Training Center, sebuah lembaga pendidikan perawat khusus untuk dikirim ke luar negeri.

Popularitasnya melejit ketika dalam beberapa tahun Faida aktif menggelar operasi penyakit katarak dan hernia untuk warga miskin di Jember secara gratis. Tanpa kenal lelah ia bersama teman-temannya blusukan dari desa satu ke desa lain untuk melakukan operasi katarak dan hernia secara gratis.

Ingin berbuat lebih banyak untuk masyarakat, Faida kemudian terjun ke kancah politik. Faida maju sebagai calon bupati pada Pilkada Jember 2015. Ia berpasangan dengan Abdul Muqit Arief, pengasuh pondok pesantren di Jember. Duet Faida-Abdul diusung oleh Partai Nasdem, PDI-P, PAN, dan Hanura. Mereka bersaing dengan pasangan Sugiarto-Dwi Koryanto yang diusung Partai Gerindra, PKB, PKS, Golkar, PPP, dan Partai Demokrat.

Popularitas Faida sebagai dokter yang aktif memberikan pengobatan gratis untuk warga miskin berdampak positif pada Pilkada 2015. Faida-Abdul memenangkan pilkada dengan meraup 525.519 suara atau 53,76 persen, sedangkan Sugiarto-Dwi memperoleh 452.085 suara (46,24 persen).

Faida-Abdul dilantik menjadi Bupati-Wakil Bupati Jember oleh Gubernur Jatim Soekarwo di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, 17 Februari 2016.

Faida memecahkan rekor sebagai wanita pertama yang menjadi bupati dalam sejarah Kabupaten Jember.

“Saya tidak menyangka terjun ke dunia politik dan menjadi bupati,” kata Faida merendah.

Setelah menduduki kursi Bupati Jember Faida melanjutkan aksi kemanusiaan operasi penyakit katarak dan hernia secara gratis. Faida menjelaskan tahun 2017 sebanyak 1.200 orang telah melakukan operasi hernia secara gratis.

Sementara itu di bidang pendidikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember memberikan beasiswa untuk seribu mahasiswa dari berbagai kelompok. Pemkab Jember memberikan beasiswa Rp 1,5 juta per bulan untuk satu mahasiswa. Pemberian beasiswa tersebut diprioritaskan pada keluarga miskin.

Sejak dipercaya menjadi bupati, salah satu program utama Faida adalah mengentaskan kemiskinan. Untuk itu ia membuat berbagai program pengentasan kemiskinan yang meliputi program perlindungan sosial, peningkatan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan inklusif.

Berbagai program tersebut berhasil menurunkan angka kemiskinan. Jumlah penduduk miskin pada 2015 sebanyak 269.540 jiwa, sedangkan pada tahun 2016 tercatat 265.100 jiwa. Sehingga ada penurunan penduduk miskin sebanyak 4.440 jiwa.  Pada 2015 persentase jumlah penduduk miskin di Kabupaten Jember sebesar 11,22 persen dan pada 2016 turun menjadi 10,97 persen.

Di bawah kendali kepemimpinan Faida Kabupaten Jember mendapat penghargaan sebagai kabupaten terbaik dengan peringkat diamond dalam acara penganugerahan Indonesia’s Attractiveness Award di Westin Hotel, Jakarta, Jumat (29/9/2017). Penghargaan ini diberikan setelah melalui survei, kajian dan metodologi di seluruh kota dan kabupaten seluruh Indonesia sesuai fakta Frontier Consulting Grup yang bekerja sama dengan sebuah grup media,

Tujuan pemberian penghargaan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran kepala daerah tentang pentingnya daerah mereka untuk menjadi tujuan investasi dan pembangunan daerah.

Prestasi lainnya adalah Faida mendapat penghargaan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) atas kepedulian dan perjuangannya terkait Hak Asasi Manusia (HAM). Faida mendapatkan penghargaan langsung dari Presiden RI Joko Widodo (jokowi) di hadapan undangan dalam puncak peringatan Hari HAM sedunia ke-69 di Grand Ballroom Sunaryo, The Sunan Hotel, Solo, Jawa Tengah, Minggu (10/12/2017).

Faida menuturkan, penghargaan HAM itu pada pada dasarnya merupakan bentuk realisasi dari pogram 22 Janji Kerja Pemerintah Kabupaten Jember.

Wanita yang ramah ini dilahirkan di Malang, Jatim, 19 September 1968. Faida anak ketiga dari lima bersaudara pasangan dr Musytahar Umar thalib dan Widad thalib. Ayahnya seorang dokter dan pengelola rumah sakit.

Faida lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tahun 1994. Kemudian ia masuk ke Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) dan memperoleh gelar Magister Manajemen Rumahsakit (MMR) pada tahun 1998.

Ia mengawali karier di rumah sakit Al-Huda, Genteng, Banyuwangi, yang merupakan milik ayahnya sendiri, sebagai staf bidang pelayanan medis. Posisinya lalu naik menjadi wakil kepala bidang pelayanan medis (1996-1998). Kemudian, ia menjadi Kepala Bidang Farmasi RS Al-Huda pada tahun 1998 hingga 1999. Ia lalu menjadi kepala Puskesmas Tulungrejo, Glenmore, pada 2001 hingga 2004. Setelah itu ia kembali lagi ke RS Al-Huda sebagai Direktur medis hingga tahun 2009 dan naik menjadi Chief Executive Officer (CEO). Ia juga menjadi Direktur Utama di RS Bina Sehat Jember.

Suaminya, Abdul Rochim, berprofesi sebagai dokter gigi dan juga staf pengajar di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. Pernikahan mereka membuahkan dua anak, yakni Abdul Malik Akmal dan Abdurrahman Akhtar. (Arif RH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.