Sabtu, 24 Oktober 20

Dimensi Politik Di Hari Raya

Oleh: Pradipa Yoedhanegar

Di hari pertama menyambut hari raya idul fitri kemarin publik dikejutkan dengan adanya pertemuan antara Presiden dengan delegasi ulama GNPF-MUI. ada dua kelompok yang Pro dan Kontra melalui sosial media terhadap pertemuan yang dilakukan di istana kemarin siang dan berbagai komentar miring dan nyirnyir serta komentar saling menjatuhkan pun tidak kalah ramai karena tidak sedikit tokoh politik sampai pada para penggiat medsos di warung kopi yang ikut memberikan analisa mengenai apa sich hasil pembicaraan yang dilakukan oleh para tokoh tersebut di istana negara??

Secara pribadi sudah sangat tepat menurut pendapat saya di awal hari raya para tokoh GNPF yang difasilitasi oleh Menkopolhukam Wiranto berkunjung untuk memulai silaturahmi dan saling bermaaf-maafan di hari raya nan fitri ini hanya saja langkah yang dilakukan itu oleh banyak pengamat politik akan dianggap mirip dengan permainan catur, langkahnya akan kemana, apa arah politiknya ?? karena kemana langkahnya hanya akan dipahami oleh para pemain caturnya saja, bahkan para pengamat dan orang awam akan bingung melihat dan mencermati hal tersebut.

Di sini saya ingin menjawab para kritikus yang mendeskreditkan ustad bahtiar nasir yang menurut saya tidak memahami persoalan akidah dan ahlaq yang ada dalam agama islam, karena ajaran agama islam diturunkan kemuka bumi sebagai ajaran agama yang paling indah dan paripurna yang mengajarkan seluruh aspek kehidupan kepada seluruh umat manusia, selain itu Islam juga mengajarkan adab dan akhlak yang tinggi, bagaimana menghormati pemimpin dan menghormati yang lebih tua serta menyayangi yang muda, menjaga keharmonisan hubungan keluarga dan hubungan dengan manusia yang lainnya serta menghilangkan hal-hal yang dapat merusak hubungan persaudaraan yang ada dalam semangat *uhkuwah islamiyah*.

Melalui ajarannya Islam sangat menganjurkan untuk melakukan silaturahmi dan silaturahmi itu bisa dilakukan kapan pun, dimanapun dan dalam keadaan apapun juga. Bahkan menurut islam, silaturahmi merupakan inti dari ajaran Islam, sebagaimana yang *diriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Amr bin ‘Abasah as-Sulami berkata,“Aku berkata,“Dengan apa Allah mengutusmu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah mengutusku dengan silaturrahim, menghancurkan berhala dan agar Allah ditauhidkan, Dia tidak disekutukan dengan sesuatupun.” (HR. Muslim no. 1927)*

Oleh karena itu, saya ingin membawa para pembaca agar sedikit lebih cerdas dan memiliki wawasan lebih luas agar tidak mempolitisir dan menghasut para ulama yang saat hari raya kemarin menemui Presiden di istana negara.

Silaturahmi menurut isi yang ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah menjadi sesuatu yang sangat dianjurkan oleh Allah SWT agar umat islam dapat saling menyambung tali silaturahmi yang hal tersebut terdapat dalam firman allah SWT. *Dan Bertaqwalah Kepada Allah, yang dengan (mempergunakan) nama’nya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahmi, (QS, an-Nisa:1)* selain itu Rasullulah nabi besar Muhammad SAW juga bersabda: *Wahai manusia! ucapkanlah salam, sambunglah silaturrahim, berikanlah makan dan shalatlah dimalam hari tatkala manusia sedang tidur, maka kalian akan masuk surga dengan selamat. (HR. at-Tirmidzi)*.

Sebagai figur ulama kharismatik UBN beserta para ulama yang ada di GNPF minus Habib Riziek Shihab adalah orang yang sangat mengerti betul semangat dan isi yang terkandung di dalam Al-Qur’an maupun Hadist yang ada diatas dan beliau dengan segala kerendahan hatinya mau mendatangi presiden padahal menurut pandangan seorang ulama salafi terkemuka Abu Hazim pernah menyatakan *Sebaik-baiknya umara (pemimpin), adalah mereka yang mendatangi ulama bukan yang didatangi oleh ulama*. jadi jelas artinya datangnya Ulama ke istana negara bisa dipandang dalam pelbagai perspektif dan pada akhirnya hal tersebut memberi kemenangan telak dan mutlak bagi para Ulama yang hadir disana karena umat islam mengerti betul paradigma berfikir UBN dalam perspektif ilmu agama.

Strategi dan perjuangan UBN dengan para ulama yang tergabung dalam GNPF itu tampaknya menjadi sesuatu yang sangat strategis dan jitu karena dilakukan dihari raya raya nan suci. apalagi perjuangan yang dilakukan mereka saat ini adalah manakala harus langsung berhadapan dengan penguasa dan para pendukungnya yang notabene tidak menyukai *Aksi Bela Islam 1,2 dan 3* yang sangat monumental karena dikomandoi langsung oleh GNPF MUI beberapa waktu yang lalu yang pada akhirnya menyeret orang dekat penguasa ke dalam penjara sebagai pesakitan dan menjadi terpidana akibat kasus penistaan terhadap agama islam sesuai vonis pengadilan negeri jakarta utara.

Secara Pribadi menurut pendapat saya sudah sangatlah tepat langkah atau pun gebrakan yang dilakukan oleh UBN dan Ulama lainnya karena hal tersebut seperti menarik anak busur ke belakang untuk dapat melesat jauh demi mencapai tujuan memperjuangkan keinginan para ulama yang dianggap akan melakukan makar terhadap rezim saat ini karena hanya ada dua point yang menjadi fokus pembicaraan UBN dan ulama lainnya kepada pemerintahan jokowi yaitu mengenai Kriminalisasi kepada ulama serta keberadaan ulama yang dianggap anti terhadap pancasila padahal pancasila lahir dari kehendak dan komitmen kebangsaan para ulama diawal NKRI berdiri hingga saat ini.

Apapun langkah yang hari ini dilakukan oleh UBN dan para ulama lainnya adalah demi kepentingan umat dan para ulama dan bukan untuk tujuan atau pun kepentingan pribadi mereka semua dan hal tersebut bukan merupakan langkah *Game-Over* seperti yang dikatakan oleh bung. Djoko Edi dalam analisanya tapi lebih kepada *the beginning of the game* yaitu dimulainya pertarungan sesungguhnya pasca hari raya nanti, karena UBN secara tersirat di pelbagai media menyatakan kepada presiden secara langsung menyampaikan salam dari HRS yang berada di saudi arabia kepada Presiden dan hal itu merupakan sikap yang berani dari UBN dan ulama yang tergabung didalam GNPF sebagai sebuah isyarat bahwa mereka tetap bersama HRS dalam keadaan apapun juga.

Jadi momentum pertemuan antara Presiden dengan para Ulama yang tergabung dalam GNPF yang dipimpin oleh UBN bisa saja dimaknai sebagai sebuah tawaran kepada pemerintah untuk mau duduk bersama para ulama untuk melakukan *rekonsiliasi* tanpa syarat kepada para ulama dan menghentikan seluruh proses hukum yang saat ini menjerat ulama karena Silaturahmi kemarin itu merupakan titik awal kebangkitan ulama yang ada di Indonesia dan merupakan sebuah manuver yang sangat terukur dan cerdas yang dilakukan oleh para ulama GNPF yang pada akhirnya membuat semakin redup kepemimpinan presiden saat ini dan membuat gemilang para ulama di GNPF serta Sinar HRS yang semakin bersinar di belahan dunia lainnya.

Sebagai pesan penutup kepada kelompok yang memiliki hobby nyinyir dan senang memberi komentar miring kepada para ulama yang tergabung di GNPF maupun HRS pada akhirnya karena perkembangan ilmu dan pengetahuan teknologi yang semakin hari semakin cepat dan luar biasa akhirnya masyarakat menjadi lebih cerdas dan memahami betul mana kelompok ulama yang hari ini benar-benar tulus dan tetap memperjuangkan nilai kebenaran dan mana ulama yang terpasung oleh kelompok penguasa karena kayakinan dihati saya UBN dan Kelompok GNPF yang kemarin bertemu Presiden adalah kelompok Ulama pembela yang benar bukan pembela yang bayar.

Untuk itu marilah melalui momentum hari raya ini sebaiknya bisa dijadikan sebagai alat introspeksi diri bagi semua pihak terhadap kesalahan dan dosa-dosa di masa lampau dan bisa saling memaafkan antara para Ulama dan pemimpin seperti yang dilakukan oleh UBN dan ulama GNPF lainnya, tanpa harus melupakan sejarah kerusakan yang rezim ini pernah lakukan terhadap negeri ini dimana mereka mencabut subsidi dengan seenaknya namun mengklaim menjadi yang paling pancasilais.

Wauwlahul Muafiq illa Aqwa Mithoriq,
Wassalamualaikum Wr,Wb

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.