Selasa, 29 September 20

Dilarang, Dapur Umum Upaya Pengaruhi Psikologis Pemilih

Dilarang, Dapur Umum Upaya Pengaruhi Psikologis Pemilih
* Ilustrasi pemilu 2019. (Foto: Detik.com)

Jakarta, Obsessionnews.com – Aparat kepolisian melarang adanya aktifitas membuat dapur umum di dekat tempat pemungutan suara (TPS). Karena hal itu dikhawatirkan dapat berpengaruh pada psikologi pemilih dan mengacaukan pemilu.

“Kita kedepankan Bawaslu kalau ternyata dapur umum ini ada indikasi terkait politik tertentu,” tegas Kapolresta Tangerang Kota Kombes Sabilul Arif, Selasa (16/4/2019).

“Kalau dia makan setelah itu dibagikan ke pemilih di TPS, saya jelas katakan itu adalah langkah yang sangat kontraproduktif saat pemungutan suara dan itu tidak dibenarkan. Polisi tidak akan membiarkan siapapun melakukan langkah kontraproduktif dan intimidatif dan mengacaukan pemilu, kita akan tegas,” sambungnya.

Sabilul mengatakan Bawaslu pun sudah menegaskan bahwa berdasarkan peraturan yang berlaku, di masa tenang tak dibolehkan memobilisasi massa. Termasuk juga menggunakan tempat ibadah untuk kegiatan yang bermuatan politik.

“Ada upaya konkret yaitu pada saat–kemarin ada sebagian (permohonan) izin kegiatan Isra Mikraj tanggal 17 April jam 03.00 pagi–oleh Bawaslu dilarang keras, (lokasi di) Masjid At-Taqwa, dekat TPS. Akhirnya sudah batal melaksanakan,” tuturnya.

Pernyataan itu dikemukakan Sabilul menanggapi rencana pendirian dapur umum oleh warga di daerah Tigaraksa, Tangerang Kota. Informasi itu diketahui setelah viralnya spanduk penolakan warga atas rencana pendirian dapur umum tersebut.

Sabilul membenarkan adanya spanduk tersebut. Dia menyebut, spanduk tersebut dibuat warga yang resah soal rencana pembuatan dapur umum di dekat TPS. 

“Saya baru mendapat laporan tadi siang, ada beberapa spanduk yang menolak dari masyarakat. Saya kroscek di lapangan ternyata betul ada (penolakannya) dan memang rencana itu (pembuatan dapur umum, red) ada bahkan di luar daerah ini juga ada,” kata dia.

Dia berupaya untuk mencegah terjadinya benturan fisik. Polisi mengimbau agar tak ada dapur umum yang bertujuan untuk memobilisasi massa di hari tenang hingga hari pemungutan suara pada 17 April. 

“Sehingga, langkah yang dilaksanakan mengantisipasi jangan sampai resistensi ini berujung penolakan secara fisik. Kami imbau untuk tidak melakukan kegiatan itu karena itu bagian memobilisasi massa saat minggu tenang bahkan saat memungut suara (dilarang buat dapur umum) dan termasuk memobilisasi ‘Rabu Putih’ itu,” ucapnya. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.