Jumat, 10 Juli 20

Dikritik MUI, Sandiaga: Shalat Tarawih di Monas Tetap Jalan

Dikritik MUI, Sandiaga: Shalat Tarawih di Monas Tetap Jalan
* Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.

Jakarta, Obsessionnews.com – Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menegaskan, pihaknya tetap akan menggelar shalat tarawih di Monas pada 26 Mei mendatang, meski rencana itu pendapat penolakan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sandiaga juga mengaku sudah meminta pendapat ulama soal rencana tersebut.

“Ya itu masukan yang baik. Jadi tentunya kita juga menentukannya tidak semena-mena, kita minta pandangan daripada para ulama, dan salah satu concern kemarin, itulah bagaimana kalau kita membludak keinginannya, ada masjid yang ditentukan seperti masjid Istiqlal tidak mencukupi,” kata Sandiaga kepada wartawan usai meresmikan Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter, Jl Sunter Baru, Jakarta Utara, Minggu (20/5/2018).

Sandi mengatakan pemilihan Monas sebagai tempat salat tarawih sudah disiapkan dengan baik. Selain melakukan koordinasi dengan sejumlah ulama, Pemprov DKI Jakarta disebut juga sudah melakukan koordinasi dengan Polda Metro Jaya.

“Kan sudah sering juga dipakai untuk maulid, sudah sering juga dipakai untuk istigasah, jadi kita tentukan sama-sama. Untuk buka puasa bersama juga kita turuti kemauannya, jadi kita memutuskan untuk dilakukan di Jakarta Islamic Center,” ujar Sandi.

Cholil Nafis Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah, Depok mengatakan, pihaknya tidak sependapat dengan rencana Pemprov DKI menggelar tarawih berjemaah di Monas. Apalagi kalau alasannya persatuan.

“Saya kok ragu ya kalau alasannya tarawih di Monas utk persatuan. Logikanya apa ya? Bukankah masjid Istiqlal yang megah itu simbol kemerdekaan, kesatuan dan ketakwaan. Sebab sebaik-baik shalat itu di masjid karena memang tempat sujud. Bahkan Nabis saw. selama Ramadhan itu i’tikaf di masjid bukan di lapangan,” ujarnya.

“Marilah yang sehat menggunakan logika kebangsaan dan keagamaan. Jangan menggunakan ibadah mahdhah sebagai alat komunikasi yang memunculkan riya’ alias pamer. Shalat Ied aja yang untuk syi’ar masih lebih baik di Masjid kalau bisa menampungnya. Meskipun ulama ada yang mengajurkan di lapangan karena syi’ar tapi Masjid masih lebih utama, “tambahya.

“Saya berharap pemprov DKI mengurungkan niat tarawih di Monas. Cukuplah seperti maulid dan syiar keagamaan aja yang di lapangan. Tapi shalat di lapangan sepertinya kurang elok sementara masih ada masjid besar sebelahnya yang bisa menampungnya. Ayo pemprov DKI lebih baik konsentrasi pada masalah pokok pemerintahannya yaitu mengatasi banjir dan mecet yang tak ketulungan dan merugikan rakyat,” jelasnya.

Tak hanya MUI, Muhammadiyah juga mengkritik rencana itu. Salat tarawih di Monas dikhawatirkan menimbulkan kesan politis.  Warga Muhammadiyah juga tidak pernah melakukan shalat Tarawih di lapangan.

“Salat tarawih di Monas bisa menimbulkan kesan politis. Dalam konteks luas dan jangka panjang, bisa menjadi preseden untuk kegiatan serupa oleh pemeluk agama lainnya,” kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.