Rabu, 29 Juni 22

Dikritik, Ketum PSI Beda Lagi Pengakuannya Soal Pertemuan dengan Jokowi

Dikritik, Ketum PSI Beda Lagi Pengakuannya Soal Pertemuan dengan Jokowi
* Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie (ketiga dari kiri) bersama kader-kader PSI..

Jakarta, Obsessionnews.com – Pertemuan elite Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kamis 1 Maret 2018 kemarin menuai kritik dan sorotan dari masyarakat. Pasalnya, pertemuan yang dilakukan di saat jam kerja itu membahas mengenai strategi pemenangan Jokowi di Pemilu 2019.

Menyikapi tudingan itu, Ketua Umum  (Ketum) DPP PSI Grace Natalie kali ini meralatnya. Ia mengaku pertemuan itu membahas mengenai isu demokrasi dan intoleransi.

“Nah, di Istana kami membicarakan semua itu dalam kapasitas Pak Jokowi sebagai Presiden, bukan politisi,” kata Grace di Kantor DPP PSI, Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 194, Jakarta, Sabtu (3/3/2018).

Grace menyatakan, masalah kebangsaan dan negara menjadi perhatian PSI. Terutama terkait intoleransi dan korupsi yang semakin marak. Menurutnya, beberapa kejadian di tahun politik ini membuat derajat demokrasi Indonesia belakangan ini makin memburuk.

“Padahal Indonesia sempat disebut telah mencapai kemajuan yang setara dengan level demokrasi di negara-negara mapan. Indonesia adalah satu-satunya yang mencapai taraf itu diantara negara Muslim dan satu-satunya di Asia Tenggara,” ujarnya menjelaskan.

Kemudian, ia mengingatkan pertemuan PSI dengan Presiden Jokowi membahas korupsi dan intoleransi justru terjadi jelang pemilu. Hal ini penting dan menjadi perhatian. Ia menambahkan, infrastruktur yang dibangun dalam tiga tahun ini, juga menjadi pembahasan. “Kami meyakinkan Pak Presiden bahwa beliau mampu melakukan itu. Dan PSI berdiri di sisinya,” jelasnya.

Sebelumnya Ketua DPP PSI Tsamara Amany mengakui, pertemuan dengan Jokowi selama 90 menit itu membahas strategi pemenangan Jokowi di Pemilu 2019. Salah satu strategi pemenangan yang dibahas adalah kampanye lewat media sosial.

“Kami tadi juga presentasi keberhasilan kami di medsos dan Pak Jokowi senang dengan hal itu. Karena Pak Jokowi sadar milenial presentasinya pada 2019 sangat besar,” kata Tsamara.

Tsamara mengatakan, kinerja Jokowi selama memimpin Indonesia bisa dikampanyekan di media sosial. Selain tak memakan banyak biaya, pesan yang hendak disampaikan juga bisa langsung sampai ke generasi milenial.

“Apalagi Pak Jokowi punya kinerja yang sangat baik, punya prestasi. Tinggal bagaimana kami mengemas konten tersebut di media sosial agar lebih banyak anak muda yang sadar, ini loh Presiden kalian betul betul berprestasi dan layak dipilih kembali,” kata Tsamara. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.