Jumat, 9 Desember 22

Didukung Golkar Pemerintahan Jokowi Semakin Solid

Didukung Golkar Pemerintahan Jokowi Semakin Solid
* Muhammad AS Hikam.

Jakarta, Obsessionnnews – Setya Novanto (SN) terpilih menjadi Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) di Bali Nusa Dua Convention Center, 14-17 Mei 2016. Ia menggantikan Aburizal Bakrie (ARB). Sementara ARB menduduki posisi baru sebagai Ketua Dewan Pembina.

Pengamat politik Muhammad AS Hikam mengakui hasil Munaslub itu persis seperti yang diprediksinya. SN  memenangi pemilihan Ketum Golkar dalam satu satu putaran karena lawan utamanya, Ade Komarudin (Akom) tidak meminta voting di putaran kedua.

Kemenangan SN akan membuat posisi ARB tetap kokoh sebagai penentu kirah dan kebijakan partai ini, apalagi dg posisi barunya sbg Ketua Dewan Pembina (Wanbin) DPP Golkar,” tulis Hikam di akun facebooknya, Selasa (17/6).

Menurut mantan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) ini, pemerintahan Presiden Jokowi semakin solid karena mendapat dukungan Golkar yang kini resmi hengkang dari Koalisi Merah Putih (KMP).

Namun demikian, kata Hikam, kepemimpinan baru Golkar ini masih belum mampu menghasilkan perubahan signifikan dalam struktur partai Orde Baru (Orba) ini. Dan bisa jadi belum mampu membangkitkan kekuatannya pada Pemilu 2019.

Golkar masih tetap business as usual karena belum terjadi perubahan paradigma dan visi kepemimpinan. Yg terjadi adalah kesinambungan partai oligarki,” tulisnya..

Jabatan Ketum Golkar diperebutkan delapan orang, yakni SN, Akom, Aziz Syamsuddin, Mahyudin, Airlangga Hartanto, Syahrul Yasin Limpo, Indra Bambang Utoyo, dan Priyo Budi Santoso. Bakal calon ketua umum (bacaketum) harus memenuhi syarat mendapat dukungan 30% suara untuk lolos ke putaran kedua. Jika di putaran pertama hanya satu bacaketum yang mendapat dukungan 30% suara, maka dia yang terpilih menjadi ketum. Hanya dua orang yang mampu memperoleh dukungan lebih dari 30% suara, yakni Novanto dan Akom. Novanto memperoleh 227 suara dari total 554 suara, sedangkan Akom mendapat 173 suara. Sementara itu dukungan untuk enam bacaketum lainnya jauh di bawah 30%.

Banyak kalangan yang memprediksi pertarungan di putaran kedua antara Novanto dan Akom bakal  seru pada Selasa (17/5). Namun, terjadi kejutan. Akom ternyata memilih lempar handuk atau mundur, dan memberi jalan bagi Novanto menjadi ketum Golkar.

Dengan mundurnya Akom,  Novanto ditetapkan sebagai ketum periode 2014-2019.

“Kami tetapkan Setya Novanto sebagai Ketua Umum Golkar 2014-2019,” kata pimpinan sidang, Nurdin Halid.

Munaslub Golkar di Bali 14-17 Mei 2016 merupakan munaslub rekonsiliasi kedua kubu, yakni kubu Aburizal Bakrie atau Ical dan kubu Agung Laksono. Pasca Pilpres 2014 Golkar terbelah menjadi dua kubu, yakni kubu Ical dan Agung. Pada awal Desember 2014 dalam Munas di Bali Ical terpilih lagi menjadi menjadi ketum Golkar untuk periode 2014-2019. Namun, Munas Bali tak diakui oleh tokoh-tokoh Golkar yang dimotori Agung. Kelompok Agung kemudian membuat Munas tandingan di Ancol, Jakarta, pada Desember 2014. Agung terpilih sebagai ketum masa bakti 2014-2019.

Perseteruan kedua kubu itu kemudian bergulir ke meja hijau. Setelah lebih dari setahun konflik di tubuh partai beringin itu, kedua kubu akhirnya bersepakat menggelar Munaslub untuk memilih ketum periode 2014-2019. (arh, @arif_rhakim)

Baca Juga:

Novanto Terpilih Ketum Golkar, Tanda ‘Kematian’ Partai Kuning

Ormas Tommy Soeharto Kecewa Akom Tidak Bertarung Sampai Akhir

Jadi Ketum Golkar, Novanto Tinggalkan Jabatan Ketua Fraksi

Akom Lempar Handuk, Novanto Ketum Golkar

Terpilihnya Setnov Jadi Langkah Mundur Golkar

Alasan Akom Dukung Novanto di Menit Akhir

Akom Serahkan Dukungan ke Novanto

Novanto dan Akom Lolos ke Putaran Kedua Pemilihan Ketum Golkar

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.