Rabu, 8 Februari 23

Dibully Publik Jadi Pengacara Setnov, Otto: Siap Ambil Risiko

Dibully Publik Jadi Pengacara Setnov, Otto: Siap Ambil Risiko
* Pengacara kondang Otto Hasibuan. (foto: Kompas)

Jakarta, Obsessionnews.comNampaknya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus lebih mempersiapkan diri jauh-jauh hari dalam menghadapi persidangan melawan tersangka dugaan korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP), Setya Novanto (Setnov). Karena belum lama ini pengacara kondang Otto Hasibuan akan menjadi pengacara andalan baru Setnov untuk di pengadilan nanti atas kasus dugaan korupsi tersebut.

Berita tentang Setnov menjadi trending topic di mesin pencari Google. Pantauan Obsessionnews.com di Google Trends wilayah Indonesia pada Selasa (21/11/2017) pukul 11.48 WIB berita ini ditelusuri lebih dari 5.000 kali.

Awalnya Otto sempat akan mempertimbangkan tawaran dari pihak Setnov untuk menjadi kuasa hukumnya. Akhirnya  Otto mengaku telah mempertimbangkan berbagai hal sebelum memutuskan menjadi kuasa hukum tersangka Setnov. Salah satu pertimbangannya adalah faktor dukungan dari keluarga.

Otto pun menyatakan kesiapan menghadapi risiko bully atau menjadi bulan-bulanan publik lewat sindiran meme di dunia maya akibat membela Setnov. “Tidak apa-apa. Dalam dunia ini selalu ada hitam dan putih,” kata Otto.

Kesiapan itu muncul pada Minggu (19/11) siang, setelah Otto menggelar rapat keluarga mengenai kesiapannya menjadi kuasa hukum Setnov. Dari rapat tersebut, anaknya mendukung supaya Otto menerima tawaran menjadi kuasa hukum untuk membela Setnov. “Di situ, barulah ada keputusan go ahead. Anak saya mendukung. Dia bilang ke saya, kalau bukan papa yang meluruskan hukum, siapa lagi,” kata Otto.

Otto mulai bergabung sehari setelah Setnov resmi menjalani masa penahanan di Rumah Tahanan (Rutan) KPK, Senin (20/11). Ia akan berduet dengan pengacara yang sudah lebih dulu habis-habisan membela sang ketua DPR itu, Fredrich Yunadi.

Seperti diketahui, status Setnov telah menjadi tahanan KPK selama 20 hari ke depan terhitung sejak 19 November 2017. Adapun KPK memburu Setnov setelah yang bersangkutan berkali-kali tak memenuhi panggilan KPK, baik sebagai saksi maupun tersangka kasus korupsi proyek e-KTP.

Dalam kasus ini, Setnov bersama sejumlah pihak diduga menguntungkan diri sendiri, orang lain, atau korporasi. Setnov juga diduga menyalahgunakan kewenangan dan jabatan saat menjabat Ketua Fraksi Partai Golkar. Akibat perbuatannya bersama sejumlah pihak tersebut negara diduga dirugikan Rp 2,3 triliun pada proyek senilai Rp 5,9 triliun. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.