Selasa, 19 Oktober 21

Di Tahun Politik BNI Justru Catat Pertumbuhan Kredit Hingga Dua Digit

Di Tahun Politik BNI Justru Catat Pertumbuhan Kredit Hingga Dua Digit

Jakarta – Selain berhasil meningkatkan penyaluran kredit hingga 10,8 persen, sepanjang 2014 PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) juga mencatat penurunan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL),

Padahal, menurut Direktur Utama BNI, Gatot Suwondo saat konferensi pers Kinerja Keuangan BNI Tahun 2014 di Jakarta, Kamis (29/1/2015), sebagai tahun politik yang disertai dengan tekanan kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate dan inflasi, tahun 2014 sebenarnya tahun yang cukup berat.

Namun dengan strategi penyaluran melalui rantai pemasok dan pembeli dari nasabah korporasi, penyaluran kredit BNI berhasil tumbuh hingga dua digit.

“Penyaluran kredit tahun 2014 bahkan tumbuh hingga dua digit, tepatnya tumbuh sebanyak 10,8 persen dari Rp250,6 triliun menjadi Rp277,6 triliun. Hal ini didukung dengan strategi penyaluran melalui rantai pemasok dan pembeli dari nasabah korporasi,” kata dia.

Adapun komposisi kredit yang disalurkan, sebesar 71 persen berupa business banking yang disalurkan pada sektor produktif melalui delapan sektor unggulan seperti, minyak, gas, pertambangan, informasi dan telekomunikasi, kimia, pertanian, makanan, ritel dan perdagangan besar, serta kelistrikan dan sektor konstruksi.

Kemudian sebesar 20 persen disektor konsumer dan ritel yang didominasi oleh penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) BNI Griya dan fasilitas pembiayaan untuk kemudahan belanja dan bertransaksi.

Sisanya, sebanyak 3,6 persen disalurkan oleh cabang – cabang luar negeri dan 5,4 persen lainnya disalurkan oleh anak perusahaan seperti BNI Syariah.

Selain itu, ditengah ekspansi penyaluran kredit NMI juga  mencatat penurunan rasio kredit atau NPL ditahun 2014 menjadi hanya 1,96 persen saja, sebelumnya di tahun 2013 NPL Bank milik BUMN tersebut tercatat mencapai 2,71 persen.

Secara prosentase, lanjut Gatot, NPL BNI turun dari 0,55 persen menjadi 0,39 persen. “Sedang secara fundamental, penyisihan pencadangan juga tetap terjaga baik dengan tingkat coverage ratio meningkat dari 128,5 persen menjadi 130,1 persen,” ujar dia. (Kukuh Budiman)

Related posts