Rabu, 1 Februari 23

Dewa Telah Lama Curiga Engeline Dibunuh

Dewa Telah Lama Curiga Engeline Dibunuh
* Dewa Ketut Raka (kiri, berseragam biru) saat melarang Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara yuddy Chrisnandi masuk ke rumah Margriet, Jumat, 5 Juni 2015.

Denpasar, Obsessionnews – Dewa Ketut Raka, bekas satuan pengamanan (satpam) di rumah Margareith C Megawe, telah curiga lama kalau Angeline sudah tewas. Dewa acap mencium bau bangkai dari bagian belakang rumah Margareith. (Baca: Polisi Temukan Angeline Membusuk di Bawah Pohon Pisang)

Engeline
Engeline

Dewa, mengatakan kepada sejumlah wartawan di depan rumah Margareith di Jalan Sedap Malam, Kesiman, Denpasar, Senin (22/6/2015), bau tak sedap datang dan pergi. Arahnya jelas dari bagian belakang rumah majikannya. (Baca: Angeline: Mengapa Aku Harus Dilahirkan? (Sebuah Dramatisasi) 1)

Pria itu tambah curiga karena tiba-tiba Margareith tak membolehkan siapa pun masuk ke dalam rumah. Saat itu dirinya tak berani menuduh majikannya membunuh Engeline. (Baca: Angeline: Mengapa Aku Harus Dilahirkan? (Sebuah Dramatisasi) 2)

Dewa mengaku, sempat ikut mencari Engeline ketika bocah 8 tahun itu dilaporkan hilang, 16 Mei. Belakangan kecurigaannya terbukti: Engeline sudah tak bernyawa. (Baca: Angeline: Mengapa Aku Harus Dilahirkan? (Sebuah Dramatisasi) 3)

Lama dicari, Angeline akhirnya ditemukan sudah tak bernyawa, Rabu 10 Juni. Jasad bocah kelas dua SD itu terkubur di bawah kandang ayam di halaman belakang rumah Margareith, ibu angkatnya.

Kinerja polisi baik dari Polresta Denpasar maupun Polda Bali dalam menemukan lokasi penguburan Engeline sebenarnya tidak terlepas dari peran dua orang satpam yang bekerja di rumah Margareith. Keduanya adalah aktor di belakang layar penemuan bocah malang berusia delapan tahun itu. Mereka adalah Beny Mayo dan Dewa Ketut Raka. (Baca: Temukan Mayat Angeline, Polda Bali Patut Diapresiasi)

Lalu apa peran mereka hingga disebut aktor kunci, ini kronologisnya:

Beni Mayo adalah koordinator satpam di rumah Margriet. Dia direkrut Margareith melalui PT Surya Patriot Mandala (SPM) yang beralamat Jalan Patih Jelantik Kuta.

“Kami mulai bekerja pada 4 Juni 2015. Karena tugas jaga hanya sampai pukul 24.00 Wita, maka perusahaan hanya memberikan dua tenaga pengamanan yang dibagi menjadi dua shift (gelombang),” terang Beni.

Beni baru bekerja pada 4 Juni atau seminggu sebelum jenazah Engeline ditemukan. Saat itu, Margareith kerap mengeluhkan rumahnya tak aman karena banyak dimasuki orang tak dikenal.

Beni dan Dewa pun dimintai untuk ketat mengawasi. Keduanya diminta untuk terus menyisir seantero rumah Margareith, takut-takut ada orang yang menyelinap masuk. Beni pun melakukan penyisiran hingga ke halaman belakang rumah tak jauh dari kandang ayam.

“Namun, anehnya ketika masuk kerja, kami hanya diminta menjaga hingga pintu gerbang, tidak boleh masuk sampai ke belakang. Saat itu kami tidak curiga apa-apa. Kami juga berpikir pekerjaan akan lebih ringan,” ujar Beni.

Beni pula yang sempat melarang Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Yuddy Chrisnandi masuk ke dalam rumah Margareith, Jumat (5/6). Ia mengaku tak bisa menolak perintah atasannya, Margareith.

“Waktu itu kami berpikir bahwa itu adalah hak klien. Privasi yang harus dilindungi,” ujarnya.

Setelah kerja beberapa hari, persoalan pun muncul. Petugas keamanan tidak memiliki akses ke toilet karena pintu gerbang selalu dikunci. Komplain pun terjadi.

“Saat itulah kami menghubungi klien untuk dibukakan akses toilet. Maka, dibukalah pintu samping kanan karena ada satu ruangan yang memiliki toilet. Dari ruangan itu ada akses ke dalam rumah Margareith hingga ke bagian belakang rumah,” ujarnya.

Sampai pada suatu hari, Dewa Ketut Raka mendapatkan giliran jaga. Ia adalah pensiunan TNI. Dewa merupakan orang pertama yang memberi akses kepada tim buser polisi untuk melakukan pengecekan sampai di bagian belakang rumah.

“Secara prosedur memang salah. Tetapi harus diingat, petugas pengaman bagian dari kepolisian juga. Makanya kami memberikan akses yang seluas-luasnya kepada petugas untuk menyisir bagian belakang rumah,” jelasnya.

Dewa juga ikut menemani polisi menyisir di kandang ayam. Bahkan, Dewa ikut menggali beberapa titik sampai menemukan lokasi penguburan Engeline. Dalam penyisiran itu, Margareith tak pernah diberi tahu. Penyisiran juga dilakukan saat Margareith sedang keluar belanja.

“Saat petugas meminta masuk, Dewa Ketut Raka sempat keberatan dan ingin menghubungi bosnya. Namun, petugas minta Dewa untuk tak melapor dengan alasan agar leluasa memeriksa. Dan hasilnya, jenazah Engeline ditemukan,” kata Beni.

Polisi telah menetapkan Agus, mantan pembantu rumah tangga di rumah Margareith, dan Margareith sebagai tersangka. Mereka ditahan di Polda Bali.

Engeline anak kandung Hamida, wanita asal Banyuwangi, Jawa Timur, yang merantau ke Bali. Karena alasan ekonomi Hamida menyerahkan Engeline yang berusia tiga hari kepada Margareith dan suaminya. Pasangan suami istri itu kemudian membesarkan Engeline di rumah mereka di Denpasar. (Baca: Bajingan Kamu Margaret…. Kenapa Bunuh Anakku?)

Beberapa tahun lalu, suami  Margareith yang merupakan warga negara asing meninggal. Kabarnya, Engeline mendapat warisan dengan nilai cukup besar dari ayah angkatnya itu.

Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPA) mendeklarasikan Engeline  sebagai ikon anti kekerasan dan gerakan ‘stop kejahatan terhadap anak’ yang digelar di depan rumah Engeline di Jalan Sedap Malam, Denpasar, Sabtu (20/6/2015). (Baca: Engeline Ikon Anti Kekerasan Kepada Anak)

“Kami bersama Pemerintah Kota Denpasar mencanangkan Engeline sebagai ikon melawan kekerasan dan kejahatan terhadap anak Indonesia,” kata Ketua KPA Arist Merdeka Sirait.

KPA memilih bocah kelas 2-B di SDN 12 Sanur, Denpasar, itu karena kasus pembunuhan yang menimpa anak itu telah menjadi perhatian nasional dan dunia.

“Walaupun banyak kasus yang kami perjuangkan, tetapi ini momentum untuk menyatakan tidak ada toleransi terhadap kekerasan kepada anak,” tegas Arist. (ar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.