Senin, 6 Juli 20

Desa Madani, Pilot Project Masa Depan Indonesia

Desa Madani, Pilot Project Masa Depan Indonesia
* Parmusi dirasa tepat mencanangkan program Desa Madani.

Oleh: Anding Sukiman, Ketua PW Parmusi Jawa Tengah

 

Parmusi atau Persaudaraan Muslimin Indonesia memiliki paradigma baru, yakni bergerak dari political oriented menuju dakwah oriented. Untuk membangun dakwah tersebut, langkah yang harus dilakukan oleh Parmusi adalah menyapa, menata, dan membela umat.

Oleh karenanya sekat perbedaan madzhab bukan menjadi hal penting, karena yang penting dalam Parmusi adalah Laailaaha illallah Muhammadur rasulullah. Satu tuhan yaitu Allah, satu nabi yaitu Nabi Muhammad utusan Allah, satu kitab suci yaitu Al-Quran, satu kiblat yaitu Ka’bah, dan menjalankan syariat-Nya.

Itulah Parmusi.

Gerakan dakwah Parmusi terfokus pada 4 hal utama, yakni peningkatan iman dan takwa, ekonomi, sosial, dan pendidikan.

Peningkatan iman dan takwa ini sangat diperlukan mengingat dari 85% penduduk Indonesia yang beragama Islam ini diketahui masih banyak yang belum menjalankan syariat agama secara baik, karena berbagai keterbatasan. Upaya untuk meningkatkan iman dan takwa tidak ada jalan lain kecuali terus menerus, secara masif melakukan penyadaran, atau dakwah. Baik dalam kelompok kajian, pendekatan individu maupun melalui mimbar khotbah dan pengajian umum.

Kita sering mendengar bahwa kefakiran itu mendekatkan kekufuran. Kalau kita kaji dan korelasikan dengan kondisi lapangan sangatlah tepat, karena jika kita menengok desa-desa yang jauh dari perkotaan walaupun mayoritas bahkan 100% beragama Islam terkadang jarang kita temui suasana keagamaan di sana.

Bahkan saat adzan tiba, jarang terdengar suara adzan berkumandang. Kemudian saat kita masuk masjid dan mushalla terkadang kondisinya kotor atau kumuh seperti jarang dipakai. Kalaupun adzan berkumandang, kita tunggu sampai iqomah dan akhirnya yang datang untuk shalat berjamaah tidak lebih dari 10 orang. Padahal kita tahu saat adzan Dhuhur berkumandang banyak warga di sekitar masjid juga sedang berada di rumah dan tidak banyak aktivitas. Kondisi semacam inilah yang menjadi sasaran dakwah Parmusi.

Selain mendapati masjid yang mengesankan jarang dipakai, pada saat kunjungan kita ke desa, kita temui rumah-rumah warga yang mayoritas muslim bahkan 100% muslim itu masih banyak yang berlantai tanah. Kalaupun sudah berkeramik namun dengan fasilitas seadanya.

Mereka bekerja sebagai petani. Mereka petani tradisional dengan berdasar pengetahuan yang diserap secara turun temurun, atau sentuhan teknologi sangat kurang. Padahal lahan tidak pernah bertambah, sedang di sisi lain pertumbuhan penduduk makin bertambah.

Sehingga jika kepemilikan lahan pertanian semula 1 hektar/kk sekarang tinggal 3.000 meter/kk. Dengan tanpa sentuhan teknologi pertanian, maka pendapatan masayarakat muslim seperti ini secara teori makin turun. Karena itu jika kondisi ini tidak kita ubah maka keimanan umat Islam akan makin tergerus seperti halnya kepemilikan lahan pertanian yang makin berkurang.

Berdasarkan realitas inilah Parmusi dirasa tepat mencanangkan program Desa Madani. Mellaui program yang digagas Parmusi ini diharapkan kondisi masyarakat dapat menjalankan syariat Islam dan tercermin pada sikap dan perilaku sehari-hari. Misalnya dalam menjalankan shalat tepat waktu dan berjamaah di masjid, anak-anak muda juga rajin belajar agama, sistem sosial yang terbangun juga saling memperkuat dalam menjalan kehidupan sehari-hari. Secara ekonomi masyarakat yang demikian ini juga mempunyai sumber ekonomi yang cukup sehingga tergambar kehidupan yang tenteram, damai dalam bingkai NKRI.

Desa Madani yang dibangun dalam suasana Islami tersebut tidak berarti meniadakan warga masyarakat non muslim. Desa madani juga toleran terhadap pemeluk agama non Islam. Kita bahkan wajib menghormati keagamaan mereka. Karena masalah toleransi ini tegas diatur di dalam Al-Quran surat Al-Kafirun yang menyatakan bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Fokus Parmusi dalam program Desa Madani adalah dakwah kepada umat yang sudah ber-KTP Islam. Atau dalam arti lain, mengislamkan umat Islam dengan harapan mewujudkan masyarakat madani yang sejahtera lahir dna batin.

Kehidupan yang aman, tenteram, dalam suasana yang Islami atau religius semacam itu perlu diwujudkan secara nyata dan menyeluruh di Indonesia. Caranya melalaui gerakan menyapa, menata, dan membela secara Islami.

Jika dalam sekala besar belum bisa diwujudkan, maka Parmusi pengin mewujudkan dalam skala kecil yang kemudian difornulasikan dalam Desa Madani tersebut.

Mukerwil (Musyawarah kerja Wilayah) Parmusi yang akan dilaksanakan oleh PW Parmusi Jawa Tengah pada hari Sabtu 13 Oktober 2018 di Semarang nanti bertujuan membangun kesepahaman antara PW Parmusi Jawa Tengah dengan seluruh Pengurus Daerah Parmusi yang tersebar di 35 kabupaten/ kota di Jawa Tengah.

Melalui Mukerwil ini Parmusi Jawa Tengah diharapkan mempunyai gambaran yang jelas tentang Desa Madani. Harapan kita semua pilot project Desa Madani tersebut bisa kita wujudkan dalam waktu dekat ini. Insya Allah, semoga!

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.