Kamis, 12 Desember 19

Desa Madani Parmusi di Wonogiri Siap Tanam 50.000 Bibit Kelapa Kopyor

Desa Madani Parmusi di Wonogiri Siap Tanam 50.000 Bibit Kelapa Kopyor
* Bibit kelapa kopyor yang dikembangkan di Desa Kepuhsari dalam program Desa Madani Parmusi. (Foto: Albar / OMG)

Wonogiri, Obsessionnews.com – Program Desa Madani Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) di Wonogiri, Jawa Tengah terlihat maju. Masyarakat sudah mulai tergerak hatinya untuk mengembangkan desanya dengan menanam bibit kelapa kopyor. Hal itu seperti yang terjadi di Desa Kepuhsari, Kecamatan, Manyaran.

Saat dikunjungi Ketua Pengurus Pusat (PP) Parmusi, H. Usamah Hisyam bersama istrinya Daisy Astrilita, terlihat raut muka masyarakat desa penuh dengan semangat. Mereka sangat optimis untuk mengembangkan Desa Madani melalui program yang sudah dicanangkan. Sebab warga sejauh ini sudah menanam 2.500 bibit kelapa.

Peresmian Desa Madani Parmusi di Desa Kepuhsari, Kacamatan Manyaran, Wonogiri Jateng.

 

Ketua Pengurus Wilayah (PW) Parmusi Jateng, Anding Sukiman yang juga asli putra Wonogiri ini mengatakan, penanaman bibit kelapa akan terus ditambah. Bahkan bukan hanya di desa Kepuhsari, tapi juga di 10 kecamatan yang ada di Wonogiri dengan menanam 50.000 bibit kelapa. “Untuk bulan depan di desa ini kita tambah jadi 3.000 bibit,” ujarnya di lokasi, Sabtu (28/9/2019).

Sepuluh kecamatan itu ada di Kecamatan Wonogiri, Selogiri, Ngadirojo, Wuryantoro, Manyaran, Eromoko, Giriwoyo, Pracimantoro, Karang tengah dan Giritontro. Anding menyatakan, untuk bisa menanam 50.000 bibit pohon kelapa, pihaknya membutuhkan investor seperti yang selama ini sudah dilakukan.

“Kita selama ini menggandeng investor dalam penanaman bibit kelapa dengan sistem bagi hasil. 40% untuk petani, 30% untuk investor, dan 30% untuk kegiatan dakwah Parmusi,” jelasnya.

Usamah pun mengapresiasi kegigihan Pengurus Daerah Wonogiri dalam membangun Parmusi di daerahnya. Untuk mensuport program Desa Madani di sepuluh kecamatan yang disebutkan di atas, ia menyarankan agar menggandeng BNI Syariah karena Parmusi sudah melakukan MoU dengan BNI Syariah dalam pengembangan Desa Madani di seluruh Indonesia.

“Setiap peresmian Desa Madani seperti sekarang kita selalu datangkan pihak BNI Syariah untuk bisa bantu program ini. Jika konsepnya matang, dan peluangnya besar BNI siap kucurkan dana. Jangan khawatir di BNI Syariah tidak ada riba, karena sistemnya adalah bagi hasil,” ujar Usamah.

Selain beternak, dan bertani, warga Desa Kepuhsari juga dikenal sebagai pengrajin karya seni wayang kulit dengan kualitas yang super.
Pupuk organik yang diolah warga desa dari kotaran sapi. Dari pupuk ini bisa diolah lagi menjadi biogas.

Usamah berharap, konsep Desa Madani di wilayah Wonogiri bisa menjadi percontohan bagi daerah lain, khususnya di Jateng agar bisa melakukan hal yang sama. Menurutnya, banyak hal yang bisa dikembangkan untuk bisa menopang perekonomian masyarakat desa, baik dari segi pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan, atau juga sektor kelautan.

“Tinggal nanti disesuaikan sesuai kebutuhan masyarakat. Yang pasti Desa Madani tidak ingin hanya membangun masyarakat desa secara fisik, tapi juga batiniahnya, yakni peningkatan iman dan takwa. Kita harus jadikan Desa Madani ini dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah,” tandasnya.

Sementara itu, Untung Suparni Ketua Pengurus Daerah (PD) Parmusi Wonogiri menambahkan, untuk bisa mengambil hasil panen dari pembibitan pohon kelapa ini memang cukup lama karena butuh waktu empat tahun. Namun, ia mengungkapkan, dalam Desa Madani ini, warga desa tidak hanya mengandalkan bibit kelapa, tapi juga peternakan.

Jenis sapi limosin yang diternak oleh Warga desa Kepuhsari.

“Jadi tidak hanya bibit kelapa, kita juga mengelola peternakan sapi. Dari sapi itu, kotorannya kita kelola lagi jadi pupuk organik, dan biogas. Bahkan dari situ kita bisa menghasilkan tananaman organik. Pupuk juga dibutuhkan untuk tanam bibit kelapa,” jelasnya.

Dengan ditanam di lahan milik warga, Untung menegaskan, kegiatan Parmusi di Wonogiri juga disertai dengan shalat subuh berjamaah dari desa ke desa serta pengajian rutin. Sebab, dari jamaah masjid itu, Parmusi bisa dikenal oleh masyarakat, sampai lahirlah Desa Madani. Pihaknya selalu meminta para Dai Parmusi untuk terus mengetuk pintu dari masjid ke masjid agar bisa mendirikan Desa Madani.

“Karena kita ingin menjadikan masjid sebagai pusat penguatan akidah sekaligus pusat pengutan ekonomi umat, makanya gerakan kita dari masjid ke masjid,” tambahnya.

Ketua LDP KH. Syuhada Bahri.

Di tempat yang sama, Ketua Lembaga Dakwah Parmusi (LDP) Pusat, KH Syuhada Bahri menambahkan, Desa Madani adalah sebuah gerakan untuk membangun Indonesia dari desa ke desa dengan mendekati, menyapa, dan membela orang lemah. Sebab ia yakin dengan hadist Nabi bahwa pertolongan Allah akan datang jika seseorang mau membela orang lemah.

“Keridhoan Allah itu datang kalau kita mau membela orang miskin dan orang yang lemah. Kita akan ditolong Allah karena menolong mereka. Nah, Desa Madani ini hadir disetiap desa karena kita ingin membangun Indonesia dari desa ke desa bersama orang lemah,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, hadir juga Ketua Majelis Penasehat PP Muslimah Parmusi, Daisy Astrilita, Ketua Umum Muslimah Parmusi Nurhayati Payapo, Bendahara Parmusi Dewi Achyani, Wasekjen Parmusi, Mulyadi dan Aidil Adha, serta perwakilan BNI Syariah Wonogiri. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.