Sabtu, 31 Oktober 20

Desa Bawah Laut, Desa Bahoi Likupang

Desa Bawah Laut, Desa Bahoi Likupang

Sebagian besar penduduk Desa Bahoi, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, berprofesi sebagai nelayan dan petani. Sejak 1999 nelayan masih melakukan penangkapan ikan yang merusak, seperti menggunakan bom dan racun. Mangrove juga ditebang.

Hingga akhirnya mereka sadar dan menjadikan Bahoi sebagai  desa ekowisata. Keindahan Bahoi takkan seperti saat ini, bila masyarakatnya tak tersentuh untuk melestarikan lingkungannya. Ditetapkannya Daerah Perlindungan Laut (DPL) yang diatur dalam Peraturan Desa (Perdes) menjadi kunci sukses Bahoi sebagai desa ekowisata.

 

 

 

Terlebih masuknya lembaga Wildlife Conservation Society (WCS) Sulut di desa ini pada 2002 mendorong warga desa mengubah mindset mereka. Masyarakat didorong untuk sadar dan memperbaiki alamnya, serta memanfaatkan segala potensi yang ada.

Ekowisata Bahoi dikelola secara partisipatif oleh masyarakat. Keindahan terumbu karang pada DPL menjadi andalan tempat ini. Tak hanya itu, Desa Bahoi juga memiliki flora dan fauna di hutan mangrove, kawasan pasir putih, dan panorama desa yang asri.

Desa ini ditempuh sekitar 1,5 jam berkendaraan dari Kota Manado. Mengarah di Likupang Barat, gapura selamat datang di Desa Ekowisata Bahoi akan menyambut di pinggir jalan. Memasuki desa dengan jalanan menurun, pemandangan laut Minahasa terlihat indah dari atas bukit. Setibanya di desa, wisatawan harus melapor terlebih dahulu kepada Hakim Tua setempat.

Di sini Anda bisa menginap di homestay milik warga. Makanan pun langsung dimasak oleh mereka. Warga telah terlatih bagaimana menyambut tamu dengan baik.

Anda  juga dapat menikmati kehidupan masyarakat yang bersahaja dan masih mempertahankan budaya daerah asalnya, yakni budaya Sangihe seperti tarian Masamper, Empat Wayer, dan Pato-Pato

Jika ingin ke area DPL, yakni kawasan untuk menjaga kelestarian terumbu karang dan sebagai tempat berkembang biaknya biota laut, Anda bisa naik kapal. Dengan bimbingan pemandu yang terlatih, Anda akan diajak untuk mejelajahi pesona bawah lautnya yang memukau. Konon, keindahan karang dan spesies ikan di Bahoi tak kalah dengan Taman Nasional Bunaken yang mendunia itu. Bahkan di sini Anda bisa bertemu spesies ikan langka seperti maming (napoleon), siput laut, hingga jenis nudibranchia.

Untuk diving, Anda harus  merogoh kocek Rp500 ribu per orang tiap tabungnya. Harga ini sudah termasuk guide dan sewa peragu. Bisa juga hanya menyewa alat, cukup Rp250 ribu saja. Perahu bisa disewa sendiri seharga Rp350 ribu. Sementara jika snorkeling sewa alatnya sebesar Rp25 ribu.

Di desa ini Anda juga bisa menikmati rumah apung di tengah laut yang tepat di bawahnya merupakan titik penyelaman favorit . Hanya dengan Rp10 ribu rumah tersebut sudah bisa digunakan sebagai tempat bersantai atau beristirahat selepas diving atau snorkeling.

Warga juga menjajakan seafood  dan sayur yang dapat dinikmati di atas rumah apung ini. Cukup menggelontorkan uang Rp35 ribu per orang.

 

Jika bertandang ke sana, tak afdol rasanya bila tidak mengunjungi Tanjung Kamala Watuliner yang berada di ujung desa. Tanjung yang kerap disebut Tanjung Los ini merupakan hamparan pasir putih di tengah hutan mangrove. Di hidden paradise tersebut pun telah dibangun pondok-pondok untuk bersantai. Tak hanya itu, jalan menuju ke tanjung ini juga tertata indah. Jembatan kayu yang berdiri membelah hutan mangrove menjadikannya pemandangan tak biasa. Selain Desa Bahoi, masih banyak destinasi menarik di Likupang informasi lebih lengkap bisa diakses melalui pesona.travel (Giattri F.P.)

Related posts

1 Comment

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.