Senin, 30 Maret 20

Demo di Indonesia dan Malaysia Protes Kekejaman China Atas Uighur

Demo di Indonesia dan Malaysia Protes Kekejaman China Atas Uighur
* Demo protes di Kedubes China di Jakarta soal Uighur, 27 Desember 2019.n (rfa.org/benarnews)

Ribuan orang melakukan unjuk rasa di Indonesia dan Malaysia pada Jumat (27/12/2019), untuk memprotes kelakuan rezim China yang menahan sekitar 2 juta etnis Uighur dan Muslim lainnya di kamp-kamp di Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang (XUAR), di tengah meningkatnya seruan untuk bertindak atas nasib buruk mereka.

Demonstrasi terjadi ketika Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad bersumpah untuk tidak mengekstradisi Uighur yang mencari perlindungan di negaranya.

“Masalah penindasan terhadap Islam di seluruh dunia, termasuk Uyghur, ada dan harus diakui oleh semua pihak,” kata Mahathir, Jumat (27/12).

Mahathir menjawab pertanyaan parlemen tentang apakah Malaysia akan menerima pengungsi Uyghur atau mengirim mereka ke negara ketiga.

“Jika Uyghur melarikan diri ke Malaysia untuk mencari suaka, Malaysia tidak akan mengekstradisi mereka bahkan jika ada aplikasi dari China,” kata Mahathir.

“Mereka (muslim Uighur) diizinkan pergi ke negara ketiga karena mereka memiliki ketakutan yang sah atas keselamatan mereka,” tambahnya.

Setelah salat Jumat, sekitar 1.000 pemrotes Muslim kebanyakan berkumpul di bawah hujan lebat di Kedutaan Besar China di Jakarta, dalam demonstrasi terbesar hingga saat ini di negara Asia Tenggara itu terhadap tindakan keras Beijing terhadap minoritas Muslim. Banyak dari pengunjuk rasa mengenakan pakaian putih Islam dan topi tengkorak.

Mereka melambaikan spanduk yang bertuliskan: “China, hentikan genosida etnis Uyghur,” “Sayang kalian China karena merampas kebebasan Uyghur,” dan “Lebih dari satu juta Uighur ditahan secara sewenang-wenang di China, Indonesia harus bersuara.”

Slamet Maarif memimpin protes besar di ibu kota Indonesia. “Dengan dalih memerangi radikalisme, umat Islam Uyghur tidak diberi kebebasan beribadah, ekonomi, sosial dan politik serta budaya dan kemanusiaan mereka,” katanya kepada kerumunan demonstran.

Slamet mendesak pemerintah China untuk mengakhiri pelanggaran hak asasi manusia terhadap Uighur dan membuka akses ke penyelidik internasional yang independen, sambil menyerukan kepada orang Indonesia untuk menunjukkan solidaritas dengan memboikot barang-barang buatan China.

“Kami menyerukan kepada rakyat Indonesia, khususnya Muslim, untuk memboikot produk-produk China, menarik semua simpanan dari bank-bank China, dan menghentikan semua bentuk kerja sama dengan China,” tegasnya, membacakan tuntutan para pemrotes.

Ratusan demonstran juga berkumpul pada hari Jumat di luar konsulat jenderal China di Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia. “Sebagai sesama Muslim, kami juga merasa sakit di sini ketika saudara-saudara kami ditindas di Xinjiang,” Djoko Satria, salah seorang pengunjuk rasa di Jakarta, mengatakan kepada BenarNews, sebuah layanan berita online yang berafiliasi dengan RFA.

Demo Hizbut Tahrir Malaysia di Kedubes China di Kuala Lumpur mengutuk penahanan muslim Uyghur, 27 Desember 2019. (BenarNews)

 

Demo Protes China di Kuala Lumpur
Di Malaysia, sekitar 700 anggota dari berbagai kelompok berkumpul di depan Kedutaan Besar CHina di Kuala Lumpur. Dalam sebuah memorandum bersama, kelompok-kelompok itu, termasuk Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) dan Hizbut Tahrir, mendesak Beijing untuk menghormati hak-hak kaum Uyghur.

“Kami menuntut pemerintah China untuk menghentikan diskriminasi ekstrem dan meminta mereka untuk menutup kamp di Xinjiang yang menampung ratusan ribu warga Uyghur yang ditindas oleh Beijing,” kata pemimpin ABIM, Muhammad Faisal Abdul Aziz, kepada wartawan.

Pejabat kedutaan menolak untuk bertemu dengan perwakilan protes, yang mengatakan mereka berharap untuk menyerahkan dokumen dengan pernyataan mereka.

“Kami meninggalkan memorandum di kotak surat di depan kedutaan besar Tiongkok untuk tindakan selanjutnya. Ini adalah kedua kalinya memorandum kami tidak terkirim ke perwakilan kedutaan!” serunya.

Para pengunjuk rasa juga mengkritik pemerintah Malaysia, dengan Hizbut Tahrir menuntut tindakan yang lebih kuat terhadap Beijing, termasuk memutuskan hubungan diplomatik. (rfa.org)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.