Kamis, 9 Desember 21

Demo Buruh Semarang, NawaCita Jokowi Diganti NawaDuka

Demo Buruh Semarang, NawaCita Jokowi Diganti NawaDuka
* Massa menuntut 9 "Nawa Duka" sebagai bentuk sindiran bagi pemerintahan Joko Widodo.

Semarang, Obsessionnews – Menyambut Hari Buruh Sedunia atau MayDay pada 1 Mei, aksi demo buruh dilakukan di berbagai kota di Indonesia. Di Semarang, bermacam organisasi pegiat gerakan buruh mulai berdatangan pada pukul 09:00 WIB.

Forum Serikat Pekerja Kimia Energi Pertambangan dan Umum (FSP KEP-KSPI), Komunitas Serikat Nasional, Konferensi Serikat Pekerja Nasional, hingga organisasi bertaraf internasional seperti International Labour Organization (ILO) dan puluhan ormas lainnya tergabung dalam Aliansi Gerakan Buruh Berjuang (Gerbang) bersorak sorai di sepanjang Jalan Pahlawan Kota Semarang, Jumat (1/5/2015).

Demo_Buruh_Semarang (2)

Massa datang dengan membawa spanduk dan atribut seperti bendera, slayer dan poster berwarna-warni guna menyuarakan aspirasi mereka. Dalam sekejap, wilayah Jalan Pahlawan berubah menjadi lautan bendera. Penutupan lokasi dilakukan pihak kepolisian mulai dari Simpang Lima sampai kantor Gubernur Jawa Tengah.

Demo_Buruh_Semarang (3)

 

Salah satu koordinator acara, Ahmad Zaenudin dari Federasi Serikat Pekerja Kimia Energi Pertambangan dan Umum (FSP KEP-KSPI) menjelaskan kepada obsessionnews.com bahwa upah adalah tuntutan paling alamiah bagi pekerja yang seharusnya mendapat perlindungan dari pemerintah, justru dijadikan perseteruan antara buruh dengan pengusaha.

“Pemerintah lebih nyaman menjadi wasit dari pertarungan, mereka seolah lupa siapa pelaku ekonomi dan penghasil pajak sesungguhnya,” serunya berapi-api.

Pihak Pemprov Jateng memasang spanduk raksasa guna memberikan pencerahan terkait mayday yang dirayakan para buruh.
Pihak Pemprov Jateng memasang spanduk raksasa guna memberikan pencerahan terkait mayday yang dirayakan para buruh.

Nawa Duka
Ahmad Zaenudin juga memberikan perumpamaan jika pemerintah Jokowi saat ini mempunyai program Nawa Cita, maka butuh sebagai rakyat pekerja memiliki tuntutan yang dijuluki “Nawa Duka”. Pada intinya, para pendemo menolak upah murah dan menuntut agar menghapus sistem kerja outsourcing.

Selain itu, massa juga menuntut supaya peraturan Gubernur Jateng Nomor 65 Tahun 2014 tentang pedoman survey KHL direvisi, membubarkan Pengadilan Hubungan Industrial, dan mendesak pemerintah segera mengaudit layanan BPJS Kesehatan.

Burhanudin, selaku Kapolres Kota Semarang yang baru menjelaskan bahwa di hari mayday pihak kepolisian mensiagakan 1.250 personil guna pengamanan demonstrasi.
Burhanudin, selaku Kapolres Kota Semarang yang baru menjelaskan bahwa di hari mayday pihak kepolisian mensiagakan 1.250 personil guna pengamanan demonstrasi.

“Kita menuntut PHI (Pengadilan Hubungan Industrial) dibubarkan, kita menuntut supaya pembangunan rusunawa yang dibiayai buruh melalui BPJS Kesehatan dihentikan! Kita tidak mau uang buruh untuk membangun rusunawa kemudian diserahkan ke pemerintah!” tegas Ahmad.

Menurutnya, target awal Aliansi Gerbang ingin mendatang sebanyak 10.000 buruh dari berbagai dari di Jawa Tengah. Namun, pantauan obsessionnews.com di lapangan, jumlah buruh yang datang tidak mencapai angka tersebut.

Demo_Buruh_Semarang (6)
Aliansi Gerbang membentangkan spanduk sepanjang 100 meter sebagai bentuk aspirasi.

Ia pun menyindir buruh lainnya yang memperingati hari buruh dengan bersuka cita bersama pemerintah. “Kami menolak hal itu, konsep kita hari perlawanan bagi buruh, bukan hari bermesraan.”

Guna pengamanan acara, Kapolres Kota Semarang, Burhanudin menjelaskan pihak kepolisian melibatkan 1.250 personil anggota Polri dengan dibantu Kodam. Titik-titik yang diamankan ialah Gubernuran, Balaikota, Stasiun Tawang dan RRI.

Demo_Buruh_Semarang (7)

 

“Jalan tol normal seperti biasa tidak ada pengalihan arus. Pengalihan arus hanya di jalan Pahlawan. Di Balaikota juga ada tapi hanya buka tutup saja,” ujarnya saat disambangi di lokasi demo.

“Jadi kita sudah meminta korlap (demo), silakan suarakan aspirasi apa yang menjadi tuntutan, namun jangan sampai mengganggu ketertiban umum, apalagi merusak fasilitas umum, apalagi anarkis. Alhamdulillah rekan-rekan korlap bisa mengendalikan teman-teman buruh,” imbuhnya.

Ahmad Zaenudi selaku koordinator acara menegaskan bahwa pemerintah harus melindungi hak-hak kaum buruh, bukan sekedar menjadi wasit.
Ahmad Zaenudi selaku koordinator acara menegaskan bahwa pemerintah harus melindungi hak-hak kaum buruh, bukan sekedar menjadi wasit.

Para demonstran juga membentangkan spanduk sepanjang hampir 100 meter mulai dari ujung kantor Gubernur hingga kantor DPRD Jawa Tengah. Disisi lain, pihak pemerintah provinsi Jateng memasang spanduk bertuliskan “Kalau bisa lebih nikmat, kenapa nggak dibuat?” untuk memperingati mayday.

Aksi berjalan lancar hingga pukul 13:00. Rencananya, aksi akan dilancarkan sampai jam lima sore. Namun demikian, setelah melakukan shalat berjamaah di jalan, para demonstran membubarkan diri. (Yusuf IH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.