Kamis, 9 April 20

Demo Besar di Hong Kong Bergerak Tanpa Pemimpin

Demo Besar di Hong Kong Bergerak Tanpa Pemimpin
* ilustrasi demo Hong Kong digerakkan app. (BBC)

Bagaimana app bisa menggerakkan unjuk rasa besar ‘tanpa pemimpin’?

Di dalam sebuah ruangan kecil di pinggiran kompleks bangunan, seorang pengunjuk rasa Hong Kong duduk. Pada laptopnya, Tony (nama samaran) mengamati sejumlah kelompok pengguna aplikasi atau app pesan pribadi Telegram dan berbagai forum online.

Para penyelengara demonstrasi mengatakan relawan seperti Tony mengelola sejumlah grup Telegram yang menggerakkan protes Hong Kong dan menjadikannya sebagai sebuah kampanye pembangkangan sipil.

Mereka mengatakan lebih dari dua juta orang turun ke jalan dalam beberapa minggu terakhir untuk menyatakan perlawanan terhadap rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi kontroversial.

Hong Kong mengalami serangkaian unjuk rasa massal menentang usulan RUU, yang para pengecamnya khawatir peraturan ini dapat mengakhiri kemandirian peradilan di Hong Kong.

ilustrasi demo Hong Kong digerakkan app. (BBC)

Pemberian suara
Banyak desakan berunjuk rasa dilakukan secara anonim pada papan pesan dan grup chat lewat app pesan terenkripsi. Sejumlah kelompok memiliki sampai 70.000 pemakai aktif yang berarti mewakili 1% penduduk Hong Kong.

Banyak orang memberikan laporan pandangan pertama atau perkembangan keadaan terbaru terkait dengan unjuk rasa, sementara yang lainnya memberikan informasi tentang kegiatan polisi.

Terdapat juga kelompok yang lebih kecil terdiri dari pengacara dan regu penyelamat darurat dan medis. Mereka memberikan masukan hukum dan memberikan berbagai jenis pasokan kepada demonstran di garis depan.

Para pengunjuk rasa mengatakan koordinasi di internet memberikan cara yang lebih cepat dan mudah bagi penyebaran informasi.

Group chat juga memungkinkan para partisipan memberikan suara – pada saat itu juga – untuk menentukan langkah selanjutnya. “Hal ini cenderung berguna ketika pilihannya hanya beberapa. App ini juga berguna ketika keadaan memerlukan pemilihan suara hitam dan putih,” kata Tony.

Pada malam hari tanggal 21 Juni, hampir 4.000 pengunjuk rasa memberikan suara di grup Telegram untuk menentukan apakah para demonstan pulang pada malam itu atau melanjutkan protes di luar markas polisi Hong Kong.

Hanya 39% yang memberikan suara ke pos polisi – tetapi pengepungan selama enam jam terus berlanjut. App dan layanan lain juga membantu para pengunjuk rasa untuk mengorganisir aksi mereka.

Di tempat umum, poster dan spanduk tentang aksi selanjutnya disebarkan lewat Airdrop, yang memungkinkan orang untuk berbagi dokumen dengan iPhones dan iPads terdekat secara cepat tanpa sambungan kabel.

Minggu ini, kelompok pegiat anonim menghimpun lebih dari setengah juta dolar lewat situs crowdfunding. Mereka berencana menempatkan iklan pada surat kabar internasional guna mendesak perundingan RUU ekstradisi Hong Kong pada KTT G20.

Para pengunjuk rasa mengatakan teknologi menciptakan gerakan demonstrasi tanpa pemimpin ini.

“Masalah yang lebih mendalam adalah bahwa ini merupakan hasil dari ketidakpercayaan terhadap para pejabat,” kata Profesor Edmund Cheng, dari Hong Kong Baptist University.

“Kebanyakan pemimpin unjuk rasa Gerakan Payung dihukum dan dipenjara,” katanya, mengacu kepada protes pro-demokrasi tahun 2014.

Pada bulan April tahun ini, sembilan pemimpin demonstrasi dinyatakan bersalah karena mengajak orang untuk melakukan gangguan ketertiban umum.

“Terdapat sejumlah dakwaan yang dapat diajukan jika Anda ikut serta gerakan atau protes yang jelas-jelas terorganisir,” kata Tony.

Sebagian besar pengunjuk rasa Hong Kong bahkan sampai berusaha tidak meninggalkan jejak digital.

“Kami hanya menggunakan uang kontan, kami bahkan tidak menggunakan ATM saat demonstrasi,” kata Johnny, 25 tahun, yang ikut serta demonstrasi dengan rekannya.

Dia menggunakan telepon genggam lama dan kartu SIM baru setiap kali berunjuk rasa.

Admin kelompok lainnya – yang tidak ingin namanya disebut karena khawatir akan dihukum – mengatakan sejumlah orang menggunakan beberapa akun untuk menyembunyikan jejak digital.

“Sebagian dari kami memiliki tiga atau empat telepon, sebuah iPad dan laptop. Satu orang dapat menggunakan lima atau enam akun. Orang tidak akan mengetahui apakah mereka orang yang sama atau beberapa orang yang menggunakan satu akun,” katanya kepada BBC.

Tony meyakini pengambilan keputusan lewat pemungutan suara kelompok telah melindungi orang dari pengenaan dakwaan.

Dia memandang admin kelompok chat tidak mendukung partai politik dan tidak dapat mengontrol posting para anggota di kelompoknya. “Pemerintah tidak akan menangkap setiap partisipan gerakan ini. Hal itu tidak mungkin dilakukan,” katanya seperti dilansir BBC News Indonesia, Selasa (2/7).

Tetapi dia menyadari penegak hukum kemungkinan akan melakukan cara lain. “Mereka memiliki sasaran orang yang berpengaruh atau pemimpin pembentuk opini dan menjadikan mereka sebagai contoh untuk mencegah orang lain berpartisipasi.”

Pada tanggal 12 Juni, satu admin kelompok di Telegram ditangkap karena diduga bersekongkol dengan berbagai pihak lain untuk menggerebek kompleks badan legislatif Hong Kong dan membarikade sejumlah jalan di sekitarnya.

“Mereka menginginkan pihak-pihak lain mengetahui bahwa meskipun Anda bersembunyi di internet, mereka kemungkinan tetap akan menangkap Anda di rumah Anda,” kata Bond Ng, seorang pengacara Hong Kong yang membela sejumlah pengunjuk rasa yang ditahan. (*/BBC)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.