Minggu, 25 Agustus 19

Deklarasi Damai untuk Indonesia yang Tak Mau Porak Poranda

Deklarasi Damai untuk Indonesia yang Tak Mau Porak Poranda

Jakarta – Hari ini relawan dari kedua pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden (Capres-Cawapres) Prabowo Subianto – Hatta Rajasa (Prabowo-Hatta) dan Joko Widodo – Jusuf Kalla (Jokowi-JK) menggelar acara deklarsi damai Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 yang juga dihadiri Panglima TNI Jenderal Dr Moeldoko dan Kapolri Jenderal Pol Sutarman.

Dalam acara yang digelar di Balai Kartini , Jakarta, Minggu (20/7/2014) ini, Jenderal Moeldoko menyatakan, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar untuk ingin mengaja semuanya untuk melihat kembali, sebenaranya apa yang hendak dituju oleh Indonesia ke depan. Yaitu, menjalankan Pemilu yang demokrasi menjadikan Indonesia yang aman, damai, sejahtera, adil dan makmur.

“Itu yang kita tuju. Saya pikir tidak ada satupun dari rekan-rekan yang hadir disini yang mengendaki diluar itu. Semua menghendaki itu. Bukan Indonesia yang porak-poranda, hancur lebur, ataupun menakutkan. Bukan,” tegas Panglima TNI.

Ia mengingatkan, negara Indonesia memiliki sejarah yang panjang dalam konteks tersebut. Saat ini, lanjut Moeldoko, geopolitik dan geostrategi sedang luar biasa, dimana negara yang ingin keluar dari sebuah kondisi menuju demokrasi ternyata tidak sampai dan jatuh.

“Sulit untuk kembali dan bangun kembali. Kita lihat di Mesir dan Suriah. Beberapa negara Arab Spring semuanya memiliki histori seperti itu,” ungkapnya.

Dulu, kata dia, semuanya tidak pernah terkirakan atau terpikir bahwa Mesir akan hancur seperti itu. Bahwa Suriah akan hancur seperti itu. Mereka tidak berpikir seperti itu tapi sekarang sudah porak-poranda.

“Baru terkaget-kaget. Apakah kita mau seperti itu? Tidak ada sedikitpun yang mau. Itulah negara-negara gajala mencapai demokrasi. Bagi kami ingin saya tegaskan bahwa TNI,” jelas Moeldoko.

Ditegaskan pula bahwa Panglima TNI beserta seluruh jajaran sama sekali tidak menghendaki adanya sebuah situasi dimana TNI harus berhadapan dengan rakyatnya sendiri. Tetapi, bagaimana TNI pada satu sisi harus mengawal dan mengamankan jalannya demokrasi. Disisi yang lain harus mengawal stabilitas tetap terjaga.

“Ini kondisi yang paradoks, tidak mudah bagi kami, bagi TNI. Kita akan bermain diruang sempit antara demokrasi dan stabilitas. Beberapa saat lalu kita pernah menghadapi dimana stabilitas sangat kencang tapi demokrasi tidak berjalan dengan baik. Saat ini kita hidup dinegara yang sangat demokratis bahkan AS pun kalah dengan Indonesia tapi pada kondisi yang lain kondisi kita juga sangat rapuh,” paparnya.

Moeldoko menandaskan, Panglima TNI dan Kapolri bekerja keras untuk menjaga jangan sampai demokrasi terganggu jalannya. Pada sisi yang lain stabilitas berjalan dengan baik. Untuk itu, kehadiran semuanya diruangan ini bersama dengan TNI dan Polri mengawal demokrasi dan stabilitas berjalan dengan baik. “Itu harapan kita kepada masyarakat Indonesia,” tutur Panglima TNI.

Ia pun memberikan sebuah contoh, beberapa bulan yang lalu dirinya ke Cina. Dia menjelaskan disana dikenal dengan Great Harmony . Di Pancasila juga dikenal hal tersebut.”TNI diminta netral, saya tegaskan lagi TNI pasti netral. Bukan hanya netral, prajurit saya bekali netral tegas dan profesional. Saya menaruh rasa hormat atas inisiasi acara ini. Semoga dapat menjadi inspirasi kepada masyarakat Indonesia secara keseluruhan,” tutupnya. (Pur)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.