Minggu, 15 September 19

Dari Aktivis Jadi Politikus, Kini Terjerat Narkoba

Dari Aktivis Jadi Politikus, Kini Terjerat Narkoba
* Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat Andi Arief. (Foto: Twitter @AndiArief__)

Bagi yang biasa membaca berita di media maupun medsos tentu tidak asing dengan sosok Andi Arief. Pasalnya, ocehan mantan aktivis ini cukup pedas dan bikin heboh. Misalnya jelang Pilpres 2019 ini, Andi Arief pernah mengolok calon presiden (capres) 02 dengan ujaran “Prabowo jenderal kardus”. Capres 01 pun pernah ditohok Andi Arief dengan ucapan merendahkan ”Jokowi mirip camat”. Bahkan, Andi Arief bikin heboh dengan pernyataannya soal isu 7 kontainer surat suara sudah dicoblos untuk Pilpres/Pemilu 2019.

Kini, sementara Andi Arief harus meringkuk di ‘penjara’ karena ditangkap polisi saat dia kedapatan nyimeng alias nyedot narkoba. Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat ini harus menginap di hotel prodeo setelah ditangkap di sebuah kamar Hotel Menara Peninsula, Slipi, Jakarta Barat oleh tim Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri,  Minggu (3/3/2019). Politikus Demokrat ini dinyatakan positif mengonsumsi narkoba jenis sabu berdasarkan hasil tes urine. Namun, anak buah SBY ini diduga hanya sebatas pengguna, bukan bandar atau terlibat mafia narkoba.

Benarkah tertangkapnya Andi Arief merupakan salah satu indikasi bahwa politikus merupakan sasaran pasar bandar narkoba karena dianggap berduit? “Pengedar atau bandar memang membedakan segmen penggunanya. Artis, politisi, dan pejabat adalah mereka yang berduit, itu salah satu sasaran pasarnya mereka [bandar narkotika],” kata pengamat narkotika dari Universitas Borobudur Slamet Pribadi, seperti dilansir CNNIndonesia, Senin (4/4).

Namun begitu, mantan Kepala Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) ini menyebut aparat penegak hukum sering mengalami kesulitan untuk mengungkap kasus peredaran narkotik di kalangan politikus. Pasalnya, para politikus kerap mengonsumsi narkotika di tempat-tempat yang bersifat pribadi (privacy) sehingga sulit terdeteksi, atau tidak sama seperti yang digunakan kalangan artis di tempat terbuka.

Banyak politikus yang terjerat kasus narkoba, di antaranya politikus Golkar Ahmad Wazir Noviadi Mawardi, anggota DPRD Tabanan dari Golkar Nyoman Wirama Putra, Ketua DPD PAN Batanghari M Hafiz, anggota DPRD Minahasa Selatan Roosmerry, Wakil Ketua DPRD Bali dari Gerindra Jro Gede Komang Swastika, politikus Golkar Indra Jaya Piliang, politikus NasDem Ibrahim Hasan, dan anggota DPRD Gorontalo dari Golkar Amin Mootalu.

Tentu saja dicokoknya Andi Arief oleh polisi membuat kaget kalangan Partai Demokrat (PD). “Kami Partai Demokrat sangat dikagetkan atas peristiwa yang terjadi dan menimpa kader kami, Saudara Andi Arief, Wasekjen Partai Demokrat,” kata Kadiv Hukum PD Ferdinand Hutahaean, Senin (4/3). “Sepengetahuan kami, Saudara Andi Arief ini tidak bermasalah dan bersinggungan dengan narkoba dan Saudara AA adalah kader partai yang cukup memberikan kontribusi dan dedikasi yang cukup besar kepada partai selama ini,” sambungnya.

Meski demikian, Andi Arief masih berstatus terperiksa. Polisi juga menyebut dia adalah korban atau masih sebatas pengguna, sehingga mungkin akan direhabilitasi. Yang jelas, bagi seorang politikus jika lama diperiksa dalam kasus yang dililitnya berarti dia tersandera hingga sulit baginya untuk berpolitik. Sebelum menjadi politisi, mantan Aktivis 98 ini diangkat menjadi Komisaris PT Pos Indonesia oleh Presiden SBY saat itu.

Kisah Andi Arief menjadi Aktivis 98 saat itu dia menjadi Ketua Umum Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) yang ditangkap pada 28 Maret 1998 di Lampung, 1998 atau hanya dua bulan menjelang jatuhnya Soeharto dari kursi presiden. Andi dikenal sebagai aktivis pro-demokrasi pada masa mudanya, ia aktif di SMID yang berafiliasi dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada pertengahan dekade 1990-an. Akibat kegiatan aktivismenya yang dianggap mengancam Orde Baru, ia menjadi salah satu korban penculikan aktivis pada 1998.

Nasib Andi Arief berubah setelah SBY menjadi Presiden. Pria kelahiran Bandar Lampung, 20 November 1970 ini menjadi Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, dan diangkat menjadi Komisaris PT Pos Indonesia. Andi Arief menjabat sebagai Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat sejak tahun 2015 dimana SBY selaku Ketua Umumnya.

Perkenalan Andi Arief dengan SBY dimulai ketika dia bertemu dengan Kolonel SBY saat menjadi Komandan Korem di Yogyakarta. Saat itu SBY mengisi seminar dan dikenalkan dengan Andi Arief sebagai mahasiswa UGM. Pertemuan selanjutnya saat SBY menjadi Menkopolhukam, Andi Arief meminta pertolongan SBY membantu Gubernur Lampung yang kesulitan dilantik. Setelah itu, Andi Arief intens ketemu SBY dan akhirnya dia membantu SBY di Pemilu lalu. (Red)

 

Baca juga:

Penjelasan Livy Andriany yang Dikaitkan dengan Penangkapan Andi Arief

Polisi Belum Temukan Bukti Andi Arief Terkait Mafia Narkoba

Andi Arief Pernah Diculik di Era Orde Baru

Kasus Narkoba, Polisi Tangkap Andi Arief

Seru! Perseteruan Mahfud dengan Andi Arief Sampai Bawa Nama SBY

Andi Arief Kemungkinan Dijerat dengan UU Pemilu

Andi Arief, Yudhoyono dan Keteladanan Sandi Uno

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.