Senin, 29 November 21

Dampak Kemenangan Brexit di Inggris

Dampak Kemenangan Brexit di Inggris
* dampak kemenangan brexit di inggris. (parstoday)

London – Rakyat Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa setelah pemungutan suara referendum Brexit (Inggris keluar dari Uni Eropa) berakhir pada Kamis (23/6/2016) malam.

Kelompok “Leave” yang ingin Inggris keluar dari Uni Eropa memperoleh 52 persen suara, sementara kelompok “Remain” yang memilih bertahan hanya meraih 48 persen.

Dampak langsung Brexit adalah jatuhnya nilai tukar pound ke posisi terendah dalam 30 tahun terakhir terhadap dolar. Hasil referendum memberikan goncangan besar di Inggris sendiri, Eropa, dan dunia.

Perdana Menteri David Cameron juga akan memilih mundur pada Oktober 2016 setelah rakyat Inggris memutuskan untuk meninggalkan Uni Eropa. Ia membuat pengumuman Jumat (24/6/2016) dalam satu pernyataan di luar kantornya setelah hasil akhir referendum diumumkan.

Dengan memperhatikan hasil tersebut, pendukung kemerdekaan Skotlandia dan Irlandia Utara memiliki motivasi yang lebih besar untuk memisahkan diri dari Inggris. Pada tingkat Eropa, Brexit dapat dianggap sebagai awal bagi keruntuhan Uni Eropa.

Keputusan rakyat Inggris memicu kekhawatiran tentang menguatnya penentangan keanggotaan di Uni Eropa di negara-negara anggota lainnya dan membuat mereka mengajukan inisiatif serupa. Partai dan para politisi anti-Uni Eropa di sejumlah besar negara anggota menyambut keputusan rakyat Inggris dan memuji hasil referendum.

Di tingkat global, Brexit akan mengundang kekecewaan Amerika Serikat sebagai sekutu strategis Inggris, terlebih Presiden Barack Obama dalam kunjungannya ke London pada April lalu, memperingatkan dampak negatif jangka panjang jika Inggris memilih keluar dari Uni Eropa dan pengaruh negara itu secara global berpontesi berkurang.

Survei yang dilakukan sebelum pemungutan suara menunjukkan bahwa kubu Brexit diprediksi akan memenangi referendum. Kubu Brexit telah mengintensifkan kampanye selama empat bulan terakhir dan meminta pemilih untuk mendukung mereka dalam referendum.

Pro-Brexit menganggap klaim para pejabat Inggris terutama Perdana Menteri David Cameron seputar dampak-dampak negatif Brexit bagi perekonomian Inggris, tidak benar dan tidak realistis. Mantan Walikota London, Boris Johnson mendukung kampanye yang menyuarakan Inggris keluar dari Uni Eropa.

Johnson mengatakan, “Brexit akan membuat kita kembali mengendalikan mata uang nasional, memperoleh kedaulatan sebagai negara sendiri, dan memiliki masa depan ekonomi.” Ia juga menuding Obama bersikap munafik lantaran mendukung Inggris untuk tetap menjadi anggota Uni Eropa. AS bukan anggota Uni Eropa dan sekarang meminta rakyat Inggris untuk mengorbankan undang-undang, kedaulatan, mata uang, dan demokrasinya dengan melanjutkan keanggotaan di organisasi itu.

Kubu pendukung Brexit selalu menekankan masalah keuntungan finansial dan ekonomi jika Inggris keluar dari UE. Mereka percaya bahwa Brexit akan memperkuat pertumbuhan ekonomi Inggris, sementara melanjutkan keanggotaan justru akan mendorong resesi ekonomi dan menambah jumlah kedatangan imigran.

Mereka juga tidak senang dengan dominasi Uni Eropa terutama dalam hal pemaksaan untuk menerima pengungsi dan isu-isu hak asasi manusia.

Kemenangan pro-Brexit pada akhirnya akan membawa dampak besar tidak hanya bagi masa depan Inggris, tapi juga Uni Eropa dan bahkan dunia Barat. Mungkin dengan alasan ini pula Ketua Komisi Kebijakan Luar Negeri Parlemen Eropa, Elmar Brok memperingatkan bahwa Inggris tidak bisa lagi menjadi anggota Uni Eropa jika sudah memilih keluar.

“Sama sekali tidak ada negosiasi baru untuk kesepakatan ulang dengan Inggris dan Uni Eropa tidak ingin negara lain meniru pendekatan seperti ini,” tegasnya. (ParsToday)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.