Kamis, 9 Desember 21

Dampak Eksekusi Mati Balinine Hanya Kritis Sesaat

Dampak Eksekusi Mati Balinine Hanya Kritis Sesaat

Bandung, Obsessionnews – Dampak eksekusi mati Balinine dan penarikan Dubes Australia di Indonesia akan terjadi hubungan kritis dalam jangka pendek. Demikian ditegaskan Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung  Dr Teuku Reza Syah, Rabu (29/4).

“Saya sangat berharap pemerintah dan rakyat Australia lebih memikirkan jangka panjang dibanding hanya memikirkan hal yang tertancap pada hukuman mati yang dua ini,” tegas Reza.

Kritis yang dimaksud, menurutnya, adalah saat masyarakat Australia mendesak pemerintahannya untuk melakukan penekanan terhadap pemerintah Indonesia “Saya berharap pemerintah Australia lebih realistis, tentunya tekanan itu akan lebih besar, karena masih ada 7 orang lagi dari anggota Balinine yang akan mengalami hukuman serupa,” paparnya.

Selain itu, lanjutnya, akan ada pelarangan produk impor dari  Indonesia, gangguan terhadap diplomat Indonesia, pembatalan atas kerjasama internasional akan mengalami pembekuan untuk sementara waktu  sampai harapannya pemerintah Indonesia akan mengubah pendiriannya terhadap 7 orang tersebut.

Ia menuturkan, Pemerintah Indonesia hendaknya menggalakkan diplomasi  publik, berkomunikasi dengan pemerintah dan masyarakat Australia. Masalahnya dalam diplomasi publik, kita sering kekurangan amunisi, misalnya kita kekurangan dokumentasi proses hukum Balinine dari awal, investigatif report untuk menggambarkan kepada penduduk Australia.

“Ini lho sebenarnya warga anda yang ngaco di Indonesia, ini lho daftar kejahatan yang mereka lakukan di Australia dan  sindikasi kejahatan narkoba internasional,” terangnya.

Inilah, menurut Reza, yang harus dilakukan diplomat kita, investigatif report ini memang sangat mahal. “Ini kan tidak hanya investigatif, tapi juga para perwakilan media masa Indonesia hendaknya melakukan penelitian yang mendalam misalnya membuat profile dari lahir, keadaan Balinine saat sudah besar, sekolahnya dimana dan melakukan wawancara dengan para anggota kepolisian nasional Australia,” jelasnya.

Selain itu, tutur dia, pelajari pula jalur-jalur sampai  akhirnya mereka sampai ke Indonesia, target operasi mereka sebenarnya apa. “Untuk itu diplomat kita harus bekerjasma dengan kepolisian Indonesia, dengan Interpol dengan awak media,” ungkapnya.

Dengan cara seperti itu, menurutnya, kita dapat membuka mata masyarakat Australia. “Kalau tidak seperti itu maka warga Australia hanya akan percaya pada informasi media Australia yang belum tentu netral,” bebernya.

“Diplomat kita sangat piawai, namun apalah artinya kepiawaian itu tanpa didukung oleh bukti-bukti yang menggambarkan proses hukum yang sudah dilakukan dengan benar seperti, tidak terjadi pemalsuan dokumen, sumpah palsu dan perkeliruan dalam pengadilan, sehingga mampu meyakinkan masyarakat Australia, bahwa proses peradilan sudah ditempuh dengan baik, lurus dan dapat diuji dengan kriteria good governance yang Australia punya,” tambahnya.

Reza tidak sependapat apabila eksesnya harus perang, karena bangsa Indonesia bangsa yang cinta damai. “Ngeri ya kalau mendengar harus perang, karena  bangsa kita adalah bangsa yang cinta damai, tidak terpikirkan untuk memerangi negara manapun, perang merupakan upaya terakhir apabila upaya diplomatik tidak selesai,” tukasnya.

Untuk kasus narkoba ini, menurut dia, harus ada pembenahan kedalam dan komunikasi keluar, sehingga pihak luar mengerti bahwa Indonesia adalah negara yang demokratis dan taat hukum serta dapat bekerja sesuai dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia, yakni memelihara perdamaian dunia.

“Indonesia harus cepat tanggap terutama Kementerian Luar Negeri dan Kemenfo, TNI dan Polri, sehingga seluruhnya harus berjalan dengan baik!” seru Pakar Unpad. (Dudy Supriyadi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.