Minggu, 27 September 20

Dampak Covid-19, Ekonomi China Minus 6,8 Persen

Dampak Covid-19, Ekonomi China Minus 6,8 Persen
* Mata uang China, Yuan

China yang selama ini menjadi kekuatan ekonomi dunia, ternyata tak mampu menahan dampak wabah virus Corona (Covid-19). Biro Statistik Nasional China melaporkan, pada kuartal I-2020 ekonomi nasional merela terkontraksi alias tumbuh negatif -6,8 persen year-on-year (YoY).

Ekonomi China untuk pertama kalinya menyusut dalam beberapa dekade terakhir. Covid-19 memaksa pabrik dan bisnis tutup. Ekonomi terbesar kedua di dunia ini mengalami kontraksi hingga 6,8% menurut data resmi yang dirilis pada Jumat (17/4/2020).

Pukulan Covid-19 terhadap ekonomi China ini akan menjadi perhatian besar bagi negara-negara lain. China merupakan kekuatan ekonomi dunia karena perannya sebagai konsumen utama serta penghasil barang dan jasa.

Ekspor Indonesia ke China pada tahun 2019 misalnya, mencapai US$29,7 milliar atau senilai Rp464,5 triliun dengan mengacu pada nilai tukar mata uang Jumat (17/4). Menurut Bank Indonesia, dengan nilai itu, China merupakan negara utama tujuan ekspor Indonesia.

Demikian pula dengan impor Indonesia dari China. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia IGP Wira Kusuma mengatakan, “Kita bergantung pada China sebesar US$29,4 miliar. China juga jadi negara impor pertama ke Indonesia.”

Penyusutan ekonomi China pada kuartal pertama 2020 ini merupakan penyusutan pertama sejak tahun 1992.

“Kontraksi PDB pada Januari-Maret ini akan diterjemahkan menjadi kerugian pendapatan permanen, tercermin dalam kebangkrutan perusahaan kecil dan warga yang kehilangan pekerjaan,” kata Yue Su di Economist Intelligence Unit seperti dilansir BBC News, Sabtu (18/4).

Tahun lalu, ketika China terkunci dalam perang dagang dengan AS, China memiliki pertumbuhan ekonomi yang sehat sebesar 6,4% pada kuartal pertama.

Dalam dua dekade terakhir, China telah membukukan pertumbuhan ekonomi rata-rata sekitar 9% per tahun, meskipun para ahli secara teratur mempertanyakan keakuratan data ekonominya.

Perekonomiannya terhenti selama tiga bulan pertama tahun ini karena lockdown alias penutupan besar-besaran dan karantina untuk mencegah penyebaran virus corona pada akhir Januari.

Akibatnya, para ekonom memperkirakan angka yang suram. Sementara data resmi sedikit lebih buruk dari yang diharapkan.

Berikut sejumlah data kunci lainnya yang dirilis dalam laporan Jumat:
• Output pabrik turun 1,1% untuk bulan Maret karena China perlahan mulai memproduksi lagi
• Penjualan ritel anjlok 15,8% bulan lalu karena banyak pembeli yang tinggal di rumah
• Pengangguran mencapai 5,9% pada bulan Maret, sedikit lebih baik dari data tertinggi sepanjang Februari yang mencapai 6,2%

Ini Mengerikan!
Anjloknya ekonomi China menjadi minus 6,8 persen ini cukup mengejutkan karena ini menjadi kontraksi pertama sejak China mencatat pertumbuhan ekonomi secara YoY pada 1992. Apalagi, China merupakan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat (AS). Selain China, diperkirakan perekonomian dunia akan mengalami kontraksi yang sangat menyedihkan tahun ini.

Memang, virus corona (Covid-19) berdampak pada ekonomi global yang mengalami tekanan serius. Bahkan IMF sempat menyebutkan, dampak virus corona bisa menyebabkan terjadinya krisis sosial. Dan sejumlah lembaga keuangan dunia memprediksi akan terjadi kontraksi ekonomi global pada 2020.

Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan hal tersebut adalah ramalan yang agak mengerikan. “Dan kita semua harus bersiap-siap menghadapinya,” kata Sri Mulyani, Jumat (17/4).

Sri Mulyani, yang juga mantan Direktur Bank Dunia mengatakan, sejumlah lembaga memangkas secara signifikan proyeksi perekonomian dunia dalam waktu yang singkat.

“China negatif 6 persen dan dunia negatif 3 persen. Ini shock yang besar, dalam hal ini tidak bisa menafikan shock ini pengaruh besar ke ekonomi kita. Untuk Indonesia baseline 2,3 persen di 2020,” kata Sri Mulyani.

“Kalau ada shock yang jauh lebih besar, prediksi IMF ini kalau ada shock yang lebih maka ekonomi Indonesia kemungkinan tahun ini negatif 0,5 persen. Ini skenario berat. Makanya tidak mungkin semua tidak bisa dilakukan APBN sendiri,” tambahnya.

“Januari sampai Februari ada momentum pemulihan dari 2019. Konsumsi, investasi, bahkan ekspor menunjukkan perkembangan positif. Bahkan konsumsi sampai Maret minggu pertama masih bagus,” kata Sri Mulyani.

Dengan kondisi tersebut, Sri Mulyani memperkirakan ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh 4,5-4,6 persen pada periode Januari-Maret 2020. “Masih kelihatan tinggi, meski di bawah 5 persen,” paparnya. (*/BBC/CNBC)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.