Senin, 6 Juli 20

Dakwah yang Menyemangati

Dakwah yang Menyemangati

Oleh: Ustadz Felix Siauw, Pengemban Dakwah

 

Pengemban dakwah itu harus bisa melihat kebenaran di saat yang lain gagal melihatnya. Memperjuangkan kebenaran itu di saat yang lain meninggalkannya.

Tapi juga bagian sifat pengemban dakwah adalah menghargai kebaikan sesederhana apapun. Sebab yang dia lakukan adalah mengajak orang lain menjadi baik.

Karena ujian pengemban dakwah adalah sudah merasa baik, karena itu memandang enteng kebaikan yang dilakukan orang lain. Padahal itu berarti baginya.

Misal ada seseorang yang terbiasa meninggalkan shalat 5 waktu, lalu mulai membaca dan menonton kajian-kajian shalat, walau dia belum juga mulai shalat.

Kita tidak membenarkan perkara ‘belum shalat’-nya, tapi kita juga harus memberi semangat agar dia lalu melakukan shalat. Bukan malah menjatuhkan gairahnya.

Terkadang pengemban dakwah lupa, bahwa dakwah intinya mengajak. Dan mengajak itu tidak akan berhasil apabila orang sudah tidak suka dengan pengajaknya.

Sampaikan sesuatu yang menyemangati, tanpa membenarkan maksiat yang dilakukan, dengan cara yang paling baik, paling sopan, paling menarik dan paling mudah.

Tidak semua manusia semisal Abu Bakar, yang imannya tanpa tanding. Ada manusia yang harus melalui debat, ada yang lewat waktu, ada yang lewat akhlak yang baik.

Tapi tak ada manusia yang tertarik dengan Islam lewat makian, cacian, kata kotor dan nista. Sebab alamiah manusia itu tenang, damai, dan itulah alamiahnya Islam.

Lagi pula kita tak pernah diwajibkan Allah mengubah manusia, sebab itu adalah kewenangan Allah semata. Sementara kita hanya diperintahkan menyampaikan saja.

Kita berdakwah untuk kita, sebab ini kewajiban kita. Kita juga berdakwah sebab kita mencintai Allah dan Rasul, maka kita ingin agar yang lain merasakan keindahan ini.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.