Rabu, 12 Agustus 20

Dakwah Itu Memanusiakan Manusia

Dakwah Itu Memanusiakan Manusia

Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation, New York

 

Dakwah itu adalah ajakan kepada Tuhan (da’wah ilaa Allah). Sehingga esensi utama dari dakwah adalah agar manusia bisa kembali ke jalan Tuhan. Jalan Tuhan inilah yang lebih populer dalam bahasa agama dengan fitrah. Maka dakwah adalah ajakan kepada manusia untuk kembali ke fitrah asalnya. Yaitu mengakui Tuhan dalam hidupnya dan dengan segala konsekuensi, termasuk menaati ajaran-Nya.

Maka dalam berdakwah esensi ketuhanan menjadi fokus. Ketuhanan yang mengajarkan kejujuran dan keikhlasan, kesucian, kesakralan, kebesaran, dan kemahakuasaan dalam segala hal. Ketuhanan juga mengajarkan kecintaan, kasih sayang, kelembutan, kemaafan, dan pengampunan.

Esensi ketuhanan di atas dalam dakwah juga akan terlihat dalam memperlakukan “mad’u” atau objek dakwah. Satu di antara yang terpenting adalah bahwa dakwah itu memanusiakan manusia. Dakwah bukan merendahkan, bukan menyakiti, bukan menghina, bukan mengusir. Tapi justru mengajak manusia untuk kembali kepada kemanusiaan sejatinya.

Dengan dakwah manusia akan menjadi manusia yang sesungguhnya. Yaitu manusia yang memiliki “nurani” yang senantiasa suci. Dan dengan nurani suci itu manusia akan menjalani hidup dengan pertimbangan kesucian (ketuhanan).

Suatu ketika seorang pemuda meminta izin kepada Rasulullah untuk melakukan kekejian (zina). Rasulullah SAW tidak memarahi, tidak pula merendahkan, apalagi mencaci, menghina dan mengusirnya. Justru Rasulullah mengajaknya kembali kepada pertimbangan nuraninya. Dengan mengingatkan bahwa nurani manusia (kesucian atau fitrah) menolak untuk melakukan seperti itu. Hanya saja di saat itu nuraninya sedang tertimbun oleh keangkuhan egoisme dan hawa nafsu. Dan oleh karenanya yang perlu dilakukan oleh Rasul adalah membesarkan nuraninya sehingga mampu mengalahkan kecenderungan ego dan hawa nafsunya.

Menurut kisah, pemuda itu menjadi salah seorang pemuda yang paling bertakwa di Madinah.

Di kota New York seorang sopir limo pernah menelepon saya dan menyampaikan jika salah seorang langganannya ingin belajar Islam. Singkat cerita saya menerima orang itu di kemudian hari, dan terjadilah dialog berikut. Saya menyebutnya “sahabat”.

Saya: selamat datang. Apa yang saya bisa bantu?
Sahabat: Saya mau belajar Islam
Saya: Agamau apa?
Sahabat: Saya terlahir Katolik, lalu pindah ke Kristen (Protestan). Tapi saat ini saya mengikuti ajaran Budha.
Saya: Apakah anda biksu? (Dia memakai baju biksu).
Sahabat: Tidak. Saya bukan biksu
Saya: Kenapa memakai baju biksu?
Sahabat: Karena saya ingin menghormati anda sebagai imam. (Rupanya menyangka bahwa menghadap imam itu harusnya dengan pakaian tradisional agama)
Saya: Terima kasih. Tapi saya memakai pakaian apa saja asal menutup aurat.

Singkat cerita saya tanya teman itu: “Apa yang menjadikan anda ingin belajar Islam?”.

Jawabnya cukup panjang: “sebagai seorang Budha, setiap kali saya dahaga secara spiritual (ruh) saya bermeditasi. Setelah itu saya merasa puas. Tapi ketika saya kembali ke duniaku, saya kembali hilang (tersesat). Saya ingin sebuah agama yang bisa membimbing saya 24 jam dalam hidup saya.

Saya kemudian mengambil kendali. Saya paham bahwa orang ini mencari acuan hidup yang riil dan praktis. Maka saya menjelaskan bagaimana Islam membimbing hidup kita dari pagi hingga malam dan dari malam hingga kembali bangun tidur. Semua ada acuannya secara lengkap.

Tapi dalam tiba-tiba saja dia memotong pembicaraan saya: “Sorry, but do you think I can be accepted a Muslim?”

Terus terang saya menyangka karena dosa-dosa, termasuk tato yang memenuhi badannya. “Kalau anda menerima Islam maka semua kesalahan dan dosa masa lalu anda akan dimaafkan. Anda bahkan saat itu menjadi lebih baik dari saya”, kata saya.

Dia diam, sehingga saya lanjutkan pembicaraan mengenai Islam dan petunjuk hidup. Beberapa menit kemudian dia kembali menyelah: “Apa benar saya bisa diterima menjadi seorang Muslim?”.

Saya terkejut dengan pertanyaan itu. Maka saya bertanya balik: “kenapa anda bertanya seperti itu?”

Tiba-tiba dengan suara aga besar dia menyampaikan: “because I am gay!”

Mendengar itu saya diam sejenak. Mencoba menenangkan diri dan menarik napas. Lalu saya melihat dia dan bertanya: “Sejak kapan anda merasakan hal ini?”

“Sejak saya memulai bisnis saya”, jawabnya singkat.

“Apa bisnis anda?”, tanya saya.

“I am a fashion show model”, jawabnya singkat.

Saya kemudian menanyakan masa lalunya sebelum terjun ke dunia bisnis. Ternyata dia pernah punya pacar wanita, bahkan (maaf) telah tidur bersama. Maka saya kemudian mengatakan kepadanya: “Kalau begitu anda pernah berubah” (dari pria normal ke banci). Saya ingin tanya anda: “Apakah anda mau kembali melakukan perubahan?”.

Dia nampak diam sejenak dan dengan mengangguk menjawab: “yes I will.”

Saya kemudian mengatakan kepadanya bahwa menjadi seorang Muslim itu bukan sekadar berpindah agama. Tapi sebuah komitmen untuk melakukan perubahan hidup.

Singkat cerita teman ini mengikrarkan syahadat. Beberapa bulan kemudian di bulan Ramadan beliau menelepon saya dan menyampaikan bahwa dia semakin merasa tenang dalam hidupnya.

Bahkan dua tahun kemudian teman ini betul-betul menemukan kembali jalan hidupnya. Dia menemukan jodohnya melalui biro jodoh internet. Seorang wanita Maroko. Kini dia hidup dengan istrinya di Maroko dan New York. Dia pun telah meninggalkan bisnis modelnya dan memulai bisnis baru.

Poin yang terpenting dari cerita ini adalah bahwa dakwah itu memang selalu melihat sisi positif manusia. Jangan pernah merendahkan seseorang karena salah dan dosa sebesar apapun itu. “Dan kasih sayangku meliputi semuanya”, firman-Nya.

Berdakwahlah dengan niat dan pikiran positif. Dengan itikad dan tujuan positif. Dengan penyampaian dan bahasa positif. Dan dengan raut wajah dan karakter positif. Insya Allah hasilnya akan jauh lebih positif. Amin!

 

Sumber: www.facebook.com

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.