Selasa, 19 Oktober 21

Cukai Naik, Industri Tembakau Kecil Menengah Terancam Ambruk

Cukai Naik, Industri Tembakau Kecil Menengah Terancam Ambruk

Jakarta, Obsessionnews – Pengamat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng yang juga Peneliti Senior The Indonesia for Global Justice (IGJ) menyayangkan, pemerintahan hanya menjadikan petani tembakau dan industri kretek sebagai bancakan untuk mengisi kas pemerintahan, sementara sisi lain industri modal asing dimanjakan dan bahkan diberi fasilitas dan insentif.

“Cukai tembakau naik 22.23 persen, industri nasional ambruk! Cukai minuman beralkohol turun, cukai minuman bersoda nol. Industri asing berjaya! Nostalgia petani tembakau dengan Presiden terpilih Jokowi sudah saatnya untuk diakhiri, setelah memberikan dukungan 100 persen pada pemilu lalu! Sudah saatnya menyampaikan kritik keras kepada pemeritahan ini bersama elemen masyarakat tertindas lainnya,” tegas Salamuddin Daeng di Jakarta, Minggu (1/2/2015).

Salamuddin memaparkan, dalam APBNP 2015 target penerimaan cukai tembakau mencapai Rp136,12 triliun, meningkat 22.23 % dibandingkan APBNP 2014. “Kenaikan sangat besar ini akan mengakibatkan ambruknya industri tembakau skala kecil menengah. Pemerintah melanggar UU Cukai karena tidak meminta pendapat kalangan industri dalam menaikkan cukai,” tandasnya.

Ia menyebutkan, target penerimaan cukai etil alkohol hanya sebesar Rp165,5 miliar (tidak mengalami peningkatan) dan penerimaan cukai dan target pendapatan minuman yang mengandung etil alkohol hanya sebesar Rp5,45 triliun (justru menurun). “Pemerintah yang konon katanya akan melakukan ekstensifikasi pajak dengan mengenakan cukai pada minuman bersoda dan beralkohol tenyata omong kosong belaka,” bebernya.

Padahal, lanjut dia, tantangan yang dihadapi petani tembakau dan industri kretek sangatlah berat, terkait ASEAN Economic Commmunity (AEC) pada akhir 2015 mendatang, yang menghapus secara menyeluruh bea masuk impor tembakau, hasil olahan tembakau dan penerapan standarisasi produk tembakau melalui rezim ASEAN.

“Jika petani tembakau dan kalangan industri kretek tidak mengakhiri nostalgia dengan Jokowi, maka pemerintahan ini akan menjadikan petani tembakau dan industri kretek sebagai fosil dan memuseumkan industri yang mempekerjakan lebih dari 10 juta rakyat Indonesia tersebut,” ungkap Salamuddin. (Asma)

Related posts