Senin, 18 Oktober 21

Covid-19 Bikin Hilang Penciuman, Makanan Membuat Terasa Mual

Covid-19 Bikin Hilang Penciuman, Makanan Membuat Terasa Mual
* Ilustrasi gangguan penciuman akibat parosmia. (Foto: BBC)

Gangguan penciuman akibat terkena virus Corona (Covid-19) bisa menmbulkan parosmia, yakni sejak terkena Covid akan menyebabkan makanan membuat terasa mual di samping hilang indera penciuman.

Banyak orang yang tertular Covid-19 terganggu penciumannya sementara. Ketika mereka pulih, kondisi ini biasanya kembali terjadi.

Namun bagi sebagian orang, penciuman mereka berubah. Aroma enak seperti makanan, sabun dan orang-orang terdekat berubah seperti layaknya bau menjijikkan.

Kondisi seperti ini disebut parosmia dan semakin banyak orang yang mengalami. Tetapi para ilmuwan masih belum memahami mengapa gangguan ini bisa terjadi dan bagaimana pengobatannya.

Setiap kali masak untuk keluarganya, ia merasa sangat tertekan.

“Saya pusing karena bau. Bau busuk memenuhi rumah begitu kompor saya nyalakan dan tidak tertahankan,” katanya.

Perempuan berusia 47 tahun ini telah mengalami parosmia selama tujuh bulan dan setiap hari banyak hal yang menurutnya mengeluarkan bau busuk.

Bawang, kopi, daging, buah, minuman beralkohol, pasta gigi, produk pembersih dan parfum, semua membuatnya ingin muntah.

Air keran juga mengeluarkan bau yang sama baginya, sehingga sulit baginya untuk mencuci.

“Saya bahkan tak bisa mencium suami saya lagi,” tambahnya.

Clare tertular virus corona bulan Maret tahun lalu dan seperti banyak orang lain, ia kehilngan indera perasa.

Penciumannya kembali normal sesaat pada Mei tahun lalu namun pada bulan Juni, Clare menolak makanan favorit yang dia pesan karena tercium seperti parfum basi.

Setiap kali, ada makanan yang dimasukkan ke oven, bau yang tercium adalah produk kimia yang terbakar.

Sejak pertengahan tahun lalu, Clare hanya makan roti dan keju karena hanya dua makanan itu yang bisa ia telan.

“Saya tak punya energi dan seluruh badan sakit,” katanya.

Kondisi ini juga mempengaruhi kondisi emosinya dan ia sering menangis.

“Walaupun anosmia (kondisi tak bisa merasa dan mencium) tak enak, saya masih dapat melanjutkan hidup seperti biasa dan tetap minum dan makan,” kata Clare.

“Saya akan hidup dengan kondisi itu selamanya, jika itu bisa membuat saya tak mengalami parosmia.”

 

Bau comberan campur aroma buah
Dokter yang biasa menangani Clare mengatakan ia tidak pernah mendiagnosis pasien dengan kondisi seperti ini.

Dengan kondisi seperti itu, dalam keadaan bingung dan takut, Clare mencari tahu berbagai informasi melalui internet dan menemukan grup di Facebook dengan anggota 6.000 orang yang dibentuk oleh yayasan bagi mereka yang kehilangan indera perasa, AbScent.

Semua orang di grup itu mulai dengan anosmia setelah tertular Covid-19, dan berakhir dengan parosmia.

“Yang biasa digambarkan dari penciuman penderita parosmia adalah: kematian, busuk, daging busuk, kotoran,” kata pendiri AbScent, Chrissi Kelly, yang mendirikan grup itu pada Juni lalu setelah apa yang ia gambarkan “gelombang” kasus parosmia akibat Covid-19.

Ada yang menggambarkan sebagai “bau comberan bercampur bau buah,” “bau sampah basah” dan bau “anjing basah.”

Terkadang, para penderita kesulitan untuk menggambarkan bau yang mereka cium karena tak pernah mencium bau itu sebelumnya. Mereka menggunakan kata-kata yang menggambarkan perasaan jijik.

Sekitar 65% orang yang kehilangan indera perasa dan penciuman dan sekitar 10% di antaranya mengalami apa yang disebut “qualitative olfactory dysfunction”, yang artinya parosmia atau kondisi lain, phantosmia.

Kondisi ini adalah bila seseorang mencium sesuatu yang tak ada.

Bila data ini benar, berarti 6,5 juta dari 100 juta orang yang terkena Covid-19 di dunia kemungkinan mengalami parosmia dalam jangka panjang.

Dr Jane Parker, ilmuwan yang mendalami indera perasa di Universitas Reading, mempelajari parosmia sebelum pandemi, saat kasus ini masih sangat jarang terjadi.

Satu teori terkait pengalaman mencium bau busuk oleh mereka yang menderita parosmia adalah mereka hanya dapat mencium salah satu bagian bahan yang terkandung. Bau yang mereka cium kemungkinan bisa memburuk.

Misalnya, kopi mengandung sulfur yang tercium enak bila dikombinasikan dengan molekul lain yang memberikan aroma enak. Namun tentu berbau tak enak, bila hanya sulfur yang tercium.

Dari pengalaman anggota dalam group AbScent, Park dan timnya menemukan bahwa daging, bawang, bawang putih dan coklat menimbulkan reaksi buruk. Begitu juga dengan kopi, sayur, buah, air keran dan wine atau minuman anggur.

Sebagian besar benda lain berbau busuk bagi sebagian sukarelawan dan tak ada yang berbau enak kecuali “mungkin kacang almond dan buah cherry.”

Mereka sering menggambarkan bau seperti halnya bahan kimia dan bau asap, agak manis dan ada juga yang menyebut mencium bau “muntah.”

Penelitian Parker juga menunjukkan bau busuk akan tetap dialami penderita parosmia pada waktu yang lama.

Bagi sebagian besar orang, bau kopi dapat bertahan selama beberapa detik, namun bagi penderita parosmia dapat bertahan berjam-jam atau bahkan berhari-hari.

Tip untuk menghadapi parosmia

* Konsumsi makanan dengan suhu ruangan atau agak dingin
* Hindari gorengan, daging bakar, bawang, bawang putih, telur, kopi dan coklat, jenis makanan yang paling busuk baunya bagi banyak penderita
Coba makanan agak tawar seperti nasi, mi, roti, sayur kukus dan yoghurt tanpa rasa
* Bila tak bisa menelan makanan, cobalah minuman protein
Sumber: AbScent

Bau kamar mandi tercium enak dan dapat dinikmati
Barry Smith, peneliti di Inggris di Global Consortium for Chemosensory Research, mengatakan temuan yang mengejutkan adalah apa yang ia sebut “tipuan” dari parosmia.

“Bagi sebagian orang, popok bayi dan bau kamar mandi tericum enak, dan bahkan dinikmati,” katanya.

“Tampaknya seolah bau kotoran manusia seperti makanan dan makanan tercium seperti kotoran manusia,” katanya.

Jadi apa penyebab parosmia?

Hipotesanya adalah kondisi ini terjadi karena kerusakan serat saraf yang membawa sinyal dari hidung ke terminal penciuman di otak.

Saat serat saraf yang rusak tumbuh kembali – setelah rusak akibat kecelakaan mobil atau akibat virus atau infeksi bakteri, diperkirakan serat ini tersambung kembali ke terminal yang salah, kata Parker.

“Serat saraf berada di tempat yang salah! Ini berarti ada kondisi yang salah dan otak tidak mengenal bau dan mungkin terprogram untuk berpikir yang tercium adalah bahaya.”

Teorinya adalah dalam sebagian besar kasus, otak akan mengatasi masalah ini, namun Parker ragu-ragu untuk mengatakan berapa lama kondisi akan kembali normal.

“Hanya sedikit orang yang mengalami parosmia sebelum ada pandemi Covid-19. Akibatnya tak banyak penelitian dan sebagian besar orang tak tahu, seperti apa kondisi ini, dan tak ada datanya juga. Kita tak ada data tentang Covid-19 juga, sehingga mungkin akan memakan waktu bertahun-tahun (untuk pulih),” tambahnya.

Selain menunggu otak untuk beradaptasi, sampai saat ini tidak ada pengobatan, walaupun menurut grup AbScent “melatih penciuman” dapat membantu.

Latihan ini mencakup secara rutin mencium sejumlah minyak dan menebak berasal dari tanaman apa minyak-minyak itu.

Clare Freer telah mencoba latihan penciuman ini. Baginya jeruk, kayu putih, cengkeh sudah mulai tercium sedikit, namun ia masih belum dapat mencium bunga mawar. (Red)

Sumber: BBC News

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.