Minggu, 24 Oktober 21

Coca Cola Lambat, Minuman dengan Pemanis Buatan Tak Laku di AS

Coca Cola Lambat, Minuman dengan Pemanis Buatan Tak Laku di AS
* Coca-Cola masih menjadi minuman berkarbonasi yang paling populer, tapi pertumbuhannya lambat. (bbc.co.uk)

New York – Minuman berkarbonasi Pepsi menjadi minuman paling populer kedua di Amerika Serikat seiring dengan kesadaran konsumen menghindari produk dengan pemanis buatan.

Menurut angka penjualan tahun lalu yang dipublikasikan Beverage Digest, Coca-Cola menjadi minuman berkarbonasi nomor satu di AS. Namun, Diet Coke turun ke peringkat tiga lantaran angka penjualannya menukik 6,6%.

Meski demikian, penjualan minuman soda di AS selama 10 tahun terakhir menunjukkan penurunan berarti.

Pada saat bersamaan, popularitas minuman berkalori rendah yang menggunakan pemanis buatan seperti aspartam juga menurun karena ada kekhawatiran tentang efek samping dari bahan-bahan tersebut.

Sebagai konsekuensi, penjualan minuman non-soda meningkat drastis. Nestle, misalnya, mencatat kenaikan penjualan air mineral botol hingga 9%.

Sejumlah minuman berenergi dan kopi dingin juga meningkat popularitasnya.

“Ada peralihan ke minuman berkategori lain yang sangat besar dalam beberapa tahun terakhir,” kata John Sicher, editor Beverage Digest, kepada BBC.

Kekhawatiran sejumlah konsumen mengenai obesitas dan kesehatan menyebabkan pengawasan yang lebih besar terhadap bahan-bahan yang digunakan oleh merk-merk besar, tambahnya.

Hal ini menyebabkan merk-merk besar, seperti Coca-Cola dan Pepsi, berupaya meluncurkan produk minuman berkalori rendah dengan menggunakan pemanis alami.

Coke baru-baru ini merilis Coca-Cola Life, yang terbuat dari pemanis stevia dan mengandung 27 kalori per 100 mililiter. Jumlah itu lebih rendah jika dibandingkan dengan Coke biasa yang memiliki 42 kalori per 100 mililiter.

Meski penjualan minuman bersoda menurun, secara keseluruhan pemasaran minuman di AS mengalami kenaikan sebesar 2,2%, menurut Beverage Marketing Corporation.

Lembaga konsultan minuman itu menambahkan bahwa bisnis minuman AS meraup keuntungan senilai US$160 miliar pada 2014. (BBC Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.