Rabu, 29 September 21

Ciliwung, Dulu Segar Sekarang Tercemar

Ciliwung, Dulu Segar Sekarang Tercemar
* Sungai Ciliwung tercemar sampah. (kaukus)

Jakarta, Obsessionnews – Nama sungai terpenting di Pulau Jawa ini, adalah Ci Liwung. Namun, kebanyakan orang menulisnya Ciliwung. Pentingnya aliran sungai ini, lantaran melintasi wilayah DKI Jakarta, bahkan sering merendam ibukota saat banjir tahunan melanda.

Pada sastra tutur bahasa Sunda, legenda dan Pantun Bogor, disebut sebagai Tjihaliwung. Artinya, manusia telah menjadi liwung atau bingung. Kisahnya, banyak ditulis berupa guguritan kalimat pupuh yang dinyanyikan. Dalam kisah berbentuk pantun Lutung Kasarung, nama Ciliwung juga sering disebut-sebut.

Ada juga pendapat yang menyebut nama Ciliwung diambil dari seorang raja bernama Prabu Susuktunggal atau Prabu Haliwungan yang dikisahkan dalam cerita Parahiyangan.

Situs www.Jakarta.go.id menyebutkan, Ciliwung melintang dari kawasan Gunung Pangrango, Gunung Gede, Puncak Bogor, dan bermuara di daerah Luar Batang, Jakarta Utara, sepanjang 120 kilometer dengan daerah tangkapan air seluas 387 kilometer.

Ciliwung1

Ciliwung Zaman Dulu

Dahulu kala, orang Belanda menyebut sungai ini dengan nama Molenvliet dan merupakan tempat di mana kompeni pertama kali membangun kastil di tepi timur muara, serta menjadi tempat Pelabuhan Sunda Kalapa.

Pada masa awal Batavia, perahu kecil pengangkut barang bisa berlayar di Ciliwung dari gudang dekat Kali Besar, ke kapal yang bersandar di pelabuhan Sunda Kelapa. Namun, pada pertengahan 1930 mengalami pengendapan. Akibatnya, harus dibangun parit sepanjang 800 meter menuju laut yang secara rutin digali guna melancarkan aliran air.

Pada tahun 1827, panjang parit ditambah hingga 1.350 meter dari muara akibat pasir dan lumpur terus menumpuk lantaran gempa bumi pada Januari 1699.

Cabang sungai Ciliwung yang bermuara ke samudera juga pernah dijadikan jalan masuk menuju kastil dari kanal ke waterpoort. Pembangunan Molenvliet, juga dihubungkan dengan sungai ini sebagai sumber tenaga bagi berbagai industri.

Kalau dulu airnya bersih, bahkan menjadi sumber kehidupan warga di sekitarnya, namun sejak tahun 1740, airnya mulai dianggap tidak sehat akibat segala macam sampah serta limbah yang dibuang begitu saja ke aliran sungai. Dan, tak sedikit warga menderita disentri dan kolera.

Air sungai yang sempat menjadi sumber air minum hingga abad ke 19 juga memicu tingginya angka kematian di kalangan warga Batavia saat itu. Terutama warga pendatang dari Eropa.

Selain menjadi sumber air minum, pada masa itu Ciliwung juga sering jadi arena pagelaran tahunan Pek Cun atau perayaan perahu hias bagi keturunan Tiongkok di Batavia. Sekarang, air sudah keruh lantaran sering dijadikan bak besar tempat limbah dibuang. Pencemarannya, kian parah lantaran pabrik dan tempat usaha di sekitar Depok, Jawa Barat disebut-sebut sebagai penyumbang limbah utama.

Ciliwung2

Upaya Normalisasi Ciliwung

Sejak 30 Januari 2015, Pendam Jaya Jayakarta memprakarsai pembenahan aliran sungai Ciliwung. Alasan utamanya, ya itu tadi. Pencemaran dan pendangkalan badan sungai.

Kapten Iwan Setiawan sebagai Koordinator Pembersihan saat ditemui obsessionnews.com di aliran Ciliwung Balekambang, Jakarta Timur, pada akhir kegiatan, Minggu (14/6) mengatakan, upaya normalisasi kali Ciliwung ini dibagi menjadi tiga sektor yakni Depok, Jawa Barat, mulai dari Bojong Gede sampai TB Simatupang, sektor dua mulai dari kawasan TB Simatupang, sampai Manggarai, Jakarta Selatan.

Sektor satu, diisi anggota TNI dari Kodim Depok serta Korps Pasukan Khusus (Kopasus). Sementara sektor dua, berisi pasukan dari Rindam Jaya, Kodim Jakarta Timur dan Jakarta Selatan.

Sementara itu, di sektor tiga berisi tiga Komando Distrik Militer (Kodim) yakni Jakarta Pusat, Jakarta Barat, serta Jakarta Utara, mulai dari Manggarai Jakarta Selatan, hingga ke tepi laut di sebelah utara ibukota.

Selain bekerja dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pendam Jaya Jayakarta juga melibatkan mahasiswa yang mau menjadi relawan. Bahkan pada Rabu (10/6) lalu, sebanyak 25 orang jurnalis dari berbagai media massa juga turut ambil bagian.

Ciliwung di Gunung Salak, Bogor Pada Abad 19
Ciliwung di Gunung Salak, Bogor Pada Abad 19

Kendala Normalisasi

Kapten Iwan bilang, hambatan yang paling sering dihadapi saat melaksanakan operasi pembersihan Ciliwung, adalah masih banyak warga yang melempar sampah rumah tangganya ke badan sungai.

“Kadang-kadang kita kerja di bawah, ada yang lempar dari atas,” kata Iwan.

Makanya, aparat dari Pendam Jaya Jayakarta bersama Pemprov DKI Jakarta, juga menggelar sosialisasi Perda nomor 13 tahun 2013 tentang larangan buang sampah di badan sungai. Caranya, mengumpulkan warga di Balai Kelurahan dan Kecamatan pada tahap pertama. Sementara pada tahap kedua kegiatan normalisasi Ciliwung, sosialisasi disampaikan dari pintu ke pintu.

“Kita tempel selebaran. Respon masyarakat ada yang pro ada yang kontra. Tapi sekarang sudah ada dampak positif terutama di Kampung Pulo. Yang kontra, mereka tidak mau direlokasi karena mau diganti rugi saja,” jelas Kapten Iwan.

Sekedar catatan, di kawasan Jakarta Timur saja, Ciliwung melintasi 32 Rukun Warga dan 117 Rukun Tetangga di delapan Kelurahan serta empat Kecamatan.

Selain mengangkut sampah, dikerjakan juga pengerukan sedimen seperti yang dilakukan tahun 1827 lalu. Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung dan Cisadane juga dilibatkan.

Ciliwung masa lalu
Ciliwung masa lalu

Asal tahu saja, sebelum dilakukan upaya pembersihan, badan Ciliwung dipenuhi sampah yang menyesak. Bahkan menurut Iwan, untuk menyeberanginya tak diperlukan jembatan atau rakit. Sebab jumlahnya tak terhitung bahkan mengeras.

“Jadi bisa kita jalan di atasnya waktu itu,” kata dia.

Sementara itu, Abdul Kodir, warga asli Condet, Jakarta Timur, yang juga pegiat komunitas Ciliwung mengatakan, jauh hari sebelum perkumpulan tersebut berdiri, memang sampah terbilang banyak. Tapi untuk mengukurnya, agak sulit.

Komunitas Ciliwung yang berdiri sejak tahun 2004 sendiri, fokus pada persoalan konservasi lingkungan. Jaringannya kini, sudah sampai ke hulu sungai di daerah Bogor.

Kodir mengakui, di bibir sungai memang banyak berdiri pabrik-pabrik kecil yang membuang limbahnya langsung ke aliran. Makanya, Ciliwung yang normal harus segera dikembalikan fungsinya seperti semula. Sebab bakal lahir multimanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan terhadap sungai ini.

Sekarang, Ciliwung sudah bersih. Iwan dan Kodir berharap, warga tak lagi melempar sampah rumah tangga ke badan kali. Bagi industri yang berlokasi di sekitar Ciliwung juga dihimbau begitu. Namun soal sangsi bagi pelanggar, biar Pemerintah setempat yang memberikannya. (Mahbub Junaidi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.