Minggu, 4 Desember 22

Chaos! Negara Kurang Uang, Warga Serbu Bank Tarik Tabungan

Chaos! Negara Kurang Uang, Warga Serbu Bank Tarik Tabungan

Lebanon kini menghadapi krisis. Salah satu negara di Timur Tengah itu semakin kekurangan uang tunai dalam beberapa pekan terakhir.

Akibatnya muncul lonjakan deposan yang menyerbu cabang-cabang bank untuk secara paksa menarik tabungan mereka yang terkunci agar dapat tetap memutarkan ekonomi. Para deposan menyerbu setidaknya empat bank, dua di antara mereka bahkan dilengkapi dengan senjata.

Bank-bank Lebanon yang kekurangan uang telah memberlakukan batasan informal pada penarikan tunai sejak akhir 2019. Sejak itu, tiga perempat populasi jatuh ke dalam kemiskinan, dan pound Lebanon kehilangan sekitar 90% nilainya terhadap dolar.

Seorang anggota parlemen Lebanon memasuki cabang bank di dekat Beirut. Ia menuntut sebagian dari tabungannya yang terperangkap untuk menutupi biaya pengobatan.

Legislator Beirut Cynthia Zarazir memasuki cabang Bank Byblos di dekat ibu kota, menuntut US$8.500 (Rp129 juta) dari tabungannya untuk menutupi biaya operasi. Anggota parlemen reformis itu tiba dengan seorang pengacara, dan bernegosiasi dengan manajemen cabang bank selama beberapa jam.

“Saya seorang warga negara Lebanon yang menuntut hak-hak saya dalam situasi luar biasa ini,” kata Zarazir kepada pers dan para pengamat, mengutip Associated Press (AP News), dikutip Kamis (6/10/2022).

Pengacaranya, Fouad Debs, anggota kelompok hukum dan advokasi Serikat Deposan, mengatakan bahwa bank awalnya mengusulkan proposal “konyol” untuk menarik tabungan dalam pound Lebanon di sebagian kecil dari nilai dolarnya.

Beberapa jam kemudian, Zarazir meninggalkan bank setelah mendapatkan uang yang dia butuhkan untuk operasinya. Sementara itu, puluhan pengunjuk rasa bentrok dengan polisi anti huru hara di kantor pusat Bank Sentral di Beirut. Para pengunjuk rasa melemparkan batu dan bom molotov ke arah gedung, dan membakar di depan pintu masuk.

Di Byblos, seorang pria menembakkan senapan serbu ke fasad kaca cabang bank, setelah karyawan tidak mengizinkannya masuk tanpa janji.

Seorang pria lain menyerbu cabang bank di pinggiran selatan Beirut, Dahiyeh. Ia menuntut sebagian dari tabungannya yang terperangkap. Menurut kelompok advokasi deposan, dia tidak bersenjata.

Akibat ketatnya bank-bank pada permintaan tunai, orang mulai nekat hingga merampok bank. Masyarakat umum bahkan memuji aksi tersebut dan menyebut para pelaku sebagai pahlawan.

Di antara kasus yang paling menonjol adalah Sally Hafez, yang bulan lalu menyerbu cabang bank Beirut dengan pistol palsu dan tabung bensin untuk mengambil sekitar US$13.000 (Rp197 juta). Ini untuk mendanai pengobatan kanker saudara perempuannya yang berusia 23 tahun.

Sementara itu bank-bank mengutuk tindakan para deposan yang marah. Dalam sebuah pernyataan Selasa, mereka mengatakan bahwa pemerintah Libanon yang harus disalahkan atas krisis tersebut.

Bulan lalu, bank-bank ditutup selama seminggu setelah setidaknya tujuh bank digerebek dan sejak itu hanya dibuka kembali sebagian.

Selama lebih dari dua tahun Lebanon telah berjuang untuk mencapai kesepakatan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk program bailout. Baik IMF dan PBB sama-sama mengkritik Lebanon karena kemajuannya yang lamban.

Pemerintah negara dan parlemen Lebanon terbagi telah menghentikan sekitar selusin reformasi wajib sejak mereka mencapai kesepakatan tentatif pada April. Ini termasuk merestrukturisasi banknya, menerapkan kontrol modal formal, dan mereformasi undang-undang kerahasiaan bank yang sudah ketinggalan zaman. (CMBCIndonesia/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.