Senin, 24 Februari 20

Cerita Chaerul Belum Pernah Naik Pesawat, Tapi Sukses Buat Pesawat

Cerita Chaerul Belum Pernah Naik Pesawat, Tapi Sukses Buat Pesawat
* Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengundang Chaerul ke Istana. (Foto: Humas KSP)

Jakarta, Obsessionnews.com – Prestasi membanggakan diraih pemuda asal Pinrang, Sulawesi Selatan, bernama Chaerul. Pria yang hanya lulusan SD ini mampu membuat pesawat terbang sendiri berjenis Ultralight.

Setelah empat kali gagal dalam uji coba, pesawat buatanya akhirnya berhasil mengudara di Pantai Ujung Tape, Kecamatan Mattiro Sompe, Kabupaten Pinrang, Rabu (15/1/2020) lalu.

Keberhasilan Chaerul menerbangkan pesawat miliknya mendapat sambutan meriah dari warga sekitar yang ikut menyaksikan. Warga ikut bangga karena Chaerul yang sehari-hari bekerja sebagai montir bengkel dan belum pernah naik pesawat terbang, tapi dirinya malah mampu membuat pesawat terbang.

Rupanya saat ditemui wartawan, Chaerul mengaku hanya belajar dari YouTube untuk merakit pesawat tersebut. Begitu juga cara menerbangkan pesawat itu, ia pelajari secara otodidak dari tutorial di YouTube.

“Belajar dari Youtube. Kebanyakan channel luar negeri,” kata Chaerul usai bertemu dengan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (20/1/2020) lalu.

“Bahkan jadi pilot pun dari YouTube semua,” tambahnya.

Dengan penuh percaya diri, Chaerul nekat mencoba merakit pesawat dengan sejumlah barang-barang bekas seperti mesin sepeda motor Ninja. Dia harus merogoh kocek sekitar Rp 30 juta yang berasal dari dana pribadinya.

Bagi dia, peristiwa ini menjadi pengalaman sejarah yang tak akan pernah ia lupakan. Selain belum pernah naik pesawat sebagai penumpang, Chaerul juga belum pernah merasakan menjadi pilot. Tapi dia mampu mengoperasikan pesawat buatanya dengan baik.

Karenanya, ia mengakui sempat deg-degan saat mencoba terbang untuk kali pertama. Chaerul pun harus beberapa kali gagal terbang. Bahkan dalam uji coba penerbanganya, pesawat miliknya pernah jatuh ke laut.

“Itu (menerbangkan pesawat) yang sulit. Tapi tes uji cobanya sempat tiga kali, terbang, jatuh lagi. Parah, saya luka dan pesawatnya diperbaiki lagi,” ujar dia.

Baru setelah 5 kali percobaan, pesawat yang dirakit Chaerul berhasil mengudara. Pesawat itu terbang setinggi 10-12 meter. Sorakan tepuk tangan dan teriakan kegembiraan terdengar sesaat setelah pesawat tersebut berhasil berkeliling di atas permukaan laut Ujung Tape, Kecamatan Mattiro Sompe, Kabupaten Pinrang.

Kisah Chaerul yang berhasil merakit pesawat dari barang bekas membuat Moeldoko tertarik untuk mengundangnya ke Istana. Sebelumnya, ia juga diundang Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna untuk menjajal pesawat TNI AU di Halim Perdanakusuma.

Moeldoko mengaku kagum dengan semangat dan bakat Chaerul dalam merakit pesawat dari barang bekas. Mantan Panglima TNI itu mengatakan, pesawat yang dirakit Chaerul memang sangat sederhana dan mengingatkannya pada pesawat pada era ’40-an.

Secara teknologi, pesawat itu memang ketinggalan. Namun, Moeldoko mengaku salut dengan semangat pria yang tak tamat sekolah dasar ini. “Tadi saya sudah melihat videonya pesawat yang dia bikin sendiri, dari otodidak, belajar sendiri. Dan melalui perjuangan yang keras. Lima kali uji coba alhamdulillah pada uji coba yang kelima bisa terbang,” kata Moeldoko.

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau), Marsma TNI Fajar Adriyanto menyebut TNI AU akan membina Chaerul agar bisa merakit dan menerbangkan pesawat secara aman dan tak menyalahi regulasi.

“Sebenernya kan ini pesawat terbang tanpa regulasi dan sebagainya, nah kami wadahi dalam Federasi Aerosport Indonesia (FASI) sehingga di sana kan ada pesawat swayasa, rakitan, kami akan ajak dia untuk bergabung,” ucap Fajar.

Fajar yang juga seorang pilot mengaku kagum dengan tekad dan bakat yang ditunjukkan Chaerul. Ia mengakui menerbangkan dan merakit pesawat bukan lah hal yang mudah. Namun, Chaerul bisa melakukannya hanya dengan belajar dari YouTube.

“Ini salah satu penggunaan medsos yang positif. Jadi youtube ditonton untuk dipelajari, bukan untuk hal-hal lain,” kata Fajar. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.