Selasa, 21 September 21

Cegah Terorisme Lewat Media Massa

Cegah Terorisme Lewat Media Massa

Semarang, Obsessionnews – Berbagai pemberitaan media massa terus mengalirkan isu radikalisme dan terorisme yang bergulir dalam bentuk headlines di web, cetak ataupun saluran televisi. Mau tidak mau, pers secara tidak langsung dapat dikatakan ikut andil mewarnai keberlangsungan hidup organ teroris diseluruh dunia.

Menanggapi hal itu, Journalist Creative Community menggelar diskusi bagi para wartawan dengan tema “Peran Media Massa Dalam Bela Negara Mencegah Radikalisme dan Terorisme” yang diselenggarakan di Kesbangpolinmas Jateng, Jum’at (4/12/2015).

Dikatakan, selama tahun 2000-2014, sebanyak 950 orang pelaku terorisme berada di Indonesia. 349 orang diantaranya telah divonis dan 380 lain telah dibebaskan. Penyebab terorisme sendiri terbagi menjadi dua jenis, dimensi agama dan non agama.

“Dimensi agama itu pemutlakan hasil penafsiran dan pemahaman keagamaan. Sedangkan dimensi non agama lebih kepada faktor politik, balas dendam dan kemiskinan,” ujar Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jateng, Najahan Musyafak saat membeberkan presentasi.

Media massa, lanjutnya, memiliki posisi strategis dalam maju mundurnya suatu kegiatan radikalisme. Sebab, dari hasil studi yang FKPT lakukan, banyak mantan teroris yang sudah diredikalisasi kesulitan untuk kembali ke masyarakat karena pemberitaan massif tentang dirinya.

“Beberapa kawan kami yang sempat tersesat, sulit untuk berbaur ke masyarakat setelah kami bina. Rata-rata dari mereka terlanjur dicap teroris,” terangnya.

Hal itu juga diakui mantan teroris yang sempat membuat gempar, yakni Machmudi Hariono atau dikenal dengan nama Yusuf. Kombatan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) ini mengaku sempat terpojokkan dengan pemberitaan media massa yang memuat seolah-olah dia bakal menyasar sejumlah titik usai dia ditangkap aparat.

“Saya yakin para mujahidin yang sudah jihad dan balik ke Indonesia tidak akan konflik karena disini bukan lahan konflik,” jelas pria yang saat ini menjadi pengusaha ini.

Meski begitu, dia menilai peran media massa tidak hanya sebagai bentuk penghukuman saja. Proses pengembalian teroris ke masyarakat dapat sangat terbantu jika media memberitakan sisi positif pelaku terorisme usai dia lepas dari dunia tersebut.

“Bila media ingin membantu mereka (jihadis) kembali ke masyarakat secara alami itu sangat bagus. (Karena) Ajakan kepada alumni teroris untuk kembali ke jalan jihadis tetap ada,” tuturnya sambil tersenyum.

Begitu pula Najahan menambahkan, pihaknya sangat terbuka bila media massa mau menjadi mitra strategis dalam proses pengembalian kepercayaan publik terhadap terpidana kasus terorisme. Terlebih, bela negara sebagai prinsip hidup haruslah ditekankan agar rasa kepemilikan kepada Indonesia semakin kuat.

“Langkah antisipatif dengan menjadikan gerakan radikal sebagai common enemy (musuh bersama). Namun tetap merespon secara arif secara bijaksana dan tegas,” tutupnya.

Acara yang berlangsung sekitar dua jam ini dihadiri sejumlah wartawan baik lokal maupun nasional. Diharapkan, melalui kegiatan, media mampu menyajikan berita yang tidak hanya selalu memojokkan teroris, namun juga membantu mereka keluar dari lubang gelap. (Yusuf IH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.