Rabu, 25 November 20

Cegah Corona, Uni Eropa Ditutup Sebulan bagi Pengunjung

Cegah Corona, Uni Eropa Ditutup Sebulan bagi Pengunjung
* Peta wilayah Uni Eropa

Uni Eropa akan melarang pengunjung dari luar Uni Eropa selama 30 hari, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, di tengah krisis pandemi Covid-19.

Langkah ini berlaku untuk 26 negara Uni Eropa serta Islandia, Liechtenstein, Norwegia dan Swiss. Warga negara Inggris menyatakan tidak akan terpengaruh kebijakan ini.

Eropa terdampak cukup parah oleh pandemi yang telah menewaskan 7.500 orang secara global.

Sementara itu, kompetisi sepakbola Piala Eropa 2020 ditunda satu tahun.

Virus ini telah menginfeksi lebih dari 185.000 orang di seluruh dunia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia, WHO.

Apa yang akan dilakukan Uni Eropa?
Larangan perjalanan ini akan memengaruhi semua warga negara non-Uni Eropa yang akan mengunjungi wilayah itu, kecuali penduduk yang telah tinggal lama di sana (long-term resident), anggota keluarga warga negara Uni Eropa dan diplomat, pekerja lintas batas dan layanan kesehatan, dan orang yang mengangkut barang.

Perjalanan gratis di wilayah Uni Eropa adalah suatu hal yang digemari banyak orang, karena dengan visa Schengen, mereka bisa mengelilingi wilayah itu.

Tetapi dalam beberapa hari terakhir, banyak negara secara sepihak memberlakukan penutupan perbatasan penuh atau sebagian dalam upaya menghentikan penyebaran virus corona.

Hal itu mendorong komisi Uni Eropa untuk mengusulkan agar blok itu bertindak bersamaan dan membatasi masuknya orang-orang non-Uni Eropa secara keseluruhan, atas desakan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Langkah-langkah tersebut disepakati dalam konferensi video antara para pemimpin Uni Eropa Selasa (17/3) sore, dan akan dilaksanakan oleh negara-negara anggota.

“(Pemimpin) negara-negara itu mengatakan akan segera melakukan itu,” kata Ketua Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen pada konferensi pers seperti dilansir BBC News, Kamis (19/3).

“Ini bagus, sehingga kita memiliki pendekatan dengan suara bulat dan bersatu [di mana] perbatasan eksternal menjadi persoalan.”

Inggris dan Republik Irlandia – yang bukan merupakan bagian dari Schengen – akan diundang untuk bergabung dalam langkah tersebut.

Penting juga bahwa Uni Eropa “membuka blokir” sehubungan dengan perbatasan internal yang tertutup, kata Von der Leyen, karena “terlalu banyak orang yang tidak bisa meneruskan perjalanan”.

Keadaan di Italia Parah
Sejumlah negara di Eropa, khususnya Italia, sangat terdampak wabah virus corona. Lebih dari 2.000 orang telah meninggal dunia akibat penyakit itu di Italia.

Sebelumnya, wartawan BBC World Service, memberitakan wajah Italia yang terlihat berbeda setelah terjadinya wabah corona.

Jalanan dan restoran kosong. Bioskop dan museum ditutup. Hanya apotek dan swalayan yang buka dan disesaki pengunjung.

Pemerintah Italia memutuskan untuk menutup wilayah mereka secara nasional untuk menanggulangi penyebaran virus corona. Warga Italia tidak diizinkan berpergian kecuali untuk alasan gawat darurat atau pekerjaan tertentu.

Setiap orang yang terbukti melanggar larangan itu dapat dijatuhi denda atau dipenjara. “Setiap orang harus mengalah untuk melindungi kesehatan publik,” ujar Perdana Menteri Giuseppe Conte.

Meski begitu, mendorong penduduk negara ini untuk merelakan sementara kehidupan yang menyenangkan bukan perkara mudah.

Perasaan publik
Italia adalah negara dengan tradisi Katolik kental. Sebagian warga mereka masih sulit menerima bahwa gereja dilarang menggelar misa walau mereka masih tetap boleh membuka gereja untuk umat. Paus Francis pun menyampaikan kotbah mingguannya melalui video.

“Ini tidak pernah terjadi sebelumnya,” kata Laura, warga Roma. “Bahkan selama Perang Dunia II, kami masih bisa mengikuti misa setiap Minggu dan merasakan keberadaan sebuah komunitas. Akan tetapi sekarang saya merasa terisolasi,” ujar Paus.

Konsekuensi yang paling menyakitkan adalah larangan menyelenggarakan pemakaman. Hanya seremoni penguburan singkat dengan jumlah orang terbatas yang diizinkan–itu pun tanpa misa requiem.

Masyarakat Italia dilarang saling berpelukan atau bersentuhan tangan. Satu meter adalah jarak aman yang wajib ditaati jika warga saling berjumpa.

Mengubah perilaku alami secara drastis tidak mudah bagi kebanyakan orang Italia. Butuh waktu untuk meyakinkan mereka bahwa penyebaran virus corona harus ditanggapi secara serius.

Melanggar aturan
Pekan lalu, ketika wilayah karantina masih terbatas di sejumlah wilayah bagian Italia utara, muncul kemarahan di kalangan muda-mudi di kawasan Italia lainnya.

Meski penduduk lanjut usia pada umumnya waspada, banyak warga Italia di bawah 30 tahun tetap beraktivitas di luar ruangan secara normal, termasuk menyantap ikan di pinggir pantai pada Minggu siang.

“Saya ingin melanjutkan hidup secara normal,” kata Francesco, warga Napoli. “Kami muda dan tidak mungkin terjangkit virus,” tuturnya.

Banyak warga Italia di sosial media mengutuk perilaku semacam itu sebagai sebuah keegoisan dan hal yang tidak bertanggung jawab.
Tagar #iostoacasa dan kalimat “Saya bertahan di rumah” digunakan untuk mendorong publik Italia tidak berpergian.

Walau penutupan wilayah di Italia diperluas secara nasional, sejumlah laporan menyebut semakin banyak orang yang melanggar ketentuan tersebut. (*/BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.